Perkembangan kawasan perkotaan yang berlangsung secara pesat sebagai dampak
dari pertumbuhan penduduk dan urbanisasi telah mendorong meningkatnya
kebutuhan pembangunan infrastruktur. Namun, pembangunan yang berlangsung
secara intensif sering kali kurang diimbangi dengan pengelolaan lingkungan yang
memadai. Dampaknya, ruang terbuka hijau seringkali semakin berkurang akibat
adanya perubahan penggunaan lahan menjadi kawasan terbangun. Hal ini juga
dapat menyebabkan adanya keseimbangan hidrologi perkotaan yang menjadi
terganggu akibat menurunnya kemampuan tanah dalam menyerap air. Kondisi ini
memperbesar risiko terjadinya banjir dan genangan, terutama pada kota-kota
dengan karakteristik fisik yang rentan. Kota Pontianak menjadi salah satu wilayah
yang menghadapi tantangan ini karena topografinya cenderung datar dan sangat
dipengaruhi oleh keberadaan Sungai Kapuas beserta jaringan sungai lainnya. Oleh
karena itu, diperlukan pendekatan perencanaan yang mampu mendukung
pengelolaan air perkotaan secara berkelanjutan. Konsep Infrastruktur Hijau Biru
(IHB) hadir sebagai solusi potensial yang mengintegrasikan fungsi ekologis dan
hidrologis untuk membantu mengendalikan banjir sekaligus meningkatkan kualitas
lingkungan kota. Berdasarkan kondisi tersebut, penelitian ini bertujuan untuk
mengidentifikasi jenis dan lokasi potensial penerapan IHB di Kota Pontianak.
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif melalui pendekatan
spasial dan Multi-Criteria Decision Making (MCDM) yang mengintegrasikan
analisis spasial dengan metode Analytical Network Process (ANP). Data penelitian
diperoleh melalui penghimpulan data sekunder yang bersumber dari studi literatur,
dokumen perencanaan, peraturan perundang-undangan, peta tematik, serta berbagai
dokumen pendukung lainnya yang berkaitan dengan penerapan IHB. Selain itu,
data penelitian data yang digunakan pada penelitian ini juga didapatkan dari hasil
penyebaran kuesioner kepada responden ahli yang dianggap relevan dengan topik
yang diteliti. Penentuan kriteria dilakukan berdasarkan hasil kajian literatur yang
kemudian divalidasi melalui penilaian para ahli menggunakan metode ANP untuk
memperoleh bobot prioritas setiap kriteria dan subkriteria. Selanjutnya, bobot
tersebut diintegrasikan dengan analisis spasial menggunakan teknik weighted
overlay sehingga menghasilkan peta kesesuaian lokasi penerapan IHB berdasarkaniv
karakteristik ekonomi, fisik, lingkungan dan ekonomi. Pendekatan ini
memungkinkan berbagai kriteria dengan tingkat kepentingan yang berbeda untuk
dipertimbangkan dalam proses pengambilan keputusan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi anatar pendekatan spasial dan
pendekatan MCDM mampu mengakomodasi berbagai kriteria yang saling
berhubungan dalam proses identifikasi lokasi potensial penerapan IHB sehingga
dapat digunakan sebagai dasar yang sistematis dalam mendukung proses
perencanaan. Hasil analisis karakteristik wilayah menunjukkan bahwa kondisi fisik
Kota Pontianak relatif homogen, ditandai dengan dominasi kemiringan lereng pada
klasifikasi datar hingga landai serta jenis tanah yang hanya didominasi oleh
organosol dan aluvial. Selain itu, diketahui bahwa karakteristik hidrologi Kota
Pontianak yang dipengaruhi oleh Sungai Kapuas serta jaringan drainase lainnya,
menyebabkan beberapa wilayah memiliki tingkat kerentanan yang cukup tinggi
terhadap banjir dan genangan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa Kota
Pontianak memiliki potensi yang cukup baik untuk mengembangkan IHB sebagai
bagian dari strategi pengelolaan air perkotaan yang lebih berkelanjutan.
Berdasarkan hasil analisis weighted overlay, diperoleh beberapa kawasan yang
termasuk ke dalam kategori “cukup sesuai” untuk penerapan IHB berupa lahan
basah buatan (constructed wetlands), kolam retensi, dan kolam detensi. Meskipun
demikian, implementasi pada lokasi-lokasi tersebut masih memerlukan
penyesuaian terhadap karakteristik biofisik, kondisi penggunaan lahan eksisting,
serta aspek teknis lainnya agar fungsi ekologis dan hidrologis Infrastruktur Hijau
Biru dapat berjalan secara optimal. Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan
bahwa integrasi metode ANP dengan analisis spasial dapat menjadi pendekatan
yang komprehensif dalam mendukung penentuan jenis dan lokasi potensial
penerapan IHB. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi referensi bagi
Pemerintah Kota Pontianak serta para pemangku kepentingan dalam menyusun
kebijakan dan strategi pengembangan Infrastruktur Hijau Biru sebagai bagian dari
upaya mewujudkan kota yang lebih tangguh, adaptif terhadap banjir, dan
berkelanjutan.
Perpustakaan Digital ITB