BAB I Asthararianty [37022014]
Terbatas Noor Pujiati.,S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Noor Pujiati.,S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB II Asthararianty [37022014]
Terbatas Noor Pujiati.,S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Noor Pujiati.,S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB III Asthararianty [37022014]
Terbatas Noor Pujiati.,S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Noor Pujiati.,S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB IV Asthararianty [37022014]
Terbatas Noor Pujiati.,S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Noor Pujiati.,S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB V Asthararianty [37022014]
Terbatas Noor Pujiati.,S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Noor Pujiati.,S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB VI Asthararianty [37022014]
Terbatas Noor Pujiati.,S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Noor Pujiati.,S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan
Daftar Pustaka Asthararianty [37022014]
Terbatas Noor Pujiati.,S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Noor Pujiati.,S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan
Lampiran Asthararianty [37022014]
Terbatas Noor Pujiati.,S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Noor Pujiati.,S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan
Barong Ket sebagai warisan budaya takbenda masyarakat Bali memiliki fungsi
utama sebagai simbol religius yang merepresentasikan relasi spiritual antara
manusia dan Dewa dalam tradisi Hindu Bali. Penelitian ini bertujuan untuk
mengkaji visualitas Barong Ket melalui tiga aspek utama: ide, tindakan, dan
artefak. Kajian ini menempatkan visualitas Barong Ket dalam konteks komunikasi
simbolik serta proses keberlanjutan identitas budaya lokal. Dengan pendekatan ini,
penelitian berupaya mengisi kekosongan konseptual yang terdapat dalam studi
sebelumnya yang umumnya hanya mendeskripsikan fungsi dan simbol topeng
secara umum, tanpa membedah makna visual secara teoretis sebagai medium
ekspresi dan negosiasi identitas. Fokus penelitian ini terletak pada visualitas Barong
Ket sebagai praktik budaya, dengan menelaah bagaimana relasi bentuk dan warna
berfungsi dalam komunikasi visual yang membangun dan memediasi makna
simbolik serta identitas budaya masyarakat Bali.
Penelitian ini menggunakan pendekatan antropologi visual, metodologi penelitian
kualitatif dengan metode etnografis milik Spradley. Penelitian ini menyoroti peran
warna dan bentuk sebagai titik kunci dalam pembentukan makna simbolik Barong
Ket. Warna merah yang dominan direpresentasikan sebagai simbol pelindung dan
kekuatan sakral yang berakar dari ajaran lontar dan mitos. Perbedaan warna dan
bentuk di tiap daerah tidak semata-mata menunjukkan variasi artistik, tetapi
menggambarkan proses negosiasi nilai budaya dan spiritual masyarakat yang hidup
dinamis dan kontekstual. Elemen visual tersebut tidak hanya merujuk pada aspek
estetika, tetapi juga mengandung pesan spiritual yang ditransmisikan melalui
praktik budaya lintas generasi.
Penelitian ini menghasilkan tiga temuan utama. Pertama, visualitas Barong Ket
merupakan konstruksi budaya berbasis ide, praktik, dan artefak. Bentuk dan warna
berfungsi sebagai medium kehadiran dan komunikasi energi niskala. Bentuk tapel
tidak hanya berfungsi estetis, tetapi bersama warna membentuk rasa dan energi
simbolik yang berakar pada kosmologi Hindu Bali. Kedua, Barong Ket berfungsi
sebagai simbol visual dan spiritual yang mengalami transformasi makna melalui
negosiasi antara ranah sakral dan profan, tanpa menghilangkan daya sakralnya.
Transformasi ini mencerminkan mekanisme adaptif budaya, termasuk perubahan
identitas simbolik dari artefak budaya menjadi subjek spiritual hidup melalui proses
ritualisasi. Ketiga, keberlanjutan identitas visual Barong Ket berlangsung secara
dinamis melalui regenerasi partisipatif, khususnya dalam komunitas seni dan
perlombaan, yang menegaskan Barong Ket sebagai entitas budaya hidup yang terus
menegosiasikan makna, fungsi, dan visualitasnya dalam konteks sosial dan spiritual
kontemporer.
Kontribusi teoritis mengklarifikasi bahwa kontruksi visualitas dapat dilihat jauh
melebihi itu karena ada arena metafisis dan ritualnya. pada pendekatan simbolik
visual yang membuka ruang interpretasi baru tentang kedudukan objek budaya
dalam relasi antara estetika, fungsi, dan makna. Dengan demikian, Barong Ket
dipahami bukan hanya sebagai artefak budaya, tetapi sebagai entitas visual hidup
yang mereproduksi dan menegosiasikan identitas budaya dalam konteks sosial dan
spiritual yang dinamis.
Perpustakaan Digital ITB