Hutan mangrove sebagai vegetasi yang berada di daerah peralihan darat dan laut, telah diketahui memiliki berbagai fungsi, diantaranya mangrove dapat menyerap karbondioksida dengan baik, mencegah adanya abrasi pantai, intrusi pantai, tsunami, dan merupakan nursery ground bagi berbagai jenis ikan dan udang. Oleh karena itu konservasi terhadap hutan mngrove perlu dilakukan agar meminimalisasi kerusakan alam baik secara global maupun lokal. Hal tersebut dapat dilakukan dengan mengidentifikasi sebaran dan perubahan dari hutan mangrove itu sendiri dengan menggunakan teknologi penginderaan jauh. Pada penelitian ini, Kecamatan Tanjung Palas Tengah diambil sebagai daerah studi karena kecamatan tersebut merupakan salah satu kecamatan yang berada di pesisir yang memiliki potensi besar akan sumber daya mangrovenya.
Penelitiaan ini menggunakan citra SPOT tahun 2008 dan 2010 sebagai data utama untuk mengidentifikasi perubahan luas dan kerapatan hutan mangrove. Metode yang digunakan untuk mengidentifikasi mangrove dan mengetahui luasannya adalah metode klasifikasi tak terawasi dan delineasi, sedangkan kerapatannya menggunakan NDVI (Normalized Differentiation Vegetation Index).
Dari penelitian ini didapatkan perubahan luas hutan mangrove di Kecamatan Tanjung Palas Tengah dari tahun 2008 hingga 2010, yaitu berkurang seluas 136,6 Ha. Untuk tingkat kerapatannya dibagi menjadi 3 kelas, yaitu kelas jarang, sedang, dan rapat. Secara umum, perubahan kerapatan terjadi signifikan di kelas “sedang”, yang bertambah luasannya dari 0,00124 Ha menjadi 4334,84 Ha. Sedangkan kelas yang mendominasi di tahun 2008 hingga 2010, yaitu kelas “jarang”. Dapat disimpulkan bahwa hutan mangrove di Kecamatan Tanjung Palas Tengah mengalami pengurangan luas namun terjadi pertumbuhan kerapatan tajuknya.
Perpustakaan Digital ITB