Cabai rawit (Capsicum frutescens L.) merupakan komoditas hortikultura
bernilai ekonomi tinggi dengan permintaan pasar yang terus meningkat. Salah satu
kendala utama dalam budidaya cabai rawit adalah penyakit layu fusarium yang
disebabkan oleh infeksi Fusarium oxysporum. Pengendalian penyakit secara
konvensional menggunakan fungisida sintetik dinilai kurang berkelanjutan karena
berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan serta resistensi patogen.
Penelitian ini mengusulkan penggunaan Trichoderma harzianum sebagai agen
biokontrol alternatif dalam menekan perkembangan penyakit layu fusarium pada
tanaman cabai rawit. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh inokulasi
Trichoderma harzianum dan Fusarium oxysporum terhadap kadar klorofil, vitamin
c, capsaicin, komponen hasil, dan produktivitas tanaman cabai rawit. Penelitian
dilaksanakan di screen house menggunakan empat taraf perlakuan dengan tiga
ulangan, yaitu K0 (tanpa inokulasi agen hayati), K1 (inokulasi Fusarium
oxysporum), K2 (inokulasi Fusarium oxysporum dan Trichoderma harzianum),
serta K3 (inokulasi Trichoderma harzianum). Pengukuran kadar klorofil dan
vitamin c dilakukan menggunakan spektrofotometer UV-Vis, sedangkan
pengukuran kadar capsaicin dilakukan menggunakan High Performance Liquid
Chromatography (HPLC). Pengamatan dilakukan pada usia 44 hingga 143 hari
setelah tanam (HST). Data dianalisis secara statistik menggunakan One-Way
ANOVA dan uji lanjut Tukey pada taraf kepercayaan 95%. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa perlakuan K3 menghasilkan kadar klorofil total tertinggi
ix
sebesar 33,111 mg dan menunjukkan perbedaan nyata antar perlakuan pada fase
vegetatif awal (58 HST). Namun, kadar klorofil total tidak menunjukkan perbedaan
nyata pada pengamatan 65–143 HST. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh kerusakan
jaringan mesofil daun akibat serangan hama tungau kuning dan proses penuaan
alami tanaman. Kadar vitamin c menunjukkan perbedaan nyata hanya pada usia 122
HST, di mana perlakuan K0 menghasilkan nilai terendah sebesar 2,674 mg.
Sedangkan, perlakuan K1 dan K2 menunjukkan kadar vitamin c lebih tinggi yang
diduga berkaitan dengan kapasitas fotosintesis tanaman yang lebih terjaga.
Akumulasi capsaicin mencapai puncak pada usia 136 HST dengan perlakuan K1
menunjukkan kadar terendah sebesar 159,216 mg secara signifikan. Parameter
pertumbuhan generatif yang meliputi jumlah buah per tanaman, bobot buah per
butir, dan panjang buah tidak menunjukkan perbedaan nyata antar perlakuan pada
seluruh waktu pengamatan. Jumlah buah berkisar antara 10-41 buah per tanaman,
panjang buah 3,493-4,459 cm, dan bobot buah per butir berkisar antara 1,911-2,857
g. Produktivitas seluruh perlakuan berkisar antara 0,033–2,148 ton·ha?¹.
Rendahnya produktivitas tersebut dipengaruhi oleh serangan hama tungau kuning
yang menekan aktivitas fotosintesis tanaman, penggunaan media tanam yang tidak
disterilisasi, waktu aplikasi dan dosis inokulum yang belum optimal, serta tidak
adanya pemberian pupuk tambahan. Secara keseluruhan, Trichoderma harzianum
berpotensi dikembangkan sebagai agen biokontrol yang mampu menjaga integritas
fisiologis tanaman dan kualitas metabolit sekunder cabai rawit, khususnya pada
fase vegetatif awal dalam mendukung sistem pertanian berkelanjutan.
Perpustakaan Digital ITB