Glass eel merupakan fase juvenil ikan sidat (Anguilla Bicolor) yang bermigrasi dari
laut menuju perairan tawar melalui muara sungai. Keberhasilan migrasi
dipengaruhi oleh kondisi oseanografi yang berubah secara spasial dan musiman.
Penelitian ini bertujuan mengestimasi persentase keberhasilan migrasi glass eel dari
laut menuju sungai-sungai di wilayah selatan Jawa, khususnya Banten hingga
Sukabumi, serta menganalisis pengaruh arus laut, pasang surut, dan salinitas
terhadap dinamika migrasi. Penelitian menggunakan pendekatan Agent-Based
Model (ABM) berbasis NetLogo untuk mensimulasikan pergerakan 1000 agen pada
musim hujan dan musim kemarau dengan tiga skenario salinitas sungai, yaitu 0,1;
6; dan 11,4 PSU. Pergerakan agen dipengaruhi oleh arus, pasang surut, dan
salinitas. Setiap skenario dilakukan sebanyak 30 pengulangan untuk mengevaluasi
kestabilan model. Hasil simulasi menunjukkan bahwa tingkat keberhasilan migrasi
berkisar 60,353–62,197% pada musim hujan dan 43,367–44,273% pada musim
kemarau, dengan waktu kedatangan glass eel ke sungai lebih tinggi pada musim
hujan. Hasil uji sensitivitas menunjukkan tingkat sensitivitas arus lebih tinggi
dibandingkan dengan salinitas. Validasi berdasarkan perbandingan proporsi
distribusi glass eel antara hasil model dan data lapangan menunjukkan kesesuaian
yang lebih baik pada musim hujan dibandingkan musim kemarau. Model
menunjukkan kestabilan yang baik dengan koefisien variasi sebesar 2,573–4,332%
pada 30 pengulangan. Dengan demikian, ABM mampu merepresentasikan
dinamika migrasi glass eel dan menunjukkan bahwa variasi kondisi arus, pasang
surut, dan salinitas berkaitan dengan perubahan pola serta tingkat keberhasilan
migrasi.
Perpustakaan Digital ITB