Pemanfaatan Escherichia coli sebagai inang produksi protein rekombinan sangat diminati
karena pertumbuhannya cepat, biaya produksinya rendah, dan mudah dimanipulasi secara
genetik. Saat ini, lebih dari 60% pangsa pasar keseluruhan produk protein rekombinan diserap
oleh industri farmasi. Dalam pemenuhan kebutuhan tersebut, sistem ekspresi menggunakan sel
bakteri menempati urutan pertama dan mendominasi pasar dibandingkan inang lain seperti ragi
maupun sel mamalia. Namun, aplikasi pemanfaatan E. coli untuk produk terapeutik ini
terhambat oleh keberadaan lipopolisakarida (LPS) pada membran luarnya yang bersifat
endotoksin dan dapat memicu respons inflamasi sehingga menjadi tantangan dalam produksi
protein terapeutik dan vaksin. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan desain rekayasa
galur E. coli rendah endotoksin melalui knock-out gen lpxM. Delesi gen lpxM akan
memodifikasi struktur lipid A LPS menjadi penta-asilasi yang kurang imunogenik terhadap
reseptor TLR4/MD2 sehingga menjadi less endotoxin. Galur yang telah kehilangan gen lpxM
kemudian dilakukan karakterisasi fenotipik, seperti perubahan struktur mikroskopik,
pertumbuhan sel, serta fungsIonalitasnya sebagai inang untuk ekspresi protein rekombinan.
Delesi gen dilakukan menggunakan protokol lambda red-mediated genome recombineering.
Konstruk mutasi pada penelitian ini diproduksi menggunakan primer dengan homologous arm
yang menargetkan area konservatif pada gen lpxM, sehingga desain ini dapat diaplikasikan
secara fleksibel pada berbagai galur E. coli untuk aplikasi bioteknologi. Konstruk tersebut
mengandung gen resistensi kanamisin yang diapit situs flippase recognition target (FRT) untuk
proses curing gen lanjutan. Recombineering dilakukan pada dua galur E. coli model, yaitu
BL21 (DE3) dan SCM6, serta sequencing DNA dilakukan untuk mengonfirmasi penghilangan
gen target lpxM serta curing marka resistensi. Analisis fenotipik melalui pewarnaan Gram
menunjukkan bahwa galur E. coli mutan ?lpxM tidak mengalami perubahan morfologi sel dan
karakteristik pewarnaan Gram jika dibandingkan dengan wild-type. Selain itu, diamati adanya
penurunan laju pertumbuhan spesifik pada galur SCM6 dan BL21 (DE3) mutan terhadap wildtype,
yakni 1,0 jam-1 dan 1,14 jam-1 menjadi 0,9 jam-1 dan 1,00 jam-1, meskipun secara statistik
tidak signifikan (P>0,05). Analisis produksi protein rekombinan PfCyRPA (antigen malaria)
dan IL-10 (Interleukin 10) pada E. coli BL21(DE3) menunjukkan bahwa galur mutan ?lpxM
mampu mengekspresikan kedua protein tersebut (masing-masing dengan ukuran protein
sebesar 21,58 kDa dan 22,8 kDa) pada fraksi sel total, sedangkan analisis produksi protein
rekombinan rH5-GT (kandidat vaksin glikokonjugat Hemagglutinin H5N1) di E. coli SCM6
menunjukkan bahwa ekspresi protein target (68,8 kDa) tersupresi pada galur mutan ?lpxM
dibandingkan dengan wild-type. Secara keseluruhan, galur mutan E. coli menunjukkan potensi
rekombinan dalam aplikasi vaksin dan protein terapeutik.
Perpustakaan Digital ITB