digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Penggunaan air terproduksi sebagai fluida perekah merupakan terobosan dalam memanfaatkan air terproduksi untuk mengatasi masalah biaya, lingkungan dan keterbatasan air tawar di lapangan. Namun, penerapan praktis air terproduksi menghadapi beberapa tantangan akibat komposisinya yang kompleks, yang mencakup ion monovalent dan divalent yang dapat memengaruhi reologi fluida perekah. Studi terbaru menunjukkan bahwa kerusakan formasi akibat invasi fluida perekah disebabkan oleh ketidakcocokan fluida perekah dengan air di dalam reservoir, proses flow-back yang tidak sempurna, serta adanya zat makromolekul dalam filtrat fluida perekah. Kerusakan formasi ini ditandai oleh menurunnya permeabilitas pada zona muka rekahan yang disebut return permeability. Pengujian return permeability dilakukan dengan membandingkan permeabilitas setelah dan sebelum perekahan. Penelitian terdahulu mengenai return permeability berfokus pada pengaruh residu atau clay swelling yang dilakukan secara parsial, dan belum mempertimbangkan ion-ion yang terkandung di dalam air terproduksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi mekanisme return permeability khususnya pada dinding rekahan dengan mempertimbangkan keberadaan ion barium yang terkandung di dalam air terproduksi. Pemahaman mekanisme return permeability pada penelitian ini dilakukan melalui mekanisme interaksi ion barium dengan Hydroxypropyl Guar (HPG) dan interkasi fluida perekah dengan mineral kaolinit. Penelitian ini dilakukan dalam 4 (empat) tahap: pertama, pengujian karakteristik air terproduksi; kedua, pengujian fluid to fluid; ketiga, pengujian fluid to mineral; dan keempat, pengujian return permeability. Pengujian pertama bertujuan untuk mengetahui karakteristik air terproduksi yang meliputi analisis kandungan ion, total dissolved solid (TDS), pH, dan salinitas. Pengujian fluid to fluid menguji viskositas, break time, dan residu fluida perekah. Pengujian fluid to mineral untuk mengindentifikasi mekanisme pseudo-swelling mineral kaolinit. Pengujian keempat adalah pengujian return permeability untuk melihat penurunan permeabilitas akibat invasi fluida perekah yang dapat menyebabkan kerusakan formasi. Hasil penelitian menunjukkan mekanisme return permeability dominan disebabkan oleh adanya residu dari polimer. Hal tersebut terlihat dari kenaikan nilai return permeability akibat penurunan kecepatan pseudo-swelling sebesar 2,2%, sedangkan kenaikan nilai return permeability akibat penuruan residu polimer sebesar 78,8%. Penurunan permeabilitas terbesar terjadi pada sampel yang menggunakan air terproduksi Lapangan Tanjung dengan kandungan ion barium 75 ppm. Pada sampel tersebut nilai return permeability sebesar 7,57% yang diakibatkan oleh adanya residu sebanyak 380 mg/L dan pseudo-swelling sebesar 2,39%. Kerusakan formasi yang ditimbulkan meningkatkan nilai skin pada zona fracture face menjadi 14,7 dan menurunkan produktifitas aliran sebesar 79%.