digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Stefania Rahmatillah Sinaga
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

BAB 1 Stefania Rahmatillah Sinaga
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

BAB 2 Stefania Rahmatillah Sinaga
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

BAB 3 Stefania Rahmatillah Sinaga
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

BAB 4 Stefania Rahmatillah Sinaga
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

BAB 5 Stefania Rahmatillah Sinaga
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

BAB 6 Stefania Rahmatillah Sinaga
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

PUSTAKA Stefania Rahmatillah Sinaga
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

LAMPIRAN Stefania Rahmatillah Sinaga
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

Kawasan Transit-Oriented Development (TOD) memerlukan tingkat walkability yang baik agar pejalan kaki dapat mengakses simpul transportasi secara aman dan nyaman. Penelitian ini mengkaji walkability kawasan TOD Stasiun MRT Blok M di Jakarta Selatan menggunakan dua instrumen, yaitu Global Walkability Index (GWI) untuk mengukur kualitas fisik jalur pejalan kaki dan space syntax untuk menganalisis struktur jaringan pergerakan melalui Angular Segment Analysis di DepthmapX. Hasil kedua instrumen diintegrasikan melalui spatial join menjadi empat pola perbandingan, yang dipetakan ke dalam matriks struktur persoalan 3×3 berbasis tipologi design problems dan policy problems. Skor GWI berkisar antara 54 hingga 83 dengan rata-rata kawasan 73,75 (highly walkable). Sebanyak 12 dari 16 segmen masuk kategori highly walkable, sementara 4 segmen masuk kategori waiting to walk. Analisis space syntax menghasilkan empat tipologi, yaitu aksesibel (46,81%) untuk segmen yang mudah dijangkau namun bukan jalur utama, marginal (40,75%) untuk segmen berperan rendah dalam jaringan, dan strategis (12,44%) untuk segmen yang mudah dijangkau dan menjadi jalur lintasan utama, dan bottleneck (0%) untuk segmen jalur utama namun sulit dijangkau. Perbandingan GWI dan space syntax mengidentifikasi dua segmen Mismatch Kritis, yaitu segmen 6 (Jl. Wijaya dan permukiman sekitarnya) dan segmen 9 (area Blok M Square). Kedua segmen tersebut memiliki nilai integration radius 800 meter di atas rata-rata kawasan namun kualitas fisik jalur rendah, dengan skor GWI masing-masing adalah 54 dan 55. Kondisi ini paling merugikan karena pejalan kaki tidak memiliki alternatif selain melewati jalur berkualitas buruk tersebut. Penelitian ini menyimpulkan bahwa integrasi GWI dan space syntax menghasilkan diagnosis walkability yang lebih komprehensif dibandingkan penggunaan satu instrumen secara terpisah. Matriks struktur persoalan menunjukkan bahwa sebagian besar persoalan walkability di kawasan studi bersifat lintas kewenangan serta membutuhkan koordinasi antara beberapa instansi dan pengelola kawasan privat, karena peningkatan walkability tidak dapat dilakukan hanya melalui intervensi fisik, tetapi juga memerlukan sinergi antar pemangku kepentingan.