Makalah ini mengidentifikasi dan membuktikan faktor-faktor krusial yang
memengaruhi kinerja dan ketahanan usaha ritel kecil independen di Indonesia
pasca pandemi melalui penelitian empiris, dengan fokus wilayah di Jawa Barat.
Menanggapi tekanan yang meningkat akibat disrupsi digital, perubahan perilaku
konsumen, dan pergeseran rantai pasok pasca COVID-19, penelitian ini
mengeksplorasi bagaimana peritel tradisional dapat beradaptasi dan bertahan.
Berlandaskan pada model Technology-to-Performance Chain (TPC) dan teori
strategi ritel, studi ini menguji sebuah kerangka konseptual yang mencakup enam
konstruk: Perencanaan Strategis, Strategi Bisnis Fungsional, Hubungan Peritel–
Pemasok, Program Loyalitas Konsumen, Teknologi Ritel, dan Kinerja Peritel.
Dengan menggunakan pendekatan Structural Equation Modeling (SEM) melalui
SmartPLS, data dari 369 responden dianalisis untuk menguji hubungan langsung
dan mediasi antar konstruk tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
Hubungan Peritel–Pemasok dan Program Loyalitas Konsumen secara signifikan
meningkatkan kinerja. Teknologi Ritel memainkan peran ganda, memengaruhi
loyalitas secara langsung maupun tidak langsung. Sebaliknya, Perencanaan
Strategis tidak berpengaruh langsung terhadap loyalitas konsumen, yang
mengindikasikan bahwa dalam konteks ritel informal, pelaksanaan operasional
lebih berpengaruh dibandingkan perencanaan strategis yang bersifat abstrak.
Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pengembangan teori model kinerja
ritel dengan memperluas kerangka TPC dan model Runyan & Droge (2008) ke
dalam konteks pasar negara berkembang. Selain itu, studi ini menawarkan
panduan praktis bagi manajer ritel, pemilik usaha kecil, dan pembuat kebijakan
untuk menekankan pentingnya adopsi teknologi, peningkatan operasional, dan
kolaborasi dengan pemasok dalam mendorong pertumbuhan ritel yang
berkelanjutan.
Perpustakaan Digital ITB