digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Nuriana Humairoh
PUBLIC Open In Flipbook Esha Mustika Dewi

Cabai rawit (Capsicum frutescens L.) merupakan komoditas hortikultura bernilai ekonomi tinggi dengan permintaan pasar yang terus meningkat. Salah satu kendala utama dalam budidaya cabai rawit adalah penyakit layu fusarium yang disebabkan oleh infeksi Fusarium oxysporum. Pengendalian penyakit secara konvensional menggunakan fungisida sintetik dinilai kurang berkelanjutan karena berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan serta resistensi patogen. Penelitian ini mengusulkan penggunaan Trichoderma harzianum sebagai agen biokontrol alternatif dalam menekan perkembangan penyakit layu fusarium pada tanaman cabai rawit. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh inokulasi Trichoderma harzianum dan Fusarium oxysporum terhadap kadar klorofil, vitamin c, capsaicin, komponen hasil, dan produktivitas tanaman cabai rawit. Penelitian dilaksanakan di screen house menggunakan empat taraf perlakuan dengan tiga ulangan, yaitu K0 (tanpa inokulasi agen hayati), K1 (inokulasi Fusarium oxysporum), K2 (inokulasi Fusarium oxysporum dan Trichoderma harzianum), serta K3 (inokulasi Trichoderma harzianum). Pengukuran kadar klorofil dan vitamin c dilakukan menggunakan spektrofotometer UV-Vis, sedangkan pengukuran kadar capsaicin dilakukan menggunakan High Performance Liquid Chromatography (HPLC). Pengamatan dilakukan pada usia 44 hingga 143 hari setelah tanam (HST). Data dianalisis secara statistik menggunakan One-Way ANOVA dan uji lanjut Tukey pada taraf kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan K3 menghasilkan kadar klorofil total tertinggi ix sebesar 33,111 mg dan menunjukkan perbedaan nyata antar perlakuan pada fase vegetatif awal (58 HST). Namun, kadar klorofil total tidak menunjukkan perbedaan nyata pada pengamatan 65–143 HST. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh kerusakan jaringan mesofil daun akibat serangan hama tungau kuning dan proses penuaan alami tanaman. Kadar vitamin c menunjukkan perbedaan nyata hanya pada usia 122 HST, di mana perlakuan K0 menghasilkan nilai terendah sebesar 2,674 mg. Sedangkan, perlakuan K1 dan K2 menunjukkan kadar vitamin c lebih tinggi yang diduga berkaitan dengan kapasitas fotosintesis tanaman yang lebih terjaga. Akumulasi capsaicin mencapai puncak pada usia 136 HST dengan perlakuan K1 menunjukkan kadar terendah sebesar 159,216 mg secara signifikan. Parameter pertumbuhan generatif yang meliputi jumlah buah per tanaman, bobot buah per butir, dan panjang buah tidak menunjukkan perbedaan nyata antar perlakuan pada seluruh waktu pengamatan. Jumlah buah berkisar antara 10-41 buah per tanaman, panjang buah 3,493-4,459 cm, dan bobot buah per butir berkisar antara 1,911-2,857 g. Produktivitas seluruh perlakuan berkisar antara 0,033–2,148 ton·ha?¹. Rendahnya produktivitas tersebut dipengaruhi oleh serangan hama tungau kuning yang menekan aktivitas fotosintesis tanaman, penggunaan media tanam yang tidak disterilisasi, waktu aplikasi dan dosis inokulum yang belum optimal, serta tidak adanya pemberian pupuk tambahan. Secara keseluruhan, Trichoderma harzianum berpotensi dikembangkan sebagai agen biokontrol yang mampu menjaga integritas fisiologis tanaman dan kualitas metabolit sekunder cabai rawit, khususnya pada fase vegetatif awal dalam mendukung sistem pertanian berkelanjutan.