Penurunan produksi kangkung (Ipomoea reptans) di Indonesia akibat perubahan iklim dan keterbatasan ketersediaan air mendorong penerapan strategi irigasi yang lebih efisien tanpa mengorbankan produktivitas maupun kualitas fitokimia tanaman. Varietas kangkung berbatang ungu, seperti Kangu 71, memiliki kandungan antosianin yang lebih tinggi dibandingkan varietas berbatang hijau sehingga berpotensi memberikan nilai gizi yang lebih tinggi. Namun, pengaruh defisit air melalui sistem irigasi tetes terhadap biosintesis antosianin serta kinerja agronomis varietas tersebut masih belum banyak dikaji. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh variasi volume irigasi tetes terhadap pertumbuhan vegetatif, produksi biomassa, dan kualitas pigmen kangkung ungu (Ipomoea reptans var. Kangu 71). Penelitian dilaksanakan di screen house Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati, Institut Teknologi Bandung menggunakan rancangan acak lengkap dengan empat perlakuan dan enam ulangan. Perlakuan terdiri atas P1 (irigasi manual 50% kapasitas lapang (KL), 300 mL/tanaman), P2 (irigasi tetes 50% KL, 300 mL/tanaman), P3 (irigasi tetes 37,5% KL, 225 mL/tanaman), dan P4 (irigasi tetes 25% KL, 150 mL/tanaman). Perlakuan irigasi tetes mulai diterapkan pada 19 HST dengan frekuensi satu kali sehari, kemudian menjadi satu kali setiap tiga hari mulai 25 HST. Pemanenan dilakukan pada 31 HST. Parameter yang diamati meliputi tinggi tanaman, diameter batang, jumlah daun, luas daun total dan luas daun individu, bobot basah dan bobot kering tajuk serta akar, rasio tajuk–akar, serta kandungan klorofil a, klorofil b, klorofil a+b, karotenoid, dan antosianin. Analisis statistik dilakukan menggunakan analisis ragam (ANOVA) satu arah yang dilanjutkan dengan uji lanjut Tukey. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penurunan volume air irigasi tetes hingga 25% KL tidak memberikan pengaruh yang nyata (p > 0,05) terhadap seluruh parameter pertumbuhan vegetatif, hasil biomassa total, maupun rasio tajuk–akar dibandingkan dengan perlakuan kontrol. Selain itu, penurunan volume air tersebut juga tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap kandungan antosianin, klorofil a,
klorofil b, klorofil a+b, maupun karotenoid. Kelembapan media tanam pada seluruh perlakuan berada pada kisaran yang sempit, yaitu 34,26–36,38%, yang menunjukkan bahwa media tanam memiliki kapasitas penyangga air yang tinggi akibat kandungan bahan organik yang relatif tinggi (C-organik 4,21%). Berdasarkan hasil penelitian, penggunaan irigasi tetes dengan volume air sebesar 25% KL merupakan perlakuan terbaik karena mampu menghemat penggunaan air secara optimal tanpa mengorbankan pertumbuhan, hasil biomassa, maupun kandungan pigmen kangkung ungu.
Perpustakaan Digital ITB