digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Pewarna alami secang (Caesalpinia sappan L.) merupakan salah satu sumber pewarna merah yang banyak dimanfaatkan oleh perajin tenun tradisional di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, karena ketersediaannya yang melimpah dan mampu menghasilkan warna merah alami yang khas. Penggunaan secang sebagai pewarna alam pada benang tenun masih menghadapi kendala berupa ketahanan luntur warna yang rendah, serta belum adanya formulasi pewarnaan dengan takaran yang terdokumentasi dan dapat direplikasi oleh perajin. Selain itu, hingga saat ini belum tersedia data ilmiah mengenai performa ketahanan luntur warna pewarna alami secang pada aplikasi benang tenun sebagai acuan dalam praktik pewarnaan. Penelitian ini bertujuan mengembangkan formulasi pewarnaan benang tenun menggunakan pewarna alami secang melalui kombinasi bahan penguat berbasis tanin dan metode mordanting, mengevaluasi performa ketahanan luntur warna berdasarkan hasil pengujian laboratorium, serta menyusun panduan formulasi yang dapat diterapkan oleh penenun di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. Penelitian menggunakan pendekatan Design-Based Research (DBR) yang meliputi tahapan identifikasi permasalahan, pengembangan formulasi, uji coba dan implementasi, serta refleksi. Eksperimen dilakukan menggunakan pewarna secang dengan variasi bahan penguat berbasis tanin berupa kayu mahoni dan biji buah pinang, serta variasi metode pre-mordanting menggunakan tawas, daun loba, dan kombinasi keduanya. Sampel terpilih diuji ketahanan luntur warna terhadap pencucian, gosokan, dan keringat di laboratorium. Dua sampel dengan performa terbaik kemudian disusun menjadi panduan formulasi (guide book) dan diterapkan oleh penenun di daerah Ngada untuk menghasilkan prototipe kain tenun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa formulasi dengan kombinasi secang dan biji buah pinang memberikan performa ketahanan luntur warna yang lebih baik dibandingkan formulasi lainnya, meskipun nilai ketahanan luntur yang diperoleh masih menunjukkan keterbatasan untuk aplikasi pada industri tekstil skala besar. Penelitian ini mengintegrasikan pengembangan formulasi, pengujian laboratorium, serta implementasi langsung oleh perajin tenun melalui penyusunan panduan formulasi yang terdokumentasi. Kebaruan penelitian terletak pada pengembangan formulasi pewarnaan benang tenun berbasis secang menggunakan kombinasi bahan penguat biji buah pinang, penerapan mordan alami daun loba, serta penyediaan data ilmiah mengenai performa ketahanan luntur warna pada benang tenun yang belum tersedia. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan di bidang pewarna alami tekstil melalui penyediaan data performa ketahanan luntur warna pada benang tenun, sekaligus menghasilkan panduan formulasi yang dapat menjadi referensi bagi perajin tenun dalam menerapkan pewarna alami secara lebih terukur dan terdokumentasi.