digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Ilham Wijaya
PUBLIC Open In Flipbook Esha Mustika Dewi

COVER Ilham Wijaya
Terbatas  Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 1 Ilham Wijaya
Terbatas  Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 2 Ilham Wijaya
Terbatas  Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 3 Ilham Wijaya
Terbatas  Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 4 Ilham Wijaya
Terbatas  Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 5 Ilham Wijaya
Terbatas  Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan

PUSTAKA Ilham Wijaya
Terbatas  Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan

LAMPIRAN Ilham Wijaya
Terbatas  Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan

Perubahan garis pantai merupakan indikator penting untuk memahami dinamika kawasan pesisir dan arah pemanfaatan ruang di sekitarnya. Teluk Blanakan, Kabupaten Subang, merupakan kawasan pesisir utara Jawa Barat yang aktif mengalami perubahan garis pantai, terutama pembentukan daratan akibat fenomena akresi. Penelitian ini bertujuan menganalisis pola spasial dan laju perubahan garis pantai periode 2005-2025, memprediksi posisinya hingga tahun 2035, serta mengidentifikasi tutupan lahan terdampak beserta arahan pemanfaatannya. Data yang digunakan meliputi citra Landsat 5 TM, 7 ETM+, 8 OLI, Sentinel-2 MSI, citra resolusi tinggi, batimetri, observasi lapangan, dan wawancara. Ekstraksi dilakukan menggunakan Normalized Difference Water Index (NDWI) dan delineasi manual. Metode analisis data menggunakan Digital Shoreline Analysis System (DSAS) untuk memperoleh Net Shoreline Movement (NSM), End Point Rate (EPR), dan Linear Regression Rate (LRR). Pemodelan prediksi membandingkan ekstrapolasi LRR dan Kalman Filter, sementara tutupan lahan dianalisis dengan interpretasi visual dan On-Screen Digitizing (OSD). Hasil penelitian menunjukkan pesisir Teluk Blanakan mengalami akresi dengan pertambahan daratan 552,10 ha dan panjang segmen akresional 8.687 m. Rata-rata kemajuan garis pantai (NSM) sebesar 791,27 m, dengan laju EPR 39,47 m/tahun dan LRR 41,67 m/tahun. Prediksi tahun 2035 menunjukkan tren akresi berlanjut, dengan ekstrapolasi LRR lebih akurat (RMSE = 269,98 m) dibandingkan Kalman Filter (RMSE = 728,24 m). Area terdampak didominasi Tambak Mangrove Jarang seluas 298,54 ha (54,12%) yang dimanfaatkan secara ekonomi melalui hak garap Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH), dengan adanya wacana perubahan kelembagaan menuju skema Lembaga Pengelolaan Hutan Desa (LPHD) pada masa mendatang. Arahan pemanfaatannya meliputi pengembangan greenbelt, perlindungan mangrove eksisting, dan penerapan silvofishery.