digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Zulfa Afifah
PUBLIC Open In Flipbook Esha Mustika Dewi

Stunting merupakan kondisi terhambatnya tumbuh kembang anak balita akibat malnutrisi kronis dan infeksi berulang yang dapat berlanjut pada ketidakseimbangan mikrobiota usus. Penggunaan antibiotik untuk infeksi menghadapi tantangan resistensi antibiotik dan berisiko memperparah ketidakseimbangan mikrobiota usus akibat spektrumnya yang luas. Bakteriosin dapat menjadi altematif antibiotik karena bersifat lebih spesifik dan memiliki mekanisme aksi yang berbeda sehingga sulit terbentuk resistensi pada patogen. Bakteriosin merupakan peptida antimikroba yang dihasilkan sebagian bakteri, terutama bakteri Gram-positif seperti bakteri asam laktat, untuk berkompetisi dengan bakteri lain dalam mendapatkan nutrisi dan ruang ekologis. Pada penelitian sebelumnya, isolat potensial golongan bakteri asam laktat penghasil bakteriosin, yaitu OBI 19 dan OBI 20, telah didapatkan dari sampel fekal di Rancakalong, Kabupaten Sumedang. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) mengkarakterisasi golongan bakteriosin dari isolat OBI 19 dan OBI 20, dan (2) mengkarakterisasi aktivitas bakteriosin dari isolat OBI 19 dan OBI 20. Kurva pertumbuhan dan kurva produksi bakteriosin OBI 19 dan OBI 20 dilakukan pada media deMan, Ragasa, Sharpe (MRS) dengan konsentrasi awal ±10? CFU/mL, pada suhu 37°C, tanpa agitasi, dan perlakuan duplikasi biologis. Bakteriosin diekstraksi dari supematan dengan metode presipitasi amonium sulfat. Presipitat yang terbentuk dilarutkan dalam PBS pH 7,2 sesuai volume sampel awal. Aktivitas antimikroba dari ekstrak kasar bakteriosin ditentukan dengan uji Kirby-Bauer pada media Mueller Hinton Agar (MHA) terhadap bakteri uji Pseudomonas aeruginosa, Staphylococcus aureus, Escherichia coli, dan Bacillus subtilis berkonsentrasi ±10? CFU/mL. Ekstrak kasar bakteriosin ditambahkan aseton dingin (-20°C) dengan perbandingan volume sampel dengan aseton 1:4 untuk mengurangi kadar amonium sulfat sebelum dilakukan uji SDS-PAGE. Pelet kemudian dipekatkan 25 kali dalam PBS pH 7,2 untuk mengoptimalkan hasil visualisasi pita protein pada SDS-PAGE dengan V konsentrasi gel 12%. Hasil kurva pertumbuhan menunjukkan bahwa isolat OBI 19 dan OBI 20 mencapai fase ½ log setelah 11,5 jam. Fase tersebut menjadi acuan umur inokulum yang optimal untuk produksi bakteriosin. Hasil Kirby-Bauer dari bakteriosin OBI 19 menunjukkan rata-rata zona hambat tertinggi terhadap P aeruginosa (4,95 mm) pada waktu panen 9 jam, terhadap S. aureus (4,15 mm) pada waktu panen O jam, serta tidak mampu menghambat E. coli dan B. subtilis. Di sisi lain, bakteriosin OBI 20 menunjukkan rata-rata zona hambat tertinggi terhadap P aeruginosa (5,9 mm) pada waktu panen 9 jam, terhadap S. aureus (3,55 mm) pada waktu panen O jam, serta tidak mampu menghambat E. coli dan B. subtilis. Ekstrak kasar bakteriosin dari OBI 19 pada waktu panen 9, 18, dan 24 jam secara konsisten menunjukkan pita protein ~42 kDa pada SDS-PAGE, sementara bakteriosin OBI 20 pada waktu panen 12, 18, dan 24 jam secara konsisten menunjukkan pita protein 42-55 kDa. Hasil ini mengindikasikan bahwa bakteriosin dari OBI 19 dan OBI 20 tergolong ke dalam bakteriosin kelas III (>30 kDa) yang berpotensi dikembangkan sebagai altematif antibiotik yang aman bagi mikrobiota usus serta rendah risiko resistensi.