Panas bumi merupakan salah satu sumber energi terbarukan yang berperan penting dalam mendukung transisi energi dan mengurangi emisi karbon global. Indonesia memiliki potensi panas bumi yang sangat besar, yaitu sekitar 40% dari total potensi panas bumi dunia, namun tingkat pemanfaatannya masih belum optimal akibat tingginya ketidakpastian eksplorasi, khususnya pada reservoir dengan permeabilitas rendah yang memiliki keterbatasan dalam mengalirkan fluida secara alami. Enhanced Geothermal System (EGS) menjadi salah satu pendekatan teknologi yang memungkinkan pemanfaatan energi panas dari batuan panas kering (hot dry rock) melalui pembentukan jaringan rekahan buatan menggunakan metode perekahan hidraulik atau hydraulic fracturing. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kelayakan teknis dan keekonomian penerapan EGS pada analog Cekungan Sumatra Tengah melalui pemodelan formasi dan geomekanika reservoir, desain perekahan hidraulik menggunakan perangkat lunak Kinetix, simulasi produksi jangka panjang menggunakan INTERSECT, serta analisis keekonomian berdasarkan indikator Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Payback Period (POT), Levelized Cost of Electricity (LCOE), Profitability index, dan simulasi Monte Carlo.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa desain perekahan hidraulik terbaik diperoleh pada skenario optimal dengan laju pompa 10 – 20 bpm, penggunaan proppant 30/50 mesh, dan fluida crosslink gel, yang menghasilkan geometri rekahan dengan kemampuan konektivitas menuju sumur produser paling baik dibandingkan skenario lainnya. Simulasi produksi menunjukkan bahwa sistem EGS berpotensi menghasilkan daya listrik sebesar 9–11 MWe per pasang sumur (doublet). Dari aspek keekonomian, konfigurasi pengembangan 5 doublet dengan kapasitas total 50 MW dan Capital Expenditure (CAPEX) sebesar USD 310 juta menjadi skenario paling layak, dengan nilai Net Present Value (NPV) positif sebesar USD 102–194 juta, Internal Rate of Return (IRR) 6–8%, Payback Period (POT) 10,6–12,9 tahun, serta Levelized Cost of Electricity (LCOE) sebesar Rp760–819/kWh yang berada di bawah asumsi harga jual listrik PLN. Hasil simulasi Monte Carlo sebanyak 10.000 iterasi juga menunjukkan tingkat ketahanan ekonomi yang tinggi dengan probabilitas NPV positif mencapai 84%. Berdasarkan hasil tersebut, penelitian ini menyimpulkan bahwa penerapan EGS pada analog Cekungan Sumatra Tengah layak dikembangkan secara teknis dan ekonomi, dengan strategi pengembangan bertahap melalui tahap awal validasi pada kapasitas 30 MW sebelum peningkatan menuju kapasitas 50 MW setelah kinerja reservoir dan produktivitas sumur terkonfirmasi. Potensi pemanfaatan listrik dari EGS ini mencakup penjualan kepada PLN, bisnis data center, atau ekspor ke Singapura.
Perpustakaan Digital ITB