digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

PT ABC harus menyalurkan 666.667 ton batubara per bulan dari lokasi penambangan menuju mother vessel melalui lima rute yang menggunakan truk, kereta api, dan tongkang. Perbedaan jarak, kapasitas, biaya, dan faktor emisi antarrute menyebabkan rute berbiaya terendah tidak sama dengan rute beremisi terendah. Penelitian ini menentukan alokasi tonase yang menekan biaya distribusi dan emisi CO? sekaligus, serta menilai pengaruh biaya rute idle terhadap penggunaan rute. Persoalan dirumuskan sebagai model pemrograman linear multiobjektif pada jaringan berkapasitas, dengan biaya tetap keberangkatan tongkang dan penalti rute yang kurang terpakai dinyatakan secara linear melalui tarif per ton serta variabel kekurangan tonase terhadap volume komitmen, lalu diselesaikan menggunakan metode epsilon-constraint. Biaya rute idle diuji pada tiga skenario, yaitu tanpa biaya rute idle, biaya indikatif, dan komitmen penuh. Skenario tanpa biaya rute idle menghasilkan 11 solusi Pareto dengan biaya Rp129,29-130,77 miliar per bulan dan emisi 5.255-5.276 ton CO? per bulan, sedangkan skenario indikatif menghasilkan Rp129,95-133,58 miliar dan 5.255-5.277 ton CO? per bulan. Trade-off utama terjadi ketika alokasi dialihkan dari R3 melalui RMK yang berbiaya terendah ke R4 melalui FMS yang beremisi terendah. Rute R2 berubah menjadi terpakai pada biaya rute idle sekitar Rp524 juta per bulan dan rute R1 pada sekitar Rp776 juta per bulan. Karena nilai biaya tersebut masih indikatif, interpretasi hasil ditekankan pada ambang perubahan keputusan, bukan pada nilai biaya mutlak.