digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Banjir perkotaan merupakan salah satu tantangan utama dalam pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS), terutama pada kawasan yang mengalami perubahan tata guna lahan, dan peningkatan intensitas pembangunan. Pendekatan pengendalian banjir umumnya masih berorientasi pada pembangunan infrastruktur tunggal berbasis rekayasa teknis (Grey Infrastructure) dan belum sepenuhnya mengakomodasi kompleksitas interaksi antara sistem biofisik, sosial, dan kelembagaan yang membentuk ketahanan suatu DAS. Oleh karena itu diperlukan suatu pendekatan yang mampu mengintegrasikan berbagai fungsi ekologi, sosial, dan teknis dalam menentukan lokasi intervensi yang paling efektif. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan dasar pertimbangan dalam penentuan lokasi prioritas dan jenis Blue Green Grey Infrastructure (BGGI) pada DAS Sario, yang termasuk dalam wilayah administrasi Kota Manado dan Kabupaten Minahasa melalui pendekatan Social Ecological Resilience (SER) dan Spatial Multi-Criteria Decision Analysis (SMCDA). Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian dilakukan dengan tiga sasaran dan tahapan analisis yaitu identifikasi kriteria dan subkriteria dengan analisis konten terhadap literatur relevan; identifikasi karakteristik fisik, sosial, lingkungan dan infrastruktur eksisting DAS Sario melalui analisis spasial berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG), serta identifikasi lokasi dan jenis BGGI melalui pembobotan kriteria dengan Analytical Network Process (ANP) yang diintegrasikan dengan analisis spasial melalui Teknik Weighted Overlay. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa pendekatan SER dapat dioperasionalisasikan menjadi kerangka spasial untuk menentukan lokasi dan jenis BGGI melalui 4 kriteria berupa keragaman fungsi dan sosial, konektivitas, kapasitas ekologi, dan kapasitas sosial yang kemudian diturunkan dalam 12 subkriteria. Hasil pembobotan oleh sembilan orang pakar menunjukkan kriteria kapasitas sosial memperoleh bobot tertinggi (0,347), diikuti keragaman fungsi dan sosial (0,269), konektivitas (0,203), dan kapasitas ekologi (0,182); sementara pada tingkat subkriteria, tipe tutupan lahan, dan keragaman jenis dan fungsi infrastruktur, serta kemampuan adaptif masyarakat menjadi tiga subkriteria dengan bobot prioritas tertinggi. Integrasi hasilii pembobotan dengan analisis spasial melalui Weighted Overlay menunjukkan bahwa sebaran lokasi dengan tingkat kesesuaian tertinggi untuk Blue-Green Infrastructure (BGI), Grey Infrastructure, maupun BGGI secara konsisten terkonsentrasi di kecamatan Wanea, Kota Manado. Uji sensitivitas terhadap subkriteria dengan tingkat kesepakatan dan peringkat pakar terendah menunjukkan hasil yang relative stabil, dimana perubahan bobot tidak menggeser lokasi prioritas secara signifikan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pendekatan yang mengintegrasikan SER dan SMCDA dapat menghasilkan kerangka pengambilan keputusan yang lebih komprehensif dalam menentukan lokasi dan jenis BGGI, dengan mempertimbangkan tidak hanya aspek fisik-teknis tapi juga kapasitas sosial dan ekologis kawasan. Rekomendasi penelitian diarahkan pada integrasi hasil pemetaan ke dalam dokumen perencanaan tata ruang, pengelolaan DAS, dan pengendalian banjir, dengan kecamatan Wanea sebagai lokasi prioritas awal implementasi, serta perlunya penguatan koordinasi lintas sekotor dan kapasitas Masyarakat. Penelitian ini diharapkan dapat berkontribusi pada pengembangan metode pengambilan keputusan spasual yang adaptif dalam perencanaan BGGI di kawasan DAS perkotaan.