digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Muara DAS Pesaguan mengalami degradasi atau penumpukan sedimen yang menyebabkan terhambatnya alur pelayaran bagi para nelayan. Aktivitas pembangunan pertambangan dan ekspansi perkebunan kelapa sawit di wilayah hulu menyebabkan berkurangnya vegetasi penutup lahan, sehingga meningkatkan potensi erosi dan suplai sedimen menuju sistem sungai. Akumulasi sedimen tersebut memicu pendangkalan alur sungai yang berpotensi meningkatkan risiko banjir serta mengganggu aktivitas masyarakat di wilayah hilir dan muara sungai. Studi ini bertujuan untuk menganalisis pola transportasi sedimen di Sungai Pesaguan menggunakan pemodelan numerik HEC-RAS 2D, menganalisis dampak perubahan tutupan lahan terhadap pola sedimentasi di muara sungai, serta memberikan rekomendasi penanganan sedimentasi di DAS Pesaguan. Hasil analisis pemodelan gelombang menggunakan Delft3D menunjukkan bahwa tinggi gelombang di area muara relatif kecil, berkisar antara 0–0,2 m, sehingga pengaruh gelombang terhadap pola sedimentasi di muara tidak signifikan dan proses sedimentasi lebih didominasi oleh debit sungai. Berdasarkan analisis spasial, perubahan tutupan lahan pada periode 2019 – 2024 menunjukkan adanya ekspansi perkebunan sawit sebesar 42% serta peningkatan area pertambangan sekitar 5%, yang berkontribusi terhadap berkurangnya vegetasi penutup lahan dan meningkatnya kerentanan terhadap erosi. Hasil analisis USLE menunjukkan bahwa pada tahun 2019 kelas bahaya erosi didominasi kategori sangat ringan (85%), sedangkan pada tahun 2024 menurun menjadi 82% dengan peningkatan kelas ringan dan sedang. Perubahan ini menyebabkan peningkatan sediment yield sekitar 10%, dari ±121.783 ton/tahun pada tahun 2019 menjadi ±134.080 ton/tahun pada tahun 2024. Hasil pemodelan numerik HEC-RAS 2D menunjukkan bahwa kondisi eksisting tahun 2024 mengalami agradasi dengan ketebalan sedimen mencapai sekitar 1,8 m akibat peningkatan suplai sedimen dari daerah hulu. Sedangkan simulasi kondisi eksisting tahun 2019 menunjukkan ketebalan sedimen maksimum sebesar 1,48 m, dengan area deposisi sedimen paling signifikan berada di area mulut muara sungai. Selain itu, dilakukan pemodelan skenario jika kondisi sedimen pada tahun 2019 ter-reduksi sebesar 50%, hasil pemodelan menununjukkan ketebelan sedimen dapat menurun hingga 0,5 – 1 m. Sebagai upaya pengelolaan sedimen, dilakukan skenario konservasi tanah berupa penerapan terasering pada area pertanian lahan kering campur untuk menurunkan suplai sedimen dari daerah hulu. Hasil simulasi menunjukkan bahwa tindakan tersebut mampu menurunkan sediment yield dari kondisi tahun 2024 sebesar 134.080 ton/tahun menjadi sekitar 118.733 ton/tahun atau berkurang sekitar 11% sehingga mendekati kondisi tahun 2019. Selain itu, dari kondisi tahun 2019 ke skenario reduksi sedimen sebesar 50% dapat melalui penerapan terasering yang dikombinasikan dengan penanaman vegetasi penutup tanah berupa rumput gajah (Pennisetum purpureum). Hasil perhitungan menunjukkan bahwa tindakan tersebut mampu menurunkan sediment yield dari 121.783 ton/tahun menjadi sekitar 63.024 ton/tahun atau berkurang sekitar 48%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengelolaan konservasi tanah dan vegetasi penutup lahan di daerah hulu sangat penting untuk mengurangi suplai sedimen pada Sungai Pesaguan.