digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Produksi dari Lapangan Arun dan South Lhok Sukon (SLS) yang berasal dari reservoir batuan karbonat Formasi Peutu berumur Miosen Awal saat ini telah mencapai faktor perolehan 94%, berdasarkan laporan produksi internal PT Pema Global Energi (PGE). Oleh karena itu, untuk memperpanjang umur Blok “B” diperlukan kegiatan eksplorasi dengan tujuan menemukan cadangan migas baru. Sebagai operator, PGE telah melakukan program eksplorasi yang cukup ekstensif dengan melakukan kegiatan akuisisi seismik tiga dimensi (3D) seluas 610 km2 serta pemboran 2 sumur eksplorasi. Kegiatan tersebut berhasil menemukan cadangan gas dan kondensat baru pada reservoir batupasir Formasi Lower Seurula berumur Miosen Akhir. Namun demikian, studi yang ada hingga saat ini belum dapat membuktikan secara langsung bahwa gas dan kondensat tersebut berasal dari batuan induk Formasi Baong maupun Formasi Bampo. Oleh karena itu, studi ini bertujuan untuk menentukan batuan induk bagi gas dan kondensat pada reservoir batupasir Lower Seurula berdasarkan karakteristik sampel batuan induk, gas, dan kondensat, serta mengkorelasikan ketiganya. Berdasarkan hal tersebut, karakterisasi dan korelasi sampel batuan dan hidrokarbon, dalam studi ini adalah gas dan kondensat, merupakan metodologi yang sesuai untuk diaplikasikan dalam evaluasi hubungan genetik diantara sampel-sampel tersebut. Data utama yang digunakan merupakan data gas dan kondensat dari 2 sumur penemuan, AOB-1 dan Rayeu CA, serta dilengkapi dengan data kondensat dari separator Lapangan Arun-SLS. Selain itu, data fluida dari sumur Arun A-1 dan Cluster II juga digunakan sehingga secara keseluruhan terdapat 9 sampel fluida untuk dianalisis. Komposisi gas dari sumur Rayeu CA menunjukkan bahwa gas tersebut merupakan wet gas yang terbentuk secara termogenik. Berdasarkan data isotop karbon stabil etana-propana, gas tersebut berasal dari batuan induk dengan tingkat kematangan termal tinggi, setara dengan reflektansi vitrinit ~2,0 %.Ro. Data PVT pada sumur AOB-1, Arun A-1 dan Cluster II menunjukkan bahwa jenis kondensatnya merupakan retrograde condensate, yang umumnya mengindikasikan batuan induk dengan kerogen tipe II atau II/III pada tingkat kematangan termal tinggi. Berdasarkan komposisi SANA, sampel fluida menunjukkan tingkat kematangan yang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan sampel batuan induk. Distribusi n-alkana, terpana, dan rasio sterana secara umum mengindikasikan ii material organik yang berasal dari alga laut dengan kontribusi minor tumbuhan tingkat tinggi, sedangkan data aromatik menunjukkan bahwa sampel kondensat memiliki tingkat kematangan relatif tinggi dengan reflektansi vitrinit ekuivalen sebesar 0,88-1,08% atau “peak mature”. Sebanyak 316 sampel cuttings dari 4 sumur Arun, 2 sampel core dari 2 sumur Arun, serta 45 sampel cuttings yang diperoleh dari publikasi dianalisis dalam penelitian ini. Log geokimia dari setiap sumur dibangun untuk mengetahui karakteristik kandidat batuan induk yang berpotensi. Secara kuantitatif, hampir seluruh interval mulai dari Formasi Keutapang, Upper dan Lower Seurula, Baong, Peutu, Bampo hingga Bruksah memiliki potensi sebagai batuan induk dengan TOC 1-2 wt.% dan kerogen tipe II atau II/III. Gas chromatogram pada setiap interval memperkuat interpretasi bahwa material organik dominan berasal dari lingkungan laut dengan sedikit kontribusi dari tumbuhan tingkat tinggi. Berdasarkan data reflektansi vitrinit dan Tmax, sampel-sampel yang berasal dari Tinggian Arun menunjukkan bahwa kandidat batuan induk masih berada pada tingkat kematangan termal “immature”, sementara pada Subcekungan Lhok Sukon Deep, berdasarkan data sumur East Arun A-1, Formasi Baong bagian bawah hingga Formasi Bruksah telah mencapai tingkat kematangan “early mature”. Data isotop karbon pada sampel kondensat menunjukkan bahwa kondensat relatif lebih ringan, lebih kaya akan 13C, dibandingkan dengan sampel batuan induk. Diagram karbon isotop ?13C Saturat terhadap ?13C Aromatik menunjukkan bahwa kondensat berasal dari material organik laut dengan kontribusi minor dari material organik darat, serta mengindikasikan bahwa kondensat Arun, Rayeu CA, dan AOB- 1 kemungkinan besar berasal dari batuan induk Formasi Bampo. Berdasarkan distribusi n-alkana, kondensat Arun, SLS, AOB-1, dan Rayeu CA menunjukkan pola unimodal dengan nC15-nC17-nC19 lebih tinggi dibandingkan nC27-nC29-nC31, serta nC23-nC31 (ganjil) yang rendah, yang mengindikasikan pengaruh dominan material organik laut dengan kontribusi minor dari komponen darat. Distribusi nC20+ yang melandai pada sampel-sampel kondensat berkorelasi baik dengan distribusi nC20+ pada sampel batuan Formasi Bampo. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa gas dan kondensat pada reservoir Formasi Lower Seurula berasal dari batuan induk Formasi Bampo di area Subcekungan Lhok Sukon Deep yang lebih dalam.