digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRA Finkan Rahma Yuditya
PUBLIC Open In Flipbook Rita Nurainni, S.I.Pus

Jatuhan tefra merupakan salah satu bahaya utama dari erupsi gunung berapi yang sering terjadi di Indonesia. Pola sebaran dan deposisi tefra tidak hanya bergantung pada kekuatan letusan gunung berapi, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh kondisi angin di berbagai lapisan atmosfer. Variabilitas angin musiman di Indonesia berperan penting dalam menentukan arah dan jangkauan sebaran tefra, namun kajian kuantitatif yang secara khusus menilai pengaruhnya terhadap bahaya jatuhan tefra masih terbatas. Pengaruh variasi angin musiman terhadap sebaran dan probabilitas jatuhan tefra dianalisis menggunakan simulasi dengan model numerik Tephra2. Simulasi dilakukan dengan skenario erupsi yang merepresentasikan karakteristik letusan Gunung Merapi tahun 2010. Seluruh parameter erupsi meliputi tinggi kolom erupsi, laju keluaran massa, distribusi ukuran partikel, dan durasi letusan ditetapkan konstan untuk mengisolasi pengaruh angin. Kondisi angin direpresentasikan oleh data angin reanalysis ERA5 pada beberapa lapisan tekanan yang dikelompokkan ke dalam musim hujan (DJF), musim kemarau (JJA), serta dua musim peralihan (MAM dan SON). Beberapa prosedur telah dikembangkan untuk memungkinkan menjalankan model Tephra2 dengan masukan profil angin setiap 6 jam. Distribusi spasial jatuhan tefra dengan berbagai densitas kemudian dipetakan sebagai probabilitas keterlampauan (exceedance probability) untuk musim-musim terkait. Hasil pemetaan menunjukkan bahwa jatuhan tefra dengan densitas tinggi terkonsentrasi di dekat kawah, sementara kondisi angin secara signifikan memengaruhi pola deposisi tefra untuk densitas menengah dan rendah. Selain itu, ditemukan bahwa akibat angin timuran di lapisan atas, jatuhan tefra cenderung menyebar ke arah barat pada setiap musim. Sebaran ke arah barat paling kuat terjadi selama musim JJA karena angin timuran di lapisan bawah yang relatif kuat. Variasi distribusi jatuhan tefra lebih beragam pada musim-musim lainnya. Analisis probabilistik menunjukkan bahwa keterlampauan massa tefra bervariasi secara spasial dan musiman, dengan paparan tertinggi diamati di sektor barat Gunung Merapi, khususnya di Kecamatan Srumbung, pada musim JJA dan SON, serta yang terendah pada musim DJF.