Risiko kebakaran pada permukiman padat perkotaan di Indonesia terus meningkat seiring laju urbanisasi yang tidak diimbangi oleh perencanaan spasial dan sistem keselamatan kebakaran yang memadai. Permukiman kampung kota umumnya berkembang secara organik dengan kepadatan bangunan tinggi, jarak antarbangunan yang sangat rapat, akses jalan lingkungan yang sempit, serta keterbatasan sarana proteksi kebakaran. Kondisi tersebut menyebabkan tingginya potensi penyebaran api dan asap sekaligus menghambat proses evakuasi penghuni. Kelurahan Cijerah, Kecamatan Bandung Kulon, Kota Bandung, merupakan salah satu kawasan dengan tingkat risiko kebakaran tinggi hingga sangat tinggi berdasarkan kajian Urban Premise Fire Risk Assessment (2025). Kawasan ini memiliki karakteristik khas kampung kota berupa jaringan gang yang tidak teratur, bangunan semi permanen yang saling berhimpitan, keterbatasan ruang terbuka, serta minimnya penerapan sistem proteksi pasif kebakaran. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi karakteristik eksisting kawasan, menganalisis hubungan antara karakteristik fisik, spasial, dan perilaku penghuni terhadap risiko kebakaran dan keselamatan evakuasi, serta merumuskan strategi optimasi sistem proteksi pasif dan sarana evakuasi yang sesuai dengan kondisi kampung padat perkotaan.
Penelitian menggunakan pendekatan mixed-method dengan mengombinasikan observasi lapangan, pemetaan spasial, wawancara penghuni, analisis Space Syntax, pemodelan Bayesian Network, simulasi kebakaran menggunakan Pyrosim, simulasi evakuasi menggunakan Pathfinder, serta analisis statistik inferensial. Analisis keselamatan dilakukan melalui pendekatan performance-based fire engineering dengan membandingkan Available Safe Egress Time (ASET) dan Required Safe Egress Time (RSET). Objek penelitian mencakup dua belas unit hunian pada RT 06 RW 07 Kelurahan Cijerah yang mewakili karakteristik kampung padat perkotaan. Strategi optimasi diuji melalui dua skenario intervensi, yaitu optimasi fisik berbasis ventilasi dan sekat parsial (P1), serta intervensi terintegrasi berupa kompartementasi penuh, perbaikan jalur evakuasi, dan peningkatan kapasitas masyarakat melalui edukasi dan simulasi evakuasi (P2).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingginya risiko kebakaran merupakan akibat interaksi kompleks antara faktor fisik, spasial, dan sosial. Dari aspek fisik, mayoritas bangunan menggunakan material semi permanen dengan nilai Heat Release Rate (HRR) tinggi, tidak memiliki fire barrier, serta memiliki jarak antarbangunan yang sangat rapat. Dari aspek spasial, kawasan memiliki jaringan gang sempit dengan lebar rata-rata sekitar 1,1 meter, konektivitas dan integrasi yang tidak merata, nilai mean depth tinggi pada beberapa segmen, serta visibilitas rendah yang menyebabkan keterbacaan jalur evakuasi buruk dan memunculkan bottleneck pada koridor sempit. Dari aspek sosial, kapasitas mitigasi masyarakat masih rendah, ditandai oleh minimnya pengetahuan prosedur darurat, keterbatasan peralatan pemadam awal, serta tingginya probabilitas keterlambatan respons.
Simulasi kondisi eksisting menunjukkan bahwa seluruh unit hunian berada pada kondisi tidak aman karena nilai ASET lebih kecil dibandingkan RSET. Nilai ASET hanya berkisar antara 18–52 detik, sedangkan nilai RSET berada pada rentang sekitar 120–360 detik. Parameter bahaya yang paling cepat mencapai kondisi kritis adalah penurunan visibilitas akibat akumulasi asap, yang terbukti lebih dominan dibandingkan peningkatan temperatur maupun konsentrasi gas beracun. Temuan ini menunjukkan bahwa kegagalan keselamatan kebakaran di kawasan tidak semata disebabkan oleh penyebaran api, melainkan terutama oleh cepatnya degradasi kondisi tenable akibat asap.
Evaluasi strategi optimasi menunjukkan bahwa intervensi fisik berupa aktivasi ventilasi dan sekat parsial mampu meningkatkan nilai ASET hingga 3,39–271,35% dibandingkan kondisi eksisting, namun belum cukup untuk memenuhi kriteria keselamatan karena RSET masih lebih besar daripada ASET. Sebaliknya, skenario intervensi terintegrasi yang mengombinasikan kompartementasi penuh pada area dapur, penghilangan hambatan jalur evakuasi, reposisi bukaan, serta edukasi masyarakat berhasil meningkatkan margin keselamatan secara signifikan. Kompartementasi penuh mampu mempertahankan kondisi aman selama periode simulasi, sementara penguatan kapasitas masyarakat terbukti menurunkan waktu pre-movement dan mengurangi nilai RSET sekitar 30–45% pada sebagian besar unit hunian. Hasil tersebut menunjukkan bahwa peningkatan keselamatan kebakaran tidak dapat dicapai melalui intervensi tunggal, melainkan memerlukan kombinasi strategi fisik dan sosial yang saling melengkapi.
Penelitian ini menghasilkan model optimasi sistem proteksi kebakaran berlapis berbasis pentahelix yang mengintegrasikan aspek spasial, teknis, dan perilaku dalam satu kerangka mitigasi yang adaptif terhadap keterbatasan fisik dan sosial kampung kota. Selain itu, penelitian ini menawarkan kontribusi metodologis melalui integrasi analisis Space Syntax, Bayesian Network, dan simulasi performance-based fire engineering untuk mengevaluasi risiko kebakaran secara holistik. Model yang dihasilkan diharapkan dapat menjadi dasar bagi pemerintah, akademisi, komunitas, dan pemangku kepentingan lainnya dalam merumuskan strategi mitigasi kebakaran yang kontekstual, aplikatif, dan dapat direplikasi pada kawasan permukiman padat perkotaan di Indonesia.
Perpustakaan Digital ITB