digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Abstrak_Novalinda Hanagrasia Konom
PUBLIC Open In Flipbook Perpustakaan Prodi Arsitektur

Ekosistem mangrove merupakan bagian penting dari kawasan pesisir yang berperan dalam menjaga stabilitas lingkungan melalui fungsi perlindungan pantai, pengaturan sistem hidrologi pasang surut, penyediaan habitat bagi berbagai organisme, serta pemeliharaan kualitas perairan. Selain peran ekologis tersebut, kawasan mangrove juga memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai ruang wisata berbasis alam. Namun, pemanfaatan yang tidak dikelola secara berkelanjutan berisiko menimbulkan degradasi lingkungan, seperti gangguan sistem hidrologi, penurunan kualitas vegetasi, dan berkurangnya fungsi habitat. Kondisi ini juga ditemukan pada Kawasan Mangrove dan Penangkaran Buaya Blanakan di Kabupaten Subang yang memiliki fungsi konservasi dan wisata secara bersamaan. Penelitian ini bertujuan untuk menyusun kriteria pengembangan lanskap yang mengintegrasikan prinsip desain ekologi dan wisata berkelanjutan pada Kawasan Mangrove dan Penangkaran Buaya Blanakan, dengan fokus pada upaya menyeimbangkan pelestarian ekosistem mangrove dan habitat satwa serta pemanfaatan kawasan untuk kegiatan wisata yang bersifat edukatif dan terkendali. Penelitian menggunakan metode deskriptif-analitis dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Data yang dianalisis meliputi data primer dan sekunder yang mencakup aspek fisik, biologi, dan kultural kawasan. Analisis didasarkan pada konsep desain ekologi lanskap dan pariwisata berkelanjutan dengan penekanan pada karakter spasial, sistem hidrologi, kondisi vegetasi mangrove, konektivitas habitat, serta hubungan antara aktivitas manusia dan sistem ekologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengembangan lanskap kawasan Blanakan perlu dipahami sebagai pengelolaan sistem ekologis yang dinamis. Sistem hidrologi menjadi faktor kunci dalam menjaga keberlanjutan ekosistem mangrove dan habitat penangkaran buaya. Penelitian ini merumuskan kriteria pengembangan lanskap yang mencakup manajemen hidrologi, konektivitas ekosistem dan ruang, komunitas vegetasi, pengelolaan habitat satwa liar, serta pengaturan fasilitas wisata.