digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Perkembangan kawasan perkotaan yang berlangsung secara pesat sebagai dampak dari pertumbuhan penduduk dan urbanisasi telah mendorong meningkatnya kebutuhan pembangunan infrastruktur. Namun, pembangunan yang berlangsung secara intensif sering kali kurang diimbangi dengan pengelolaan lingkungan yang memadai. Dampaknya, ruang terbuka hijau seringkali semakin berkurang akibat adanya perubahan penggunaan lahan menjadi kawasan terbangun. Hal ini juga dapat menyebabkan adanya keseimbangan hidrologi perkotaan yang menjadi terganggu akibat menurunnya kemampuan tanah dalam menyerap air. Kondisi ini memperbesar risiko terjadinya banjir dan genangan, terutama pada kota-kota dengan karakteristik fisik yang rentan. Kota Pontianak menjadi salah satu wilayah yang menghadapi tantangan ini karena topografinya cenderung datar dan sangat dipengaruhi oleh keberadaan Sungai Kapuas beserta jaringan sungai lainnya. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan perencanaan yang mampu mendukung pengelolaan air perkotaan secara berkelanjutan. Konsep Infrastruktur Hijau Biru (IHB) hadir sebagai solusi potensial yang mengintegrasikan fungsi ekologis dan hidrologis untuk membantu mengendalikan banjir sekaligus meningkatkan kualitas lingkungan kota. Berdasarkan kondisi tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis dan lokasi potensial penerapan IHB di Kota Pontianak. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif melalui pendekatan spasial dan Multi-Criteria Decision Making (MCDM) yang mengintegrasikan analisis spasial dengan metode Analytical Network Process (ANP). Data penelitian diperoleh melalui penghimpulan data sekunder yang bersumber dari studi literatur, dokumen perencanaan, peraturan perundang-undangan, peta tematik, serta berbagai dokumen pendukung lainnya yang berkaitan dengan penerapan IHB. Selain itu, data penelitian data yang digunakan pada penelitian ini juga didapatkan dari hasil penyebaran kuesioner kepada responden ahli yang dianggap relevan dengan topik yang diteliti. Penentuan kriteria dilakukan berdasarkan hasil kajian literatur yang kemudian divalidasi melalui penilaian para ahli menggunakan metode ANP untuk memperoleh bobot prioritas setiap kriteria dan subkriteria. Selanjutnya, bobot tersebut diintegrasikan dengan analisis spasial menggunakan teknik weighted overlay sehingga menghasilkan peta kesesuaian lokasi penerapan IHB berdasarkaniv karakteristik ekonomi, fisik, lingkungan dan ekonomi. Pendekatan ini memungkinkan berbagai kriteria dengan tingkat kepentingan yang berbeda untuk dipertimbangkan dalam proses pengambilan keputusan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi anatar pendekatan spasial dan pendekatan MCDM mampu mengakomodasi berbagai kriteria yang saling berhubungan dalam proses identifikasi lokasi potensial penerapan IHB sehingga dapat digunakan sebagai dasar yang sistematis dalam mendukung proses perencanaan. Hasil analisis karakteristik wilayah menunjukkan bahwa kondisi fisik Kota Pontianak relatif homogen, ditandai dengan dominasi kemiringan lereng pada klasifikasi datar hingga landai serta jenis tanah yang hanya didominasi oleh organosol dan aluvial. Selain itu, diketahui bahwa karakteristik hidrologi Kota Pontianak yang dipengaruhi oleh Sungai Kapuas serta jaringan drainase lainnya, menyebabkan beberapa wilayah memiliki tingkat kerentanan yang cukup tinggi terhadap banjir dan genangan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa Kota Pontianak memiliki potensi yang cukup baik untuk mengembangkan IHB sebagai bagian dari strategi pengelolaan air perkotaan yang lebih berkelanjutan. Berdasarkan hasil analisis weighted overlay, diperoleh beberapa kawasan yang termasuk ke dalam kategori “cukup sesuai” untuk penerapan IHB berupa lahan basah buatan (constructed wetlands), kolam retensi, dan kolam detensi. Meskipun demikian, implementasi pada lokasi-lokasi tersebut masih memerlukan penyesuaian terhadap karakteristik biofisik, kondisi penggunaan lahan eksisting, serta aspek teknis lainnya agar fungsi ekologis dan hidrologis Infrastruktur Hijau Biru dapat berjalan secara optimal. Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa integrasi metode ANP dengan analisis spasial dapat menjadi pendekatan yang komprehensif dalam mendukung penentuan jenis dan lokasi potensial penerapan IHB. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi referensi bagi Pemerintah Kota Pontianak serta para pemangku kepentingan dalam menyusun kebijakan dan strategi pengembangan Infrastruktur Hijau Biru sebagai bagian dari upaya mewujudkan kota yang lebih tangguh, adaptif terhadap banjir, dan berkelanjutan.