Axle counter (AXC) merupakan peralatan deteksi kereta api yang bersifat safety-critical dan berperan penting dalam operasional persinyalan. Di wilayah DAOP 8 Surabaya, terdapat tiga AXC dari manufaktur berbeda dengan jumlah total asset keseluruhan sebesar 649 unit. Strategi perawatan eksisting yang menerapkan interval Preventive Maintenance (PM) sebesar 720 jam (satu bulan) belum mempertimbangkan karakteristik keandalan pada masing-masing subsistem, sehingga berpotensi menimbulkan over-maintenance atau under-maintenance.
Penelitian ini bertujuan mengoptimalisasi strategi perawatan AXC menggunakan metode Risk Based Inspection (RBI) berdasarkan analisis keandalan serta mengevaluasi kinerja ekonomi masing-masing tipe melalui pendekatan Life Cycle Cost (LCC). Data historis gangguan periode 2023–2025 dianalisis menggunakan distribusi Weibull pada perangkat lunak Minitab. Setiap subsistem dianalisis secara terpisah, dan keandalan sistem dihitung menggunakan Reliability Block Diagram (RBD) konfigurasi seri. Penentuan interval PM optimal dilakukan berdasarkan target keandalan sistem sebesar 99,00%.
Hasil analisis menunjukkan keandalan sistem pada interval PM eksisting 720 jam sebesar 99,85% untuk AXC B, 96,40% untuk AXC A, dan 66,01% untuk AXC C. Analisis lanjutan menghasilkan rekomendasi interval PM optimal per 15 hari untuk mendapatkan target keandalan sebesar 99%. Mertode Risk Based Inspection yang dihasilkan menjadi dasar penyusunan strategi perawatan optimal per subsistem dengan mempertimbangkan tingkat risiko yang ada. Berdasarkan perhitungan LCC, AXC B memiliki LCC terendah sebesar Rp 8.350.000 per tahun atau Rp 250.500.000 selama 30 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa AXC B merupakan sistem paling ekonomis meskipun memiliki biaya pengadaan awal yang relatif tinggi, sejalan dengan tingkat keandalan tinggi dan frekuensi gangguan paling rendah.
Perpustakaan Digital ITB