BAB I Kristian Oentoro [37023007]
Terbatas Noor Pujiati.,S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Noor Pujiati.,S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB II Kristian Oentoro [37023007]
Terbatas Noor Pujiati.,S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Noor Pujiati.,S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB III Kristian Oentoro [37023007]
Terbatas Noor Pujiati.,S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Noor Pujiati.,S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB IV Kristian Oentoro [37023007]
Terbatas Noor Pujiati.,S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Noor Pujiati.,S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB V Kristian Oentoro [37023007]
Terbatas Noor Pujiati.,S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Noor Pujiati.,S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan
Daftar Pustaka Kristian Oentoro [37023007]
Terbatas Noor Pujiati.,S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Noor Pujiati.,S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan
Lampiran Kristian Oentoro [37023007]
Terbatas Noor Pujiati.,S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Noor Pujiati.,S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan
Disertasi ini meneliti dan merumuskan model kolaborasi desain untuk kriya
berkelanjutan dalam konteks kampung wisata di Yogyakarta, dengan nilai
kebudayaan Jawa sebagai landasan utama. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh isu
krisis lingkungan (Jogja Darurat Sampah) di kawasan perkotaan, problematika
sosiokultural dalam kolaborasi, serta tuntutan keberlanjutan ekonomi di sektor
kriya. Yogyakarta juga merepresentasikan relasi yang kuat antara kriya,
kebudayaan Jawa, dan pariwisata berbasis komunitas. Dengan menggunakan
paradigma sosiologis, penelitian ini mengangkat dinamika dialektis dan ketegangan
ideologis dalam praktik kolaborasi antarkelompok artisan kriya di antara
komunitas/paguyuban (Gemeinschaft) yang mengutamakan nilai kebersamaan
(guyub) dengan industri/patembayan (Gesellschaft) yang berorientasi pada nilai
keuntungan ekonomi. Kolaborasi dalam paguyuban dibangun melalui relasi sosial
dan ikatan emosional dalam struktur informal. Sementara itu, kolaborasi dalam
konsep patembayan mengembangkan pola kerja sama yang lebih rasional,
profesional, dan terstruktur secara formal. Secara konseptual, perbedaan orientasi
antara kedua kelompok sosial ini berpotensi menimbulkan konflik, sehingga
kolaborasi desain menjadi tidak strategis dan menghambat pengembangan
berkelanjutan bagi kelompok artisan kriya. Oleh karena itu, perbedaan orientasi
kelompok artisan perlu diidentifikasi berdasarkan karakteristiknya agar dapat
menentukan posisi dalam spektrum paradigma paguyuban dan patembayan,
sehingga tercipta harmonisasi dalam kolaborasi desain untuk kriya berkelanjutan.
Namun demikian, kerangka analisis untuk mengklasifikasikan karakteristik
kelompok artisan, pola kolaborasi, dan karya kriya dalam kedua paradigma ini
masih perlu dikembangkan. Secara kontekstual, paguyuban dan patembayan dalam
kebudayaan Jawa di kampung wisata Yogyakarta juga memiliki kearifan lokal yang
memperkaya diskursus akademik global dalam kolaborasi desain dan kriya
berkelanjutan.
Berdasarkan permasalahan penelitian tersebut, penelitian ini bertujuan (a)
mengidentifikasi dan mengklasifikasikan karakteristik kelompok artisan kriya di
Yogyakarta berdasarkan tiga aspek, meliputi ideologi kelompok (people), proses
kolaborasi (process), dan hasil karya (product), dalam paradigma paguyuban dan
i
patembayan; serta (b) merumuskan model kolaborasi desain untuk kriya
berkelanjutan sebagai strategi harmonisasi pengembangan kelompok artisan dalam
konteks kampung wisata di Yogyakarta (place). Penelitian ini menggunakan
pendekatan kualitatif melalui studi etnografi dan Participatory Action Research
(PAR). Pengumpulan data penelitian melibatkan 38 partisipan dari 18 kelompok
artisan kriya di Yogyakarta melalui observasi partisipatoris, wawancara mendalam,
dokumentasi karya, serta diskusi kelompok terarah. Secara sistematis, kelompok
artisan kriya sebagai partisipan penelitian juga dikategorikan ke dalam empat
dimensi keberlanjutan yang mencakup budaya, lingkungan, sosial, dan ekonomi.
Selanjutnya, analisis data etnografis dilakukan secara berjenjang menggunakan
teknik kodifikasi dengan tiga wujud kebudayaan sebagai kerangka konseptual,
yaitu nilai ideologis kelompok (mentifact) sebagai aspek makro, praktik sosial
(sociofact) sebagai aspek meso, dan karya (artifact) sebagai aspek mikro.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik kelompok, kolaborasi dan karya
artisan kriya di Yogyakarta tidak bersifat dikotomis, melainkan memiliki spektrum
yang dinamis di antara domain paguyuban dan domain patembayan. Berdasarkan
analisis data etnografi, penelitian ini memetakan 12 komponen indikator klasifikasi
untuk mengidentifikasi karakteristik kelompok, kolaborasi, dan karya kriya. Model
klasifikasi ini memposisikan kelompok artisan pada spektrum paguyuban kriya dan
patembayan kriya. Secara mikro (artifact), klasifikasi ini juga memetakan elemen
elemen dalam identifikasi karakteristik karya, yakni: Identitas, Material, Produk,
Estetika, Konsep, dan Teknik yang disingkat menjadi IMPEKT. Berdasarkan
temuan etnografis dan proses PAR sebagai uji model, disertasi ini merumuskan
panduan klasifikasi kelompok artisan dan model Loka Desain untuk kriya
berkelanjutan yang terdiri dari enam tahapan, yakni: menemukan bersama (co
finding), mendefinisikan bersama (co-defining), mengembangkan ide bersama (co
ideation), berkarya bersama (co-crafting), mengevaluasi bersama (co-evaluation),
dan merencanakan bersama (co-planning). Melalui refleksi dinamika antara domain
paguyuban kriya dan patembayan kriya, sintesis penelitian ini merekomendasikan
pembentukan pakaryan kriya (studio kolektif) sebagai entitas baru yang
mengharmoniskan jiwa gotong royong dan nilai kebersamaan (guyub) dengan
kepentingan ekonomi melalui komersialisasi hasil karya kolaboratif. Sebagai
strategi desain, pembentukan pakaryan kriya merupakan proses transformasi sosial
yang tidak menghilangkan karakteristik paguyuban kriya maupun patembayan
kriya. Dengan demikian, disertasi ini berkontribusi secara teoretis dalam
memperluas diskursus kolaborasi desain dan kriya berkelanjutan dalam konteks
kampung wisata berbasis nilai-nilai kebudayaan Jawa di Yogyakarta. Secara
praktis, disertasi ini menghasilkan panduan klasifikasi kelompok artisan kriya serta
model kolaborasi desain sebagai strategi pengembangan kelompok artisan kriya
yang berkelanjutan di kampung wisata.
Perpustakaan Digital ITB