PT ABC harus menyalurkan 666.667 ton batubara per bulan dari lokasi
penambangan menuju mother vessel melalui lima rute yang menggunakan truk,
kereta api, dan tongkang. Perbedaan jarak, kapasitas, biaya, dan faktor emisi antarrute
menyebabkan rute berbiaya terendah tidak sama dengan rute beremisi terendah.
Penelitian ini menentukan alokasi tonase yang menekan biaya distribusi dan emisi
CO? sekaligus, serta menilai pengaruh biaya rute idle terhadap penggunaan rute.
Persoalan dirumuskan sebagai model pemrograman linear multiobjektif pada
jaringan berkapasitas, dengan biaya tetap keberangkatan tongkang dan penalti rute
yang kurang terpakai dinyatakan secara linear melalui tarif per ton serta variabel
kekurangan tonase terhadap volume komitmen, lalu diselesaikan menggunakan
metode epsilon-constraint. Biaya rute idle diuji pada tiga skenario, yaitu tanpa
biaya rute idle, biaya indikatif, dan komitmen penuh. Skenario tanpa biaya rute idle
menghasilkan 11 solusi Pareto dengan biaya Rp129,29-130,77 miliar per bulan dan
emisi 5.255-5.276 ton CO? per bulan, sedangkan skenario indikatif menghasilkan
Rp129,95-133,58 miliar dan 5.255-5.277 ton CO? per bulan. Trade-off utama
terjadi ketika alokasi dialihkan dari R3 melalui RMK yang berbiaya terendah ke R4
melalui FMS yang beremisi terendah. Rute R2 berubah menjadi terpakai pada biaya
rute idle sekitar Rp524 juta per bulan dan rute R1 pada sekitar Rp776 juta per bulan.
Karena nilai biaya tersebut masih indikatif, interpretasi hasil ditekankan pada
ambang perubahan keputusan, bukan pada nilai biaya mutlak.
Perpustakaan Digital ITB