Stunting merupakan kondisi terhambatnya tumbuh kembang anak balita akibat malnutrisi kronis dan
infeksi berulang yang dapat berlanjut pada ketidakseimbangan mikrobiota usus. Penggunaan
antibiotik untuk infeksi menghadapi tantangan resistensi antibiotik dan berisiko
memperparah ketidakseimbangan mikrobiota usus akibat spektrumnya yang luas. Bakteriosin dapat
menjadi altematif antibiotik karena bersifat lebih spesifik dan memiliki mekanisme aksi yang
berbeda sehingga sulit terbentuk resistensi pada patogen. Bakteriosin merupakan peptida antimikroba
yang dihasilkan sebagian bakteri, terutama bakteri Gram-positif seperti bakteri asam laktat, untuk
berkompetisi dengan bakteri lain dalam mendapatkan nutrisi dan ruang ekologis. Pada penelitian
sebelumnya, isolat potensial golongan bakteri asam laktat penghasil bakteriosin, yaitu OBI 19 dan
OBI 20, telah didapatkan dari sampel fekal di Rancakalong, Kabupaten Sumedang. Tujuan dari
penelitian ini adalah (1) mengkarakterisasi golongan bakteriosin dari isolat OBI 19 dan OBI 20, dan
(2) mengkarakterisasi aktivitas bakteriosin dari isolat OBI 19 dan OBI 20. Kurva pertumbuhan dan
kurva produksi bakteriosin OBI 19 dan OBI 20 dilakukan pada media deMan, Ragasa, Sharpe (MRS)
dengan konsentrasi awal ±10? CFU/mL, pada suhu 37°C, tanpa agitasi, dan perlakuan duplikasi
biologis. Bakteriosin diekstraksi dari supematan dengan metode presipitasi amonium sulfat.
Presipitat yang terbentuk dilarutkan dalam PBS pH 7,2 sesuai volume sampel awal. Aktivitas
antimikroba dari ekstrak kasar bakteriosin ditentukan dengan uji Kirby-Bauer pada media Mueller
Hinton Agar (MHA) terhadap bakteri uji Pseudomonas aeruginosa, Staphylococcus aureus, Escherichia
coli, dan Bacillus subtilis berkonsentrasi ±10? CFU/mL. Ekstrak kasar bakteriosin ditambahkan
aseton dingin (-20°C) dengan perbandingan volume sampel dengan aseton 1:4 untuk mengurangi kadar
amonium sulfat sebelum dilakukan uji SDS-PAGE. Pelet kemudian dipekatkan 25 kali dalam PBS pH 7,2
untuk mengoptimalkan hasil visualisasi pita protein pada SDS-PAGE dengan
V
konsentrasi gel 12%. Hasil kurva pertumbuhan menunjukkan bahwa isolat OBI 19 dan OBI 20 mencapai
fase ½ log setelah 11,5 jam. Fase tersebut menjadi acuan umur inokulum yang optimal untuk produksi
bakteriosin. Hasil Kirby-Bauer dari bakteriosin OBI 19 menunjukkan rata-rata zona hambat tertinggi
terhadap P aeruginosa (4,95 mm) pada waktu panen 9 jam, terhadap S. aureus (4,15 mm) pada waktu
panen O jam, serta tidak mampu menghambat E. coli dan B. subtilis. Di sisi lain, bakteriosin OBI 20
menunjukkan rata-rata zona hambat tertinggi terhadap P aeruginosa (5,9 mm) pada waktu panen 9 jam,
terhadap S. aureus (3,55 mm) pada waktu panen O jam, serta tidak mampu menghambat E. coli dan B.
subtilis. Ekstrak kasar bakteriosin dari OBI 19 pada waktu panen 9, 18, dan 24 jam secara konsisten
menunjukkan pita protein ~42 kDa pada SDS-PAGE, sementara bakteriosin OBI 20 pada waktu panen 12,
18, dan 24 jam secara konsisten menunjukkan pita protein 42-55 kDa. Hasil ini mengindikasikan bahwa
bakteriosin dari OBI 19 dan OBI 20 tergolong ke dalam bakteriosin kelas III (>30 kDa) yang
berpotensi dikembangkan sebagai altematif antibiotik yang aman bagi mikrobiota usus serta rendah
risiko resistensi.
Perpustakaan Digital ITB