ABSTRAK Krisnaputra
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 1 Krisnaputra
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 2 Krisnaputra
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 3 Krisnaputra
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 4 Krisnaputra
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 5 Krisnaputra
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 6 Krisnaputra
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
PUSTAKA Krisnaputra
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Jalan Jenderal Sudirman merupakan salah satu koridor arteri sekunder di Kota Bandung yang
berfungsi sebagai jalur pergerakan utama sekaligus koridor komersial dengan intensitas
aktivitas tinggi. Peran ganda tersebut menimbulkan konflik karena fungsi arteri menuntut
kelancaran pergerakan dan pengendalian akses, sementara aktivitas komersial membutuhkan
ruang berhenti, parkir, bongkar muat, akses persil, pergerakan pejalan kaki, serta visibilitas
usaha. Penelitian ini bertujuan merumuskan arahan penyelesaian konflik pada koridor jalan
arteri perkotaan di kawasan komersial, dengan kasus studi Jalan Jenderal Sudirman Kota
Bandung. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif-kualitatif melalui studi literatur
dan normatif, analisis kinerja lalu lintas, observasi lapangan, analisis spasial, serta analisis
kesenjangan. Data primer diperoleh melalui observasi lapangan tahun 2026, sedangkan data
sekunder kinerja lalu lintas menggunakan LHR Dinas Perhubungan Kota Bandung tahun
2025. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Jalan Jenderal Sudirman memiliki kapasitas
3.231 SMP/jam dengan VC Ratio rata-rata harian 0,80 atau LOS D. Kondisi paling kritis
terjadi pada sore hari dengan VC Ratio 0,97 atau LOS E, sehingga ruas jalan sangat sensitif
terhadap hambatan samping. Titik konflik utama berada pada Simpang Jamika dan Simpang
Waringin. Konflik yang ditemukan terdiri atas konflik fungsional, konflik teritorial, dan
konflik visual. Arahan penyelesaian konflik meliputi relokasi parkir on-street ke parkir offstreet atau parkir komunal, pengaturan bongkar muat, penyediaan akses bersama dan crossaccess, penataan trotoar 4 meter dengan zona plasa/transisi 0,75 meter, zona pejalan kaki
2,05 meter, dan zona perlengkapan/utilitas 1,20 meter, serta pengendalian signage dan
reklame. Penelitian ini menunjukkan bahwa penanganan koridor arteri-komersial tidak
cukup dilakukan melalui rekayasa lalu lintas, tetapi memerlukan pendekatan rancang kota
yang mengintegrasikan mobilitas, aktivitas komersial, ruang pejalan kaki, dan karakter
visual koridor.
Perpustakaan Digital ITB