DKI Jakarta menghadapi tantangan pengelolaan sampah akibat peningkatan timbulan,
keterbatasan kapasitas fasilitas hilir, dan ketergantungan terhadap TPST Bantargebang.
Penelitian ini bertujuan mengoptimalkan alokasi sampah dari 42 kecamatan daratan DKI
Jakarta menuju enam fasilitas hilir, yaitu Landfill Bantargebang, RDF Bantargebang, RDF
Rorotan, RDF Pegadungan, ITF Sunter, dan ITF Tanjungan. Metode yang digunakan meliputi
proyeksi timbulan sampah, analisis spasial berbasis SIG, OD Matrix, Service Area,
pembobotan, penyusunan skor komposit Cij, optimasi program linear, dan Material Flow
Analysis. Skenario yang dianalisis terdiri atas kondisi normal dan peningkatan timbulan 34%
pada tahun 2030 dan 2035. Hasil penelitian menunjukkan timbulan sampah meningkat dari
6.986,56 ton/hari pada tahun 2025 menjadi 7.746,89 ton/hari pada tahun 2030 dan 8.589,97
ton/hari pada tahun 2035. Nilai fungsi objective Z meningkat dari 2.507,86 pada skenario 2030
normal menjadi 3.871,70 pada skenario 2035 timbulan +34%. Hasil MFA menunjukkan 83,65–
85,42% sampah terolah dan 14,58–16,35% menuju disposal. Rekomendasi utama adalah
penguatan fasilitas kritis, optimalisasi zona layanan, reduksi hulu, dan penyediaan kapasitas
cadangan.
Perpustakaan Digital ITB