COVER Hanif Yusran Makarim
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 1 Hanif Yusran Makarim
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 2 Hanif Yusran Makarim
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 3 Hanif Yusran Makarim
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 4 Hanif Yusran Makarim
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 5 Hanif Yusran Makarim
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
PUSTAKA Hanif Yusran Makarim
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
Sawi-sawian merupakan salah satu komoditas sayuran utama dengan tingkat konsumsi tertinggi ke-5 di Indonesia, dengan rata-rata konsumsi mencapai 0,047 kg/kapita/minggu atau berkontribusi sebesar 8,99% dari total konsumsi kelompok sayuran nasional. Di antara kelompok tersebut, sawi pagoda atau tatsoi (Brassica rapa subsp. narinosa) memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai pangan fungsional multiguna di berbagai fase pertumbuhannya. Dengan mempertimbangkan keterbatasan lahan, metode hidroponik rakit apung atau Deep Water Culture (DWC) digunakan sebagai solusi produksi yang sederhana dan optimal pada ruang terbatas. Namun, efektivitas DWC sangat bergantung pada pengelolaan aerasi dan kualitas larutan nutrisi karena aerasi konvensional belum tentu menghasilkan kondisi zona akar yang stabil dan efisien. Oleh karena itu, rekayasa air berbasis teknologi gelembung ultra halus atau ultrafine bubble (UFB) digunakan untuk mengoptimalkan pertumbuhan biomassa vegetatif tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh variasi intensitas perlakuan UFB terhadap persebaran partikel, efisiensi serapan larutan nutrisi, efisiensi penggunaan energi, muatan energi biomassa, serta menentukan perlakuan paling optimal pada pertumbuhan sawi pagoda. Penelitian dilakukan di Laboratorium Teknik 1A ITB Kampus Jatinangor pada Februari-Mei 2026 menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan dan empat ulangan. Perlakuan terdiri dari kontrol aerasi gelembung makro (P0), UFB intensitas rendah (P1), UFB intensitas moderat (P2), dan UFB intensitas tinggi (P3). Pembentukan UFB dilakukan dengan generator berbasis venturi yang memiliki rerata laju aliran 256,41 L/jam. Data dianalisis menggunakan uji statistik parametrik atau non-parametrik sesuai hasil uji pendahuluan normalitas dan homogenitas. Hasil analisis
ix
sebaran partikel menunjukkan bahwa perlakuan UFB meningkatkan konsentrasi partikel terdeteksi dalam larutan nutrisi, dengan konsentrasi sampel terintegrasi tertinggi pada P3 sebesar 9,00 × 107 partikel/mL. Namun, P1 menunjukkan distribusi ukuran paling lebar berdasarkan nilai span tertinggi, sedangkan P2 memiliki ukuran dominan terbesar berdasarkan nilai mean, mode, dan D50. Hasil ini menunjukkan bahwa peningkatan intensitas UFB tidak hanya memengaruhi jumlah partikel terdeteksi, tetapi juga mengubah struktur distribusi ukuran partikel antarperlakuan. Perlakuan UFB memberikan pengaruh signifikan terhadap pertumbuhan biomassa tajuk, dengan bobot basah dan bobot kering tajuk tertinggi pada P2 sebesar 52,20 ± 0,76 g dan 3,01 ± 0,76 g. Efisiensi penggunaan larutan nutrisi berbasis bobot basah juga berbeda signifikan antara perlakuan UFB dan kontrol, dengan P1 dan P2 masing-masing 92,21% dan 111,86% lebih efisien dibanding kontrol serta tidak berbeda signifikan satu sama lain. Berdasarkan efisiensi penggunaan listrik, parameter konversi penggunaan energi terhadap bobot segar (EUEfresh) menunjukkan nilai tertinggi pada P1 sebesar 145,99 ± 40,87 g/kWh, dibandingkan dengan P0 (kontrol), P2, dan P3 yang masing-masing sebesar 15,51 ± 9,48; 16,23 ± 4,50; dan 6,39 ± 1,23 g/kWh. Hal ini menunjukkan bahwa P1 menghasilkan biomassa segar dengan penggunaan energi listrik paling efisien karena durasi pembentukan UFB yang lebih singkat dibandingkan P2 dan P3.. Akumulasi energi biomassa berbasis bobot kering mencapai nilai tertinggi pada P1 (0,039 ± 0,009 MJ) dan P2 (0,044 ± 0,011 MJ) yang saling tidak berbeda signifikan. Dengan demikian, perlakuan UFB intensitas rendah hingga moderat dapat dinyatakan sebagai rentang perlakuan paling potensial, dengan P1 unggul secara signifikan pada efisiensi penggunaan energi listrik, sedangkan P2 menunjukkan nilai tertinggi pada pertumbuhan biomassa, efisiensi penggunaan larutan nutrisi, serta akumulasi energi biomassa, tetapi tidak berbeda signifikan dengan P1 pada beberapa parameter utama..
Perpustakaan Digital ITB