digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Hilda Rizki Ardhani
PUBLIC Open In Flipbook Esha Mustika Dewi

Gangguan pencernaan yang meningkat di Indonesia memicu pengembangan probiotik Lactobacillus acidophilus, namun viabilitasnya mudah menurun akibat panas dan kondisi asam di dalam tubuh. Oleh karena itu, diperlukan metode mikroenkapsulasi untuk melindungi bakteri tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kombinasi bahan penyalut berupa tepung kaya prebiotik dan hidrokoloid terhadap viabilitas probiotik, menentukan pengaruh kondisi operasi spray drying terhadap viabilitas probiotik setelah proses pengeringan, serta menganalisis pengaruh mikroenkapsulasi terhadap stabilitas probiotik selama proses penyimpanan. Enkapsulasi dilakukan menggunakan variasi inulin (5%, 10%) dan sodium alginat (0,3%, 0,5%, 1%) pada temperatur inlet 120°C dan 150°C. Hasil menunjukkan efisiensi enkapsulasi tertinggi dalam mempertahankan viabilitas diperoleh pada formulasi 10% inulin + 1% sodium alginat pada 120°C (12,38 ± 1,48%). Peningkatan temperatur inlet terbukti menurunkan viabilitas awal probiotik, namun menghasilkan stabilitas penyimpanan bubuk yang lebih baik. Karakteristik fisik seperti kadar air (3,22 – 6,38%) tergolong memenuhi persyaratan standar mutu, sementara higroskopisitas (10,44 – 12,68%) seluruh sampel tergolong moderat higroskopis, dimana keduanya dipengaruhi secara signifikan oleh temperatur inlet. Uji stabilitas penyimpanan menunjukkan bahwa sel terenkapsulasi jauh lebih stabil dibandingkan sel bebas yang punah total dalam 6 hari, di mana sel terenkapsulasi masih terdeteksi setelah 30 hari. Lebih lanjut, uji in vitro sekuensial mengonfirmasi bahwa matriks inulin-alginat mampu mempertahankan viabilitas sel dari 5,7 menjadi 4,8 log CFU/mL melalui fase Simulated Gastric Fluid dan Simulated Intestinal Fluid, sedangkan sel bebas mengalami kematian total.