Dormansi fisik pada benih Falcataria moluccana disebabkan oleh lapisan palisade testa yang impermeabel terhadap air. Skarifikasi termal umum diterapkan untuk mengatasi hambatan fisik tersebut, namun belum mengoptimalkan proses fisiologis pasca imbibisi. Jelaga (soot) berpotensi dimanfaatkan sebagai agen biostimulan untuk meningkatkan vigor perkecambahan, namun efektivitasnya pada benih pohon kehutanan seperti sengon belum diketahui. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh perendaman benih sengon dalam larutan jelaga serasah terhadap parameter perkecambahan benih serta menentukan konsentrasi yang paling efektif. Penelitian dilaksanakan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) satu faktor dengan empat taraf perlakuan konsentrasi jelaga, yaitu 0 wt% (kontrol), 2,5×10?? wt% (rendah), 2,5×10?³ wt% (sedang), dan 2,5×10?² wt% (tinggi), masing-masing dengan tiga ulangan berisi 100 benih per satuan percobaan. Variabel yang diamati meliputi karakteristik fisik benih serta parameter fisiologis perkecambahan berupa persentase perkecambahan (GP), laju perkecambahan (GR), rata-rata perkecambahan harian (MDG), nilai puncak (PV), dan nilai perkecambahan (GV), yang dianalisis menggunakan statistik deskriptif dan analisis ragam (ANOVA) satu arah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh taraf konsentrasi jelaga cenderung meningkatkan GP, GR, MDG, PV, dan GV dibandingkan kontrol, dengan performa terbaik secara konsisten pada konsentrasi rendah (GP meningkat 16,1%, GR meningkat 17,2%, MDG meningkat 16%, PV meningkat 187,7% dan GV meningkat 224,4%). Namun, hasil ANOVA menunjukkan bahwa perbedaan antar perlakuan tidak berbeda nyata. Dengan demikian, efektivitas larutan jelaga sebagai agen seed priming pada benih sengon belum dapat meningkatkan variable perkecambahan benih sengon secara signifikan walaupun terlihat adanya tren peningkatan dibandingkan dengan kontrol dan memerlukan optimasi lebih lanjut.
Perpustakaan Digital ITB