digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Employee Stock Option (ESO) atau Program Kepemilikan Saham Karyawan merupakan instrumen kompensasi berbasis saham dengan karakteristik yang berbeda dari opsi yang diperdagangkan secara umum di pasar derivatif, seperti adanya masa tunggu (vesting period) hingga ESO hidup, keterbatasan periode pelaksanaan, risiko gugur akibat keluarnya karyawan, dan kemungkinan pelaksanaan lebih awal. Dalam praktik pencatatan keuangan, valuasi ESO masih umum dibangun di atas model Black–Scholes atau Geometric Brownian Motion (GBM) yang mengasumsikan volatilitas konstan. Asumsi ini tidak terpenuhi apabila histori harga saham menunjukkan heteroskedastisitas, volatility clustering, dan perubahan varians antarperiode. Penelitian ini membangun kerangka valuasi nilai wajar ESO berbasis model Heston Stochastic Volatility (HSV) dengan diskretisasi Euler untuk simulasi Monte Carlo. Studi kasus dilakukan pada Management and Employee Stock Ownership Program (MESOP) 2023–2028 PT Bank Jago Tbk. (ARTO.JK), dengan memperhatikan karakteristik ESO dan regulasi Indonesia. Varians laten diaproksimasi menggunakan Exponentially Weighted Moving Average (EWMA), dengan parameter variance decay ? dipilih melalui rolling-origin backtesting berdasarkan Continuous Ranked Probability Score (CRPS). Hasil pengujian data historis ARTO.JK menolak asumsi volatilitas konstan. Model GBM dan HSV–Euler yang dikalibrasi dan dibangkitkan dalam pengujian rolling-origin backtesting menunjukkan bahwa HSV–Euler memberikan CRPS lebih rendah daripada GBM, yang mengindikasikan bahwa model HSV lebih baik dalam menangkap dinamika pergerakan volatilitas maupun harga saham. Dalam valuasi ESO, dividen historis q = 0 Bank Jago menghasilkan nilai wajar lebih tinggi daripada nilai yang dilaporkan, sedangkan implicit dividend yield yang didapatkan dari valuasi model Black–Scholes dengan input sesuai laporan keuangan Bank Jago menghasilkan nilai lebih rendah dibandingkan nilai yang dilaporkan. Analisis sensitivitas mengidentifikasi faktor dominan yang mempengaruhi valuasi, seperti tingkat imbal hasil, moneyness, parameter varians jangka panjang, dan variance decay. Pada akhirnya, model berhasil memberikan kerangka valuasi yang fleksibel untuk ESO Indonesia ketika asumsi volatilitas konstan tidak terpenuhi.