digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

PT Telkom Data Ekosistem menghadapi kesenjangan antara tuntutan regulasi PER- 2/MBU/03/2023 akan tata kelola risiko terintegrasi beserta sistem informasi manajemen risiko yang diwajibkan Pasal 47 ayat (2) huruf c, dan realitas operasional yang masih bergantung pada spreadsheet, surel, serta dokumen terfragmentasi. Kondisi ini menimbulkan tiga permasalahan: inefisiensi siklus pelaporan risiko, kerentanan terhadap kesalahan data akibat ketiadaan validasi terstruktur, serta keterputusan antara data risiko, Indikator Risiko Kunci (KRI), dan tujuan strategis korporasi yang menciptakan Strategic Blind Spot. Tugas akhir ini diposisikan dalam paradigma Design Science Research (DSR) yang berfokus pada perancangan dan evaluasi artefak teknologi untuk menyelesaikan permasalahan organisasi yang teridentifikasi. Dalam kerangka DSR tersebut, perancangan dan pembangunan artefak dilaksanakan menggunakan model Waterfall pada tumpukan teknologi Laravel 12, Livewire 3, dan PostgreSQL, menghasilkan purwarupa Sistem Informasi Manajemen Risiko Terpadu berbasis web. Sistem mengoperasionalisasikan standar ISO 31000:2018 dan Three Lines Model (IIA, 2020) melalui sepuluh modul inti, mencakup registrasi risiko dengan analisis Bow-Tie, alur kerja persetujuan berjenjang empat tahap (satu tahap validasi Risk Owner diikuti tiga tingkat tinjauan ERM), pemantauan KRI dengan notifikasi otomatis berbasis ambang batas, mekanisme risk appetite gateway, serta dasbor analitik ERM dengan lebih dari tiga puluh komponen grafik. Model data relasional yang dirancang mewujudkan rantai keterlacakan strategis (strategic traceability chain) yang menghubungkan setiap entitas risiko ke KRI, indikator kinerja, dan tujuan strategis korporasi. Evaluasi dilakukan melalui pengujian fungsional black-box terhadap dua puluh skenario dan pengujian kebergunaan komparatif terhadap delapan responden menggunakan System Usability Scale (SUS). Hasil menunjukkan reduksi waktu rata-rata 88,0%, reduksi kesalahan rata-rata ?94,3%, serta peningkatan skor SUS dari 49,06 (Poor) menjadi 80,00 (Good), membuktikan sistem berhasil memitigasi ketiga permasalahan secara terukur.