Pengolahan sampah adalah salah satu biaya utama yang dikeluarkan oleh otoritas lokal di negara berkembang. Usaha pengolahan sampah selain dapat memberikan manfaat dan biaya secara ekonomi juga dapat memberikan manfaat dan biaya bagi lingkungan. Berdasarkan hasil analisis, sampah yang dihasilkan Kota Pekanbaru mencapai 592.961 kg/hari. DLHK Kota Pekanbaru membangun fasilitas pengolahan sampah berupa rumah kompos, TPS-3R dan bank sampah. Fasilitas ini dapat mereduksi sampah sekitar 2.871,16 kg/hari atau 0,48% dari total timbulan sampah di sumber. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan skenario fasilitas pengolahan sampah Kota Pekanbaru dengan pendekatan Cost Benefit Analysis (CBA). Berdasarkan hasil analisis pada skenario A (kondisi eksisting fasilitas pengolahan sampah), diperoleh nilai net value yaitu Rp332.913.313 dengan nilai Benefit Cost Ratio (BCR) yaitu 1,62, sedangkan pada skenario B (optimasi fasilitas pengolahan sampah) diperoleh nilai net value yaitu Rp2.110.282.201 dengan nilai BCR yaitu 2,90 dan pada skenario C (pengembangan fasilitas pengolahan sampah) diperoleh nilai BCR pada Tahun 2025 adalah 2,19 dengan nilai Net Present Value (NPV) yaitu Rp17.044.293.215. Skenario fasilitas pengolahan sampah yang memiliki nilai NPV paling tinggi adalah skenario C, sedangkan yang memiliki nilai BCR tertinggi adalah skenario B. Nilai net value dan NPV yang positif serta BCR> 1 menunjukkan bahwa setiap skenario fasilitas pengolahan sampah Kota Pekanbaru layak untuk dioperasionalkan dan memberikan keuntungan secara ekonomi. Hal ini dikarenakan dengan memasukkan perhitungan valuasi lingkungan, maka komponen manfaat dari usaha pengolahan sampah akan bernilai lebih besar daripada komponen biaya yang dikeluarkan, dengan nilai komponen manfaat langsung yang paling tinggi adalah retribusi pasar pada rumah kompos, sedangkan nilai komponen manfaat tidak langsung yang paling tinggi adalah manfaat dari pengurangan biaya dampak kesehatan.
Perpustakaan Digital ITB