Ubi jalar Cilembu merupakan salah satu komoditas hortikultura unggulan Indonesia yang memiliki cita rasa khas dan kandungan gizi tinggi, sehingga berpotensi untuk dikembangkan menjadi produk olahan bernilai tambah. Salah satu bentuk diversifikasi produk yang dapat dilakukan adalah pengolahan menjadi tepung ubi jalar Cilembu. Produk ini memiliki umur simpan yang lebih panjang, lebih mudah diaplikasikan sebagai bahan baku berbagai produk pangan, serta berpotensi menggantikan sebagian penggunaan tepung terigu. Selain menghasilkan tepung ubi jalar, proses produksi juga memanfaatkan hasil samping berupa kulit ubi jalar sebagai bahan campuran pakan ternak sehingga mendukung penerapan konsep zero waste dan meningkatkan nilai tambah industri.
Perancangan industri ini mengolah ubi jalar Cilembu menjadi tepung menggunakan teknologi pengeringan food dehydrator pada suhu 60°C selama 5 jam berdasarkan hasil penelitian tugas akhir tahap pertama. Kapasitas produksi yang dirancang sebesar 1.000 kg ubi jalar Cilembu segar per batch dengan frekuensi produksi 2 batch per minggu atau 100 batch per tahun, sehingga kapasitas pengolahan mencapai sekitar 100 ton bahan baku per tahun. Proses produksi meliputi sortasi, pencucian, pengupasan, pengirisan, perendaman, blanching, pengeringan, penepungan, pengayakan, pengemasan, dan penyimpanan. Kulit ubi jalar hasil pengupasan dikeringkan dan diolah menjadi bahan campuran pakan ternak sebagai bentuk pemanfaatan hasil samping.
Pabrik direncanakan berlokasi di Jl. Satria Raya, Kelurahan Margahayu Utara, Kecamatan Babakan Ciparay, Kota Bandung, Jawa Barat. Lokasi ini dipilih karena berada di kawasan yang strategis, mudah diakses, serta dekat dengan daerah perindustrian sehingga mendukung kelancaran distribusi bahan baku maupun produk jadi. Bangunan pabrik memiliki luas tanah 1.340 m² dengan luas bangunan 800 m² dan terdiri atas 1 lantai, sehingga memadai untuk menunjang seluruh kegiatan produksi. Fasilitas yang tersedia meliputi listrik 4.400 watt, dua saluran telepon, sumber air sumur, serta sistem pendingin ruangan (AC) yang mendukung operasional pabrik. Tata letak fasilitas dirancang berdasarkan hubungan antaraktivitas produksi sehingga aliran bahan berlangsung efisien serta memenuhi aspek sanitasi, keselamatan kerja, dan keamanan pangan. Sistem
ii
utilitas meliputi penyediaan air, energi listrik, pengelolaan limbah, serta fasilitas penunjang lainnya yang disesuaikan dengan kebutuhan proses produksi.
Struktur organisasi perusahaan dirancang menggunakan bentuk organisasi lini yang dipimpin oleh seorang direktur dengan dukungan beberapa divisi, meliputi produksi, quality control, pemasaran, keuangan, pengadaan, gudang, serta administrasi. Sistem manajemen perusahaan dilengkapi dengan penerapan prosedur sanitasi, higiene, keselamatan dan kesehatan kerja (K3), serta pengendalian mutu untuk menjamin mutu produk yang dihasilkan dan mendukung keberlangsungan operasional industri.
Hasil analisis kelayakan finansial menunjukkan bahwa industri tepung ubi jalar Cilembu layak untuk direalisasikan. Total investasi yang dibutuhkan sebesar Rp850.787.067, dengan total biaya produksi sebesar Rp1.927.699.814 per tahun dan total pendapatan sebesar Rp2.674.000.000 per tahun, sehingga menghasilkan laba kotor sebesar Rp746.300.186 per tahun. Evaluasi investasi menunjukkan Net Present Value (NPV) sebesar Rp256.557.162, Internal Rate of Return (IRR) sebesar 22,68%, Gross Profit Margin (GPM) sebesar 27,91%, Net Benefit Cost Ratio (Net B/C) sebesar 1,30, Payback Period (PP) selama 2,93 tahun, dan Return on Investment (ROI) sebesar 82,89%. Hasil tersebut menunjukkan bahwa investasi mampu memberikan keuntungan yang baik dengan tingkat pengembalian modal yang relatif cepat.
Analisis sensitivitas menunjukkan bahwa industri masih berada pada kondisi layak ketika terjadi kenaikan harga bahan baku sebesar 10%. Namun, apabila terjadi penurunan harga jual produk sebesar 10%, industri tidak lagi memenuhi kriteria kelayakan finansial karena NPV bernilai negatif dan IRR berada di bawah tingkat diskonto yang digunakan. Hal ini menunjukkan bahwa penurunan harga jual memberikan pengaruh yang jauh lebih besar terhadap kelayakan usaha dibandingkan kenaikan harga bahan baku. Secara keseluruhan, perancangan industri tepung ubi jalar Cilembu dengan pemanfaatan hasil samping sebagai bahan campuran pakan ternak dinilai layak untuk dikembangkan pada kondisi normal, baik dari aspek teknis maupun finansial, serta memiliki prospek yang baik dalam mendukung diversifikasi pangan, peningkatan nilai tambah komoditas lokal, dan penerapan industri berkelanjutan.
Perpustakaan Digital ITB