Banjir perkotaan merupakan salah satu tantangan utama dalam pengelolaan Daerah
Aliran Sungai (DAS), terutama pada kawasan yang mengalami perubahan tata guna
lahan, dan peningkatan intensitas pembangunan. Pendekatan pengendalian banjir
umumnya masih berorientasi pada pembangunan infrastruktur tunggal berbasis
rekayasa teknis (Grey Infrastructure) dan belum sepenuhnya mengakomodasi
kompleksitas interaksi antara sistem biofisik, sosial, dan kelembagaan yang
membentuk ketahanan suatu DAS. Oleh karena itu diperlukan suatu pendekatan
yang mampu mengintegrasikan berbagai fungsi ekologi, sosial, dan teknis dalam
menentukan lokasi intervensi yang paling efektif. Penelitian ini bertujuan untuk
merumuskan dasar pertimbangan dalam penentuan lokasi prioritas dan jenis Blue
Green Grey Infrastructure (BGGI) pada DAS Sario, yang termasuk dalam wilayah
administrasi Kota Manado dan Kabupaten Minahasa melalui pendekatan Social
Ecological Resilience (SER) dan Spatial Multi-Criteria Decision Analysis
(SMCDA). Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian dilakukan dengan tiga
sasaran dan tahapan analisis yaitu identifikasi kriteria dan subkriteria dengan
analisis konten terhadap literatur relevan; identifikasi karakteristik fisik, sosial,
lingkungan dan infrastruktur eksisting DAS Sario melalui analisis spasial berbasis
Sistem Informasi Geografis (SIG), serta identifikasi lokasi dan jenis BGGI melalui
pembobotan kriteria dengan Analytical Network Process (ANP) yang
diintegrasikan dengan analisis spasial melalui Teknik Weighted Overlay.
Hasil Penelitian menunjukkan bahwa pendekatan SER dapat dioperasionalisasikan
menjadi kerangka spasial untuk menentukan lokasi dan jenis BGGI melalui 4
kriteria berupa keragaman fungsi dan sosial, konektivitas, kapasitas ekologi, dan
kapasitas sosial yang kemudian diturunkan dalam 12 subkriteria. Hasil pembobotan
oleh sembilan orang pakar menunjukkan kriteria kapasitas sosial memperoleh bobot
tertinggi (0,347), diikuti keragaman fungsi dan sosial (0,269), konektivitas (0,203),
dan kapasitas ekologi (0,182); sementara pada tingkat subkriteria, tipe tutupan
lahan, dan keragaman jenis dan fungsi infrastruktur, serta kemampuan adaptif
masyarakat menjadi tiga subkriteria dengan bobot prioritas tertinggi. Integrasi hasilii
pembobotan dengan analisis spasial melalui Weighted Overlay menunjukkan
bahwa sebaran lokasi dengan tingkat kesesuaian tertinggi untuk Blue-Green
Infrastructure (BGI), Grey Infrastructure, maupun BGGI secara konsisten
terkonsentrasi di kecamatan Wanea, Kota Manado. Uji sensitivitas terhadap
subkriteria dengan tingkat kesepakatan dan peringkat pakar terendah menunjukkan
hasil yang relative stabil, dimana perubahan bobot tidak menggeser lokasi prioritas
secara signifikan.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa pendekatan yang mengintegrasikan SER dan
SMCDA dapat menghasilkan kerangka pengambilan keputusan yang lebih
komprehensif dalam menentukan lokasi dan jenis BGGI, dengan
mempertimbangkan tidak hanya aspek fisik-teknis tapi juga kapasitas sosial dan
ekologis kawasan. Rekomendasi penelitian diarahkan pada integrasi hasil pemetaan
ke dalam dokumen perencanaan tata ruang, pengelolaan DAS, dan pengendalian
banjir, dengan kecamatan Wanea sebagai lokasi prioritas awal implementasi, serta
perlunya penguatan koordinasi lintas sekotor dan kapasitas Masyarakat. Penelitian
ini diharapkan dapat berkontribusi pada pengembangan metode pengambilan
keputusan spasual yang adaptif dalam perencanaan BGGI di kawasan DAS
perkotaan.
Perpustakaan Digital ITB