Ketidakstabilan lubang bor pada Formasi Cisubuh Bawah di Cekungan Jawa
Barat Utara bagian darat merupakan salah satu tantangan utama dalam kegiatan
pemboran karena dipengaruhi oleh interaksi antara anomali termal lokal,
batulumpur (mudrock) bertekanan lebih (overpressure), reaktivitas mineral
lempung yang sensitif terhadap hidrasi, serta degradasi mekanika progresif yang
bergantung pada waktu. Penelitian terdahulu umumnya berfokus pada
ketidakstabilan mekanika dan tekanan pori abnormal, sedangkan asal-usul geologi
anomali termal lokal beserta pengaruhnya terhadap evolusi tekanan pori dan
kegagalan lubang bor yang tertunda masih belum dipahami secara memadai.
Disertasi ini menyelidiki mekanisme termo-poroelastik dan krono-mekanikal yang
saling berinteraksi dalam mengendalikan ketidakstabilan batulumpur melalui
pendekatan terpadu yang meliputi karakterisasi mineralogi, evaluasi
termodinamika, pengujian geomekanika laboratorium, analisis creep, pemodelan
analitik tekanan pori, serta evaluasi geomekanika.
Analisis difraksi sinar-X (XRD) dan petrografi mengidentifikasi pirit sebagai
mineral sulfida yang tersebar luas dalam Formasi Cisubuh Bawah, dengan
konsentrasi tertinggi dijumpai pada Lapangan Bambu Besar yang juga
menunjukkan temperatur formasi lebih tinggi. Evaluasi termodinamika
menunjukkan bahwa oksidasi pirit merupakan penyebab yang paling mungkin (the
most plausible source) dari anomali termal lokal pada Formasi Cisubuh. Data
Logging While Drilling (LWD) dari beberapa sumur memperlihatkan temperatur
sekitar 20°C hingga 30°C lebih tinggi dibandingkan gradien geotermal regional
pada interval Cisubuh. Pengujian swelling, triaksial, dan creep di laboratorium
menunjukkan bahwa kekuatan batulumpur menurun secara progresif selama
paparan pemboran yang berkepanjangan, ditandai oleh penurunan kohesi yang
signifikan sementara sudut geser dalam relatif tetap. Analisis perilaku creep
menggunakan hubungan konstitutif Norton-Bailey yang dikombinasikan dengan
hubungan temperatur Arrhenius menunjukkan bahwa peningkatan temperatur
mempercepat deformasi creep dan memperpendek waktu yang diperlukan
batulumpur untuk mencapai kondisi mekanika kritisnya.
Formulasi tekanan pori termo-poroelastik yang dikembangkan dalam penelitian ini
menunjukkan bahwa temperatur yang tinggi berkontribusi terhadap pembentukan
iv
tekanan pori berlebih melalui pembebanan termal dan retensi hidrolika (hydraulic
retention) yang dikendalikan oleh permeabilitas. Hasil kalibrasi memperlihatkan
kesesuaian yang erat antara profil tekanan pori hasil prediksi dan hasil
pengukuran pada seluruh interval Cisubuh. Integrasi formulasi tekanan pori
termo-poroelastik dengan model degradasi kekuatan krono-mekanikal
menunjukkan bahwa ketidakstabilan lubang bor yang tertunda dikendalikan oleh
evolusi yang saling berinteraksi antara tekanan pori dan penurunan progresif
kohesi bidang perlapisan. Analisis ini juga menunjukkan bahwa waktu hingga
kegagalan (time-to-failure, ????????????????) merupakan sifat intrinsik material yang
dikendalikan oleh degradasi termo-mekanikal progresif pada kondisi temperatur
dan tegangan yang berlaku, serta tidak ditentukan oleh besarnya tekanan lumpur
pemboran yang digunakan. Akibatnya, tekanan runtuh (collapse pressure)
meningkat secara terus-menerus selama periode paparan lubang bor terbuka
(open-hole exposure), sedangkan tekanan runtuh pada waktu hingga kegagalan
kritis menentukan tekanan lumpur minimum yang diperlukan untuk
mempertahankan kestabilan lubang bor. Dengan demikian, kestabilan lubang bor
harus dipahami sebagai suatu proses tekanan-waktu-temperatur (pressure-timetemperature)
yang terus berkembang, bukan sebagai kondisi mekanika statis yang
hanya ditentukan segera setelah pembentukan lubang bor.
Metodologi analitik terpadu yang dikembangkan dalam disertasi ini
menggabungkan anomali termal yang berkaitan dengan oksidasi pirit, evolusi
tekanan pori termo-poroelastik, retensi hidrolika, deformasi creep Norton-Bailey,
degradasi kekuatan yang dikendalikan oleh hubungan Arrhenius, waktu hingga
kegagalan (time-to-failure), serta evolusi tekanan runtuh yang bergantung pada
waktu ke dalam suatu interpretasi yang konsisten secara fisik mengenai
ketidakstabilan lubang bor yang tertunda. Secara keseluruhan, temuan penelitian
ini membangun perspektif baru dalam memahami evolusi yang saling berinteraksi
antara proses geologi, termal, hidrolika, dan mekanika yang mengendalikan
perilaku batulumpur selama pemboran. Metodologi yang diusulkan memberikan
dasar yang representatif secara fisik untuk memprediksi tekanan runtuh,
mengevaluasi kebutuhan tekanan lumpur yang bergantung pada waktu, serta
meningkatkan penilaian geomekanika dan perancangan pemboran pada sistem
batulumpur yang mengalami anomali termal dan bersifat reaktif secara mekanika.
Perpustakaan Digital ITB