digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Nadia Arfan [37023010]
PUBLIC Open In Flipbook Noor Pujiati.,S.Sos

Batik Ciwaringin merupakan batik yang berkembang melalui pesantren di Desa Babakan sejak abad ke-18 dan hingga kini masih dijalankan sebagai bagian dari kehidupan sehari- hari masyarakat Desa Ciwaringin. Namun, minat generasi muda untuk terlibat dalam praktik membatik semakin menurun. Kondisi ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti stigma terhadap profesi perajin batik, tersedianya pilihan profesi lain yang lebih menjanjikan secara ekonomi, proses belajar yang membutuhkan waktu lama dan ketekunan di tengah kondisi zaman yang serba instan, keterbatasan akses ke pasar, serta program pemberdayaan yang cenderung tidak berkelanjutan. Permasalahan ini menunjukkan bahwa regenerasi perajin menjadi isu utama yang menentukan keberlanjutan praktik membatik. Penelitian ini bertujuan untuk memahami proses regenerasi perajin batik di Kampung Batik Ciwaringin, memetakan sistem regenerasi yang terbentuk, serta merumuskan model konseptual demi terciptanya keberlanjutan praktik membatik di Kampung Batik Ciwaringin. Penelitian dilakukan melalui tiga tahap. Tahap pertama menggunakan pendekatan etnografi untuk memetakan praktik membatik, sistem regenerasi dan kolaborasi, serta instrumen untuk mengukur potensi regenerasi. Tahap kedua menggunakan pendekatan Community-Based Participatory Research (CBPR) melalui aktivitas lokakarya untuk memetakan sistem kolaborasi yang dianggap paling ideal dan sesuai dengan kebutuhan komunitas saat ini. Tahap ketiga berupa sintesis dan refleksi untuk merumuskan model konseptual yang menjadi inti dari penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan tiga temuan utama. Pertama, pemetaan praktik membatik menunjukkan bahwa praktik tersebut tidak hanya berkaitan dengan proses produksi, tetapi juga dengan sistem nilai yang melandasinya. Melalui analisis axial coding, tipologi lima nilai kriya berkelanjutan dari Zhan dan Walker (2018), yaitu nilai spiritual, lokal-kultural, sosial, ekonomi, dan lingkungan, berkembang dengan ditemukannya nilai keenam, yaitu nilai kolaboratif. Nilai ini muncul dari keterlibatan berbagai aktor dalam praktik membatik dan menunjukkan bahwa kolaborasi merupakan bagian yang terintegrasi dari praktik tersebut. Kedua, dengan analisis menggunakan Model Paduan Regenerasi dari Nurcahyanti (2022), Teori Pemetaan Aktor, dan Asset-Based Community Development (ABCD) dari Yusuf dkk. (2021) ditemukan bahwa pemetaan sistem regenerasi menunjukkan proses regenerasi berlangsung melalui empat sistem yang berbeda namun saling berkaitan. Empat sistem regenerasi yang teridentifikasi membentuk empat konsep, yaitu bahwa regenerasi di Kampung Batik Ciwaringin terjadi melalui pemanfaatan teknologi, kemitraan strategis, ketahanan ekonomi, dan edukasi informal. Hasil ini juga menunjukkan bahwa regenerasi merupakan proses yang melibatkan berbagai aktor, sumber daya, dan bentuk pembelajaran. Hasil tersebut kemudian dikembangkan menjadi instrumen untuk mengukur potensi regenerasi, yang dapat digunakan untuk melihat kesiapan komunitas untuk terlibat dalam program pemberdayaan terkait regenerasi dan kolaborasi. Ketiga, sistem regenerasi dikembangkan melalui kolaborasi internal dan eksternal, dengan lokakarya berbasis komunitas dan partisipatif. Analisis menggunakan Model Paduan Regenerasi dari Nurcahyanti (2022) serta Taksonomi Bloom dari Anderson dan Krathwohl (2001) menunjukkan bahwa proses pembelajaran dalam aktivitas regenerasi berlangsung secara bertahap dari pemahaman hingga penciptaan. Dari proses ini lahir sistem regenerasi melalui kolaborasi serta model regenerasi kolaboratif yang menempatkan praktik membatik sebagai pusat, dengan integrasi nilai, aktor, dan sistem pembelajaran. Kebaruan penelitian ini terletak pada tiga hal. Pertama, pengembangan nilai kolaboratif merupakan dimensi keenam dalam tipologi nilai kriya terkait keberlanjutan. Kedua, integrasi berbagai model analisis untuk memetakan sistem regenerasi dan kolaborasi secara komprehensif. Ketiga, perumusan sistem regenerasi melalui kolaborasi (internal dan eksternal) serta model regenerasi kolaboratif. Penelitian ini menegaskan bahwa keberlanjutan batik Ciwaringin berakar pada kemampuan komunitas dalam menjaga proses regenerasi melalui mekanisme kolaboratif dalam kehidupan sehari-hari. Regenerasi tidak hanya berupa pewarisan keterampilan, tetapi juga proses pembentukan kembali praktik melalui interaksi lintas generasi dan kolaborasi antaraktor. Kontribusi utamanya terletak pada pergeseran cara pandang dari regenerasi sebagai proses linier menjadi sistem hidup berbasis praktik yang dinamis dan kontekstual. Dampak penelitian ini adalah memberikan dasar operasional, konseptual, dan metodologis bagi pengembangan program pemberdayaan dan pendidikan di bidang kriya, serta kebijakan pelestarian batik yang berfokus pada penguatan sistem regenerasi berbasis komunitas secara kolaboratif dan kontekstual.