Employee Stock Option (ESO) atau Program Kepemilikan Saham Karyawan merupakan
instrumen kompensasi berbasis saham dengan karakteristik yang berbeda
dari opsi yang diperdagangkan secara umum di pasar derivatif, seperti adanya masa
tunggu (vesting period) hingga ESO hidup, keterbatasan periode pelaksanaan, risiko
gugur akibat keluarnya karyawan, dan kemungkinan pelaksanaan lebih awal. Dalam
praktik pencatatan keuangan, valuasi ESO masih umum dibangun di atas model
Black–Scholes atau Geometric Brownian Motion (GBM) yang mengasumsikan volatilitas
konstan. Asumsi ini tidak terpenuhi apabila histori harga saham menunjukkan
heteroskedastisitas, volatility clustering, dan perubahan varians antarperiode. Penelitian
ini membangun kerangka valuasi nilai wajar ESO berbasis model Heston
Stochastic Volatility (HSV) dengan diskretisasi Euler untuk simulasi Monte Carlo.
Studi kasus dilakukan pada Management and Employee Stock Ownership Program
(MESOP) 2023–2028 PT Bank Jago Tbk. (ARTO.JK), dengan memperhatikan
karakteristik ESO dan regulasi Indonesia. Varians laten diaproksimasi menggunakan
Exponentially Weighted Moving Average (EWMA), dengan parameter variance
decay ? dipilih melalui rolling-origin backtesting berdasarkan Continuous Ranked
Probability Score (CRPS). Hasil pengujian data historis ARTO.JK menolak asumsi
volatilitas konstan. Model GBM dan HSV–Euler yang dikalibrasi dan dibangkitkan
dalam pengujian rolling-origin backtesting menunjukkan bahwa HSV–Euler memberikan
CRPS lebih rendah daripada GBM, yang mengindikasikan bahwa model HSV
lebih baik dalam menangkap dinamika pergerakan volatilitas maupun harga saham.
Dalam valuasi ESO, dividen historis q = 0 Bank Jago menghasilkan nilai wajar
lebih tinggi daripada nilai yang dilaporkan, sedangkan implicit dividend yield yang
didapatkan dari valuasi model Black–Scholes dengan input sesuai laporan keuangan
Bank Jago menghasilkan nilai lebih rendah dibandingkan nilai yang dilaporkan. Analisis sensitivitas mengidentifikasi faktor dominan yang mempengaruhi valuasi,
seperti tingkat imbal hasil, moneyness, parameter varians jangka panjang, dan variance
decay. Pada akhirnya, model berhasil memberikan kerangka valuasi yang
fleksibel untuk ESO Indonesia ketika asumsi volatilitas konstan tidak terpenuhi.
Perpustakaan Digital ITB