digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Krisna Nur Wahidin
PUBLIC Open In Flipbook Esha Mustika Dewi

Whey tahu merupakan hasil samping produksi tahu yang masih mengandung senyawa bioaktif bernilai tinggi seperti peptida dan isoflavon, namun umumnya dibuang sebagai limbah cair dengan beban BOD dan COD tinggi. Penelitian ini bertujuan melakukan fraksionasi senyawa bioaktif dari whey tahu menggunakan teknologi membran ultrafiltrasi (UF) dan nanofiltrasi (NF), serta mengkaji pengaruh pretreatment dan variasi pH umpan terhadap fluks, fouling, dan perolehan isoflavon. Whey tahu segar (pH 3,75–3,82; COD 6000 mg/L; protein 766,96 mg/L) diberi perlakuan awal berupa sentrifugasi (6000 rpm, 15 menit) dan ultrafiltrasi (2–4 bar) sebelum dilanjutkan dengan nanofiltrasi pada tekanan 6 bar dengan variasi pH umpan 2–9. Hasil menunjukkan bahwa pretreatment meningkatkan fluks permeat NF dibandingkan tanpa pretreatment. Fluks tertinggi diperoleh pada pH basa (8–9), sedangkan fluks terendah pada pH mendekati titik isoelektrik protein whey tahu (pH 4). Rejeksi protein oleh membran NF tetap tinggi (89–100%) di seluruh rentang pH, sedangkan rejeksi senyawa bioaktif isoflavon jauh lebih rendah dan bervariasi (di bawah 0%, yaitu terjadi pengayaan di sisi permeat, pada pH 2–4, hingga sekitar 33% pada pH 6), menunjukkan adanya pemisahan selektif (fraksionasi) antara protein dan isoflavon. Aktivitas antioksidan (TEAC) permeat tertinggi diperoleh pada pH asam (pH 2), sementara pH basa menunjukkan penurunan aktivitas antioksidan yang diduga akibat degradasi oksidatif isoflavon. Analisis HPLC mengonfirmasi keberadaan tentatif daidzein dan genistein pada permeat pH 2, 4, dan 9, namun tidak terdeteksi jelas pada permeat pH 6. Pada kondisi pH optimum (pH 2), peningkatan tekanan transmembran dari 6 bar menjadi 8 bar justru menurunkan perolehan isoflavon akibat pemadatan lapisan fouling. Uji statistik ANOVA satu-faktor menunjukkan bahwa pH, pretreatment, dan tekanan operasi masing-masing berpengaruh signifikan (p<0,05) terhadap kadar protein, aktivitas antioksidan, dan TDS. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menegaskan adanya trade-off antara fluks, kemurnian, dan stabilitas senyawa bioaktif dalam optimasi proses nanofiltrasi untuk pemulihan isoflavon dari limbah cair tahu.