Penerapan platform Asynchronous Video Interview (AVI) konvensional sering kali memicu
kecemasan kandidat akibat minimnya interaksi visual. Upaya untuk mengembalikan
kehadiran sosial (social presence) melalui agen pewawancara virtual (avatar) beresolusi
tinggi umumnya terkendala oleh tingginya latensi komputasi kecerdasan buatan, yang
memicu kegagalan antrean panjang dan pemblokiran (blocking) pada layanan API
Gateway sinkron. Untuk mengatasi kebuntuan tersebut, tugas akhir ini merancang
dan mengimplementasikan sistem pembangkitan avatar berbasis arsitektur orkestrasi
asinkron terdistribusi guna menyajikan pengalaman wawancara yang lebih natural tanpa
mengorbankan stabilitas operasional layanan rekrutmen utama.
Berdasarkan analisis arsitektural, beban ekstrem rendering GPU yang jauh lebih lambat
dari waktu nyata (Real-Time Factor) dapat dilimpahkan dengan aman melalui pendekatan
ini. Untuk menanggulangi penolakan psikologis (uncanny valley) sekaligus mencegah
kelumpuhan antarmuka (Gateway Timeout), sistem mendelegasikan eksekusi sintesis
audio-driven ke antrean latar belakang menggunakan mesin orkestrasi stateful. Aliran
data biner masif diarahkan langsung ke Object Storage terdistribusi, sementara antarmuka
klien menggunakan mekanisme pramuat (preload) asinkron untuk mengeliminasi latensi
perpindahan video.
Pengujian memvalidasi bahwa arsitektur ini sanggup mengeksekusi antrean non-blocking
dengan waktu respons API di bawah 50 milidetik, serta menjamin pemulihan instan saat
terjadi kegagalan komputasi. Evaluasi kuantitatif terhadap kandidat juga menunjukkan
dominasi sentimen positif yang signifikan terhadap persepsi keadilan (fairness) dan
kenyamanan interaksi.
Secara keseluruhan, arsitektur yang diusulkan berhasil menjembatani dilema antara tingginya
kualitas resolusi visual dengan ekstremnya beban rendering GPU. Kehadiran pewawancara
virtual ini terbukti secara empiris mampu meredam efek uncanny valley serta menurunkan
tingkat kecemasan kandidat tanpa membahayakan stabilitas operasional server. Untuk
pengembangan di masa mendatang, disarankan adanya eksplorasi fine-tuning model akustik
bahasa Indonesia, penguatan protokol DRM (Digital Rights Management) pada sisi klien,
serta adaptasi protokol adaptive streaming untuk mereduksi beban memori klien pada sesi
wawancara berdurasi sangat panjang.
Perpustakaan Digital ITB