digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

2026 TS PP_Agnes Winona Vania Oey_19023112
Terbatas  Jufrizal Effendi, S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan

Penelitian ini mengkaji bagaimana heterogenitas konsumen, pertemuan produk secara berulang, serta perubahan informasi sosial dan marketplace membentuk keputusan apakah dan kapan konsumen Generasi Z melakukan pembelian pertama green skincare dalam simulasi e-commerce yang diinformasikan oleh konteks Indonesia. Metodologi: Penelitian menggunakan Agent-Based Model yang bersifat abstrak, eksploratif, dan berbasis teori, yang dikembangkan menggunakan NetLogo 7.0.4. Green Perceived Quality, Green Trust, dan Social Network Influence direpresentasikan sebagai pendorong pembelian, sedangkan Price Sensitivity sebagai hambatan pembelian. Wawancara perilaku terhadap sepuluh konsumen perempuan Generasi Z Indonesia digunakan untuk menilai kewajaran arah hubungan keempat atribut tersebut. Simulasi melibatkan 500 konsumen heterogen dan 40 listing produk selama maksimum 500 tick, dengan setiap kondisi eksperimen direplikasi sebanyak 50 kali. Temuan: Pada kondisi baseline, rata- rata tingkat pembelian kumulatif pada akhir simulasi mencapai 61,26%. Konsumen yang melakukan pembelian umumnya memiliki Green Perceived Quality dan Green Trust awal yang lebih tinggi serta Price Sensitivity yang lebih rendah dibandingkan konsumen yang tidak membeli, sedangkan Social Network Influence awal menunjukkan sedikit perbedaan antara kedua kelompok. Pertemuan produk secara berulang tanpa umpan balik menghasilkan tingkat pembelian akhir sebesar 49,99%, sementara pembaruan pengaruh sosial meningkatkannya menjadi 60,96%. Umpan balik berbasis track record marketplace memberikan tambahan yang lebih kecil, khususnya ketika pembaruan pengaruh sosial telah aktif. Di antara kondisi yang diuji, perubahan terkait harga menghasilkan pergeseran terbesar dalam pembelian kumulatif. Penurunan hambatan harga meningkatkan tingkat pembelian menjadi 83,28%, sedangkan populasi dengan Price Sensitivity yang lebih tinggi menurunkannya menjadi 36,12%. Penyesuaian sosial dan ketergantungan pada track record yang lebih kuat juga memperluas jumlah konsumen yang akhirnya membeli, tetapi disertai peningkatan rata-rata waktu pembelian. Secara keseluruhan, pola pembelian pertama terbentuk dari kombinasi kondisi awal konsumen dan lingkungan sosial serta marketplace yang berkembang seiring akumulasi pembelian. Hasil numerik pada penelitian ini merepresentasikan pola simulasi yang bersifat kondisional dan tidak ditujukan sebagai prediksi pasar aktual.