Jatuhan tefra merupakan salah satu bahaya utama dari erupsi gunung berapi yang
sering terjadi di Indonesia. Pola sebaran dan deposisi tefra tidak hanya bergantung
pada kekuatan letusan gunung berapi, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh kondisi
angin di berbagai lapisan atmosfer. Variabilitas angin musiman di Indonesia
berperan penting dalam menentukan arah dan jangkauan sebaran tefra, namun
kajian kuantitatif yang secara khusus menilai pengaruhnya terhadap bahaya jatuhan
tefra masih terbatas.
Pengaruh variasi angin musiman terhadap sebaran dan probabilitas jatuhan tefra
dianalisis menggunakan simulasi dengan model numerik Tephra2. Simulasi
dilakukan dengan skenario erupsi yang merepresentasikan karakteristik letusan
Gunung Merapi tahun 2010. Seluruh parameter erupsi meliputi tinggi kolom erupsi,
laju keluaran massa, distribusi ukuran partikel, dan durasi letusan ditetapkan
konstan untuk mengisolasi pengaruh angin. Kondisi angin direpresentasikan oleh
data angin reanalysis ERA5 pada beberapa lapisan tekanan yang dikelompokkan
ke dalam musim hujan (DJF), musim kemarau (JJA), serta dua musim peralihan
(MAM dan SON). Beberapa prosedur telah dikembangkan untuk memungkinkan
menjalankan model Tephra2 dengan masukan profil angin setiap 6 jam. Distribusi
spasial jatuhan tefra dengan berbagai densitas kemudian dipetakan sebagai
probabilitas keterlampauan (exceedance probability) untuk musim-musim terkait.
Hasil pemetaan menunjukkan bahwa jatuhan tefra dengan densitas tinggi
terkonsentrasi di dekat kawah, sementara kondisi angin secara signifikan
memengaruhi pola deposisi tefra untuk densitas menengah dan rendah. Selain itu,
ditemukan bahwa akibat angin timuran di lapisan atas, jatuhan tefra cenderung
menyebar ke arah barat pada setiap musim. Sebaran ke arah barat paling kuat terjadi
selama musim JJA karena angin timuran di lapisan bawah yang relatif kuat. Variasi
distribusi jatuhan tefra lebih beragam pada musim-musim lainnya. Analisis
probabilistik menunjukkan bahwa keterlampauan massa tefra bervariasi secara
spasial dan musiman, dengan paparan tertinggi diamati di sektor barat Gunung
Merapi, khususnya di Kecamatan Srumbung, pada musim JJA dan SON, serta yang
terendah pada musim DJF.
Perpustakaan Digital ITB