digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Abstrak_Virginia Putri Riani
PUBLIC Open In Flipbook Perpustakaan Prodi Arsitektur

Perubahan iklim (climate change) merupakan isu global yang berdampak signifikan terhadap sistem lingkungan dan kehidupan manusia, salah satunya melalui peningkatan suhu global yang memicu kenaikan muka air laut (sea level rise). Di Indonesia, laju kenaikan muka air laut dilaporkan mencapai sekitar 0,8–1,2 cm per tahun dan menunjukkan tren yang konsisten dengan pola global, terutama di wilayah pesisir utara Pulau Jawa. Berdasarkan proyeksi Indonesia Climate Change Sectoral Roadmap (ICCSR), kenaikan muka air laut di Indonesia diperkirakan terus meningkat secara kumulatif hingga mencapai 25–40 cm pada tahun 2050 dan berpotensi mencapai 50–75 cm pada akhir abad ini. Kenaikan muka air laut (sea level rise) memberikan ancaman serius bagi keberlanjutan kawasan pesisir, termasuk Desa Pulo Panjang di Teluk Banten, Kabupaten Serang. Pulau seluas sekitar 750 hektare ini dihuni oleh masyarakat yang mayoritas bermata pencaharian sebagai nelayan dan memiliki tingkat ketergantungan tinggi terhadap laut. Ketinggian lahan yang relatif rendah serta posisi pulau yang dikelilingi perairan menjadikan Pulo Panjang sangat rentan terhadap banjir rob yang semakin sering terjadi dan berdampak pada permukiman, aktivitas ekonomi, serta aksesibilitas masyarakat. Selain faktor fisik, kerentanan sosial-ekonomi masyarakat nelayan turut diperparah oleh menurunnya hasil tangkapan akibat perubahan kondisi perairan dan cuaca ekstrem. Dalam konteks ini, ekosistem mangrove memiliki peran strategis sebagai pelindung alami pesisir melalui fungsi peredaman gelombang, pengurangan abrasi, dan penangkapan sedimen. Namun, degradasi mangrove akibat tekanan pembangunan mengurangi efektivitas fungsi tersebut. Oleh karena itu, diperlukan perencanaan permukiman yang adaptif dan responsif terhadap perubahan iklim, berbasis integrasi aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi, guna meningkatkan ketahanan permukiman nelayan Pulo Panjang dalam menghadapi dampak kenaikan muka air laut di masa depan. Berdasarkan kondisi tersebut, diperlukan pendekatan perancangan kampung nelayan yang berlandaskan prinsip resiliensi untuk menciptakan lingkungan hunian yang aman, adaptif, dan berkelanjutan di tengah ancaman sea level rise. Kampung nelayan resilien di Pulo Panjang diharapkan mampu meningkatkan keselamatan dan kualitas hidup masyarakat serta menjaga keberlanjutan fungsi sosial-ekonomi dan identitas lokal masyarakat nelayan.