digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Linda Wardani
PUBLIC Open In Flipbook Yoninur Almira

BAB 1 Linda Wardani
PUBLIC Open In Flipbook Yoninur Almira

BAB 2 Linda Wardani
PUBLIC Open In Flipbook Yoninur Almira

BAB 3 Linda Wardani
PUBLIC Open In Flipbook Yoninur Almira

BAB 4 Linda Wardani
PUBLIC Open In Flipbook Yoninur Almira

BAB 5 Linda Wardani
PUBLIC Open In Flipbook Yoninur Almira

BAB 6 Linda Wardani
PUBLIC Open In Flipbook Yoninur Almira

PUSTAKA Linda Wardani
PUBLIC Open In Flipbook Yoninur Almira

LAMPIRAN Linda Wardani
PUBLIC Open In Flipbook Yoninur Almira

Konsolidasi Tanah Vertikal (KTV) melalui skema U-Develop memerlukan proses desain yang iteratif dan partisipatif, namun alat perancangan yang tersedia masih bertumpu pada pemodelan statis sehingga sulit disesuaikan dengan cepat bersama warga yang memiliki lahan campuran. Penelitian ini bertujuan membangun model perencanaan tapak iteratif dalam penerapan KTV di Kampung Cibangkong, RW 05 dan RW 11, Kota Bandung, melalui tiga sasaran, yaitu identifikasi kondisi eksisting kawasan, penyusunan program ruang, serta penyusunan model visual iteratif. Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed methods dengan strategi sequential transformative, mencakup analisis gap kondisi eksisting berdasarkan lima aspek SNI 03-1733-2004, penyusunan program ruang berdasarkan Model M.03 UDevelop, serta pemodelan tapak menggunakan Visual Computer Generated Architecture (VCGA) pada CityEngine yang diuji melalui simulasi metode ORID bersama empat peserta ahli, yaitu peneliti dan mahasiswa program studi Perencanaan Wilayah dan Kota, sehingga pengujian ini berkedudukan sebagai uji kelayakan alat partisipasi warga. Hasil penelitian menunjukkan kawasan seluas 62.257 m², dengan kepadatan eksisting kawasan studi sebesar 786 jiwa/ha pada 2025, sehingga memenuhi kriteria kelayakan lokasi U-Develop yang mensyaratkan kepadatan di bawah 800 jiwa/ha. Program ruang terbagi atas Zona A, B, C, dan infrastruktur, serta tujuh rule VCGA (Tower, Balai Warga, Pos Satpam, TPS, Masjid, Zona C, dan Lapang) yang saling terhubung dari Setback hingga Color by Use. Pemodelan ini terbukti mampu menghasilkan perubahan tata letak secara langsung dan cepat selama sesi pengujian berlangsung, sehingga menghasilkan Skenario 2 dari Skenario 1 secara real time saat diskusi berlangsung. Diskusi mencakup pemisahan Zona A dan B, penambahan akses masuk, alih fungsi taman bacaan menjadi lapangan, serta mempertahankan lokasi masjid yang sudah ada. Temuan ini menunjukkan bahwa pemodelan prosedural berbasis VCGA layak secara teknis sebagai alat bantu diskusi desain, sehingga bisa digunakan untuk proses desain partisipatif langsung bersama warga.