Batik Ciwaringin merupakan batik yang berkembang melalui pesantren di Desa Babakan
sejak abad ke-18 dan hingga kini masih dijalankan sebagai bagian dari kehidupan sehari-
hari masyarakat Desa Ciwaringin. Namun, minat generasi muda untuk terlibat dalam
praktik membatik semakin menurun. Kondisi ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti
stigma terhadap profesi perajin batik, tersedianya pilihan profesi lain yang lebih
menjanjikan secara ekonomi, proses belajar yang membutuhkan waktu lama dan ketekunan
di tengah kondisi zaman yang serba instan, keterbatasan akses ke pasar, serta program
pemberdayaan yang cenderung tidak berkelanjutan. Permasalahan ini menunjukkan bahwa
regenerasi perajin menjadi isu utama yang menentukan keberlanjutan praktik membatik.
Penelitian ini bertujuan untuk memahami proses regenerasi perajin batik di Kampung Batik
Ciwaringin, memetakan sistem regenerasi yang terbentuk, serta merumuskan model
konseptual demi terciptanya keberlanjutan praktik membatik di Kampung Batik
Ciwaringin. Penelitian dilakukan melalui tiga tahap. Tahap pertama menggunakan
pendekatan etnografi untuk memetakan praktik membatik, sistem regenerasi dan
kolaborasi, serta instrumen untuk mengukur potensi regenerasi. Tahap kedua menggunakan
pendekatan Community-Based Participatory Research (CBPR) melalui aktivitas lokakarya
untuk memetakan sistem kolaborasi yang dianggap paling ideal dan sesuai dengan
kebutuhan komunitas saat ini. Tahap ketiga berupa sintesis dan refleksi untuk merumuskan
model konseptual yang menjadi inti dari penelitian ini.
Hasil penelitian menunjukkan tiga temuan utama. Pertama, pemetaan praktik membatik
menunjukkan bahwa praktik tersebut tidak hanya berkaitan dengan proses produksi, tetapi
juga dengan sistem nilai yang melandasinya. Melalui analisis axial coding, tipologi lima
nilai kriya berkelanjutan dari Zhan dan Walker (2018), yaitu nilai spiritual, lokal-kultural,
sosial, ekonomi, dan lingkungan, berkembang dengan ditemukannya nilai keenam, yaitu
nilai kolaboratif. Nilai ini muncul dari keterlibatan berbagai aktor dalam praktik membatik
dan menunjukkan bahwa kolaborasi merupakan bagian yang terintegrasi dari praktik
tersebut.
Kedua, dengan analisis menggunakan Model Paduan Regenerasi dari Nurcahyanti (2022),
Teori Pemetaan Aktor, dan Asset-Based Community Development (ABCD) dari Yusuf dkk.
(2021) ditemukan bahwa pemetaan sistem regenerasi menunjukkan proses regenerasi
berlangsung melalui empat sistem yang berbeda namun saling berkaitan. Empat sistem
regenerasi yang teridentifikasi membentuk empat konsep, yaitu bahwa regenerasi di
Kampung Batik Ciwaringin terjadi melalui pemanfaatan teknologi, kemitraan strategis,
ketahanan ekonomi, dan edukasi informal. Hasil ini juga menunjukkan bahwa regenerasi
merupakan proses yang melibatkan berbagai aktor, sumber daya, dan bentuk pembelajaran.
Hasil tersebut kemudian dikembangkan menjadi instrumen untuk mengukur potensi
regenerasi, yang dapat digunakan untuk melihat kesiapan komunitas untuk terlibat dalam
program pemberdayaan terkait regenerasi dan kolaborasi.
Ketiga, sistem regenerasi dikembangkan melalui kolaborasi internal dan eksternal, dengan
lokakarya berbasis komunitas dan partisipatif. Analisis menggunakan Model Paduan
Regenerasi dari Nurcahyanti (2022) serta Taksonomi Bloom dari Anderson dan Krathwohl
(2001) menunjukkan bahwa proses pembelajaran dalam aktivitas regenerasi berlangsung
secara bertahap dari pemahaman hingga penciptaan. Dari proses ini lahir sistem regenerasi
melalui kolaborasi serta model regenerasi kolaboratif yang menempatkan praktik
membatik sebagai pusat, dengan integrasi nilai, aktor, dan sistem pembelajaran.
Kebaruan penelitian ini terletak pada tiga hal. Pertama, pengembangan nilai kolaboratif
merupakan dimensi keenam dalam tipologi nilai kriya terkait keberlanjutan. Kedua,
integrasi berbagai model analisis untuk memetakan sistem regenerasi dan kolaborasi secara
komprehensif. Ketiga, perumusan sistem regenerasi melalui kolaborasi (internal dan
eksternal) serta model regenerasi kolaboratif. Penelitian ini menegaskan bahwa
keberlanjutan batik Ciwaringin berakar pada kemampuan komunitas dalam menjaga proses
regenerasi melalui mekanisme kolaboratif dalam kehidupan sehari-hari. Regenerasi tidak
hanya berupa pewarisan keterampilan, tetapi juga proses pembentukan kembali praktik
melalui interaksi lintas generasi dan kolaborasi antaraktor. Kontribusi utamanya terletak
pada pergeseran cara pandang dari regenerasi sebagai proses linier menjadi sistem hidup
berbasis praktik yang dinamis dan kontekstual. Dampak penelitian ini adalah memberikan
dasar operasional, konseptual, dan metodologis bagi pengembangan program
pemberdayaan dan pendidikan di bidang kriya, serta kebijakan pelestarian batik yang
berfokus pada penguatan sistem regenerasi berbasis komunitas secara kolaboratif dan
kontekstual.
Perpustakaan Digital ITB