Produksi dari Lapangan Arun dan South Lhok Sukon (SLS) yang berasal dari
reservoir batuan karbonat Formasi Peutu berumur Miosen Awal saat ini telah
mencapai faktor perolehan 94%, berdasarkan laporan produksi internal PT Pema
Global Energi (PGE). Oleh karena itu, untuk memperpanjang umur Blok “B”
diperlukan kegiatan eksplorasi dengan tujuan menemukan cadangan migas baru.
Sebagai operator, PGE telah melakukan program eksplorasi yang cukup ekstensif
dengan melakukan kegiatan akuisisi seismik tiga dimensi (3D) seluas 610 km2 serta
pemboran 2 sumur eksplorasi. Kegiatan tersebut berhasil menemukan cadangan gas
dan kondensat baru pada reservoir batupasir Formasi Lower Seurula berumur
Miosen Akhir. Namun demikian, studi yang ada hingga saat ini belum dapat
membuktikan secara langsung bahwa gas dan kondensat tersebut berasal dari
batuan induk Formasi Baong maupun Formasi Bampo. Oleh karena itu, studi ini
bertujuan untuk menentukan batuan induk bagi gas dan kondensat pada reservoir
batupasir Lower Seurula berdasarkan karakteristik sampel batuan induk, gas, dan
kondensat, serta mengkorelasikan ketiganya. Berdasarkan hal tersebut,
karakterisasi dan korelasi sampel batuan dan hidrokarbon, dalam studi ini adalah
gas dan kondensat, merupakan metodologi yang sesuai untuk diaplikasikan dalam
evaluasi hubungan genetik diantara sampel-sampel tersebut.
Data utama yang digunakan merupakan data gas dan kondensat dari 2 sumur
penemuan, AOB-1 dan Rayeu CA, serta dilengkapi dengan data kondensat dari
separator Lapangan Arun-SLS. Selain itu, data fluida dari sumur Arun A-1 dan
Cluster II juga digunakan sehingga secara keseluruhan terdapat 9 sampel fluida
untuk dianalisis. Komposisi gas dari sumur Rayeu CA menunjukkan bahwa gas
tersebut merupakan wet gas yang terbentuk secara termogenik. Berdasarkan data
isotop karbon stabil etana-propana, gas tersebut berasal dari batuan induk dengan
tingkat kematangan termal tinggi, setara dengan reflektansi vitrinit ~2,0 %.Ro. Data
PVT pada sumur AOB-1, Arun A-1 dan Cluster II menunjukkan bahwa jenis
kondensatnya merupakan retrograde condensate, yang umumnya mengindikasikan
batuan induk dengan kerogen tipe II atau II/III pada tingkat kematangan termal
tinggi. Berdasarkan komposisi SANA, sampel fluida menunjukkan tingkat
kematangan yang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan sampel batuan induk.
Distribusi n-alkana, terpana, dan rasio sterana secara umum mengindikasikan
ii
material organik yang berasal dari alga laut dengan kontribusi minor tumbuhan
tingkat tinggi, sedangkan data aromatik menunjukkan bahwa sampel kondensat
memiliki tingkat kematangan relatif tinggi dengan reflektansi vitrinit ekuivalen
sebesar 0,88-1,08% atau “peak mature”.
Sebanyak 316 sampel cuttings dari 4 sumur Arun, 2 sampel core dari 2 sumur Arun,
serta 45 sampel cuttings yang diperoleh dari publikasi dianalisis dalam penelitian
ini. Log geokimia dari setiap sumur dibangun untuk mengetahui karakteristik
kandidat batuan induk yang berpotensi. Secara kuantitatif, hampir seluruh interval
mulai dari Formasi Keutapang, Upper dan Lower Seurula, Baong, Peutu, Bampo
hingga Bruksah memiliki potensi sebagai batuan induk dengan TOC 1-2 wt.% dan
kerogen tipe II atau II/III. Gas chromatogram pada setiap interval memperkuat
interpretasi bahwa material organik dominan berasal dari lingkungan laut dengan
sedikit kontribusi dari tumbuhan tingkat tinggi. Berdasarkan data reflektansi vitrinit
dan Tmax, sampel-sampel yang berasal dari Tinggian Arun menunjukkan bahwa
kandidat batuan induk masih berada pada tingkat kematangan termal “immature”,
sementara pada Subcekungan Lhok Sukon Deep, berdasarkan data sumur East Arun
A-1, Formasi Baong bagian bawah hingga Formasi Bruksah telah mencapai tingkat
kematangan “early mature”.
Data isotop karbon pada sampel kondensat menunjukkan bahwa kondensat relatif
lebih ringan, lebih kaya akan 13C, dibandingkan dengan sampel batuan induk.
Diagram karbon isotop ?13C Saturat terhadap ?13C Aromatik menunjukkan bahwa
kondensat berasal dari material organik laut dengan kontribusi minor dari material
organik darat, serta mengindikasikan bahwa kondensat Arun, Rayeu CA, dan AOB-
1 kemungkinan besar berasal dari batuan induk Formasi Bampo. Berdasarkan
distribusi n-alkana, kondensat Arun, SLS, AOB-1, dan Rayeu CA menunjukkan
pola unimodal dengan nC15-nC17-nC19 lebih tinggi dibandingkan nC27-nC29-nC31,
serta nC23-nC31 (ganjil) yang rendah, yang mengindikasikan pengaruh dominan
material organik laut dengan kontribusi minor dari komponen darat. Distribusi
nC20+ yang melandai pada sampel-sampel kondensat berkorelasi baik dengan
distribusi nC20+ pada sampel batuan Formasi Bampo. Berdasarkan hasil tersebut,
dapat disimpulkan bahwa gas dan kondensat pada reservoir Formasi Lower Seurula
berasal dari batuan induk Formasi Bampo di area Subcekungan Lhok Sukon Deep
yang lebih dalam.
Perpustakaan Digital ITB