digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800


COVER Louisa Yovela
Terbatas  Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 1 Louisa Yovela
Terbatas  Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 2 Louisa Yovela
Terbatas  Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 3 Louisa Yovela
Terbatas  Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 4 Louisa Yovela
Terbatas  Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 5 Louisa Yovela
Terbatas  Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan

PUSTAKA Louisa Yovela
Terbatas  Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan

Produksi protein konvensional menjadi penyumbang emisi gas rumah kaca secara global, larva lalat tentara hitam atau LLTH (Hermetia illucens L.) dapat dijadikan salah satu alternatif yang berpotensi dikembangkan menjadi sumber protein yang berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan waktu fermentasi optimum, kadar protein, perolehan kembali protein, dan derajat hidrolisis tepung LLTH bebas lemak dengan variasi waktu fermentasi 0, 1, 2, 3, dan 4 hari. Fermentasi substrat padat dilakukan dengan rasio tepung LLTH, air, dan inokulum Bacillus cereus sebesar 1 : 1,25 : 0.1. Selanjutnya, protein diekstraksi menggunakan ekstraksi alkali (NaOH 0,25M), dipresipitasi asam, dan dihidrolisis secara enzimatik menggunakan enzim bromelain. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Bacillus cereus memiliki nilai laju pertumbuhan spesifik (?) sebesar 0,37 jam-1 dengan waktu penggandaan sebesar 1,85 jam pada substrat padat LLTH. Kadar protein kasar mengalami peningkatan menjadi 62,85 ± 0,15% di hari ke-4 seiring bertambahnya waktu fermentasi. Kemudian, hasil ekstraksi protein menggunakan alkali menunjukkan adanya peningkatan nilai perolehan kembali protein tertinggi pada hari ke-2 fermentasi yaitu sebesar 66,57 ± 0,03% dari 42,74%. Hidrolisis enzimatik dengan enzim bromelain selama 24 jam pada tiap variasi waktu menunjukkan nilai derajat hidrolisis sebesar 35,90 – 62,66%. Secara keseluruhan, waktu fermentasi mempengaruhi karakteristik protein LLTH yang ditandai dengan adanya peningkatan kadar protein, serta memberikan tren yang berbeda terhadap perolehan kembali protein dan derajat hidrolisis yang mengindikasikan adanya kondisi optimum pada waktu fermentasi tertentu.