digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Austin Elwi
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

BAB 1 Austin Elwi
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

BAB 2 Austin Elwi
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

BAB 3 Austin Elwi
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

BAB 4 Austin Elwi
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

BAB 5 Austin Elwi
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

BAB 6 Austin Elwi
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

PUSTAKA Austin Elwi
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

LAMPIRAN Austin Elwi
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

Koridor Jalan L.L.R.E. Martadinata merupakan salah satu koridor bersejarah di Kota Bandung yang mengalami perubahan fungsi dan bentuk fisik secara bertahap. Kawasan ini pada masa awal berkembang sebagai lingkungan hunian kolonial di Bandung Utara, kemudian berubah menjadi koridor perdagangan, jasa, kuliner, wisata belanja, dan aktivitas konsumsi perkotaan. Perubahan tersebut terlihat dari berkurangnya fungsi hunian, meningkatnya fungsi komersial, pemanfaatan kembali bangunan lama, perubahan fasad, penyesuaian ruang depan, serta perubahan karakter visual kawasan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis periodisasi dan tipologi transformasi fisik pada koridor Jalan L.L.R.E. Martadinata serta menjelaskan keterkaitannya dengan dinamika komersialisasi dan gejala gentrifikasi komersial. Metode yang digunakan adalah pendekatan campuran melalui analisis spasial-temporal, analisis perubahan fungsi bangunan, observasi lapangan, interpretasi Google Street View, studi dokumen, serta wawancara. Data penelitian meliputi peta fungsi bangunan tahun 2014, 2019, 2020, dan 2026, data hak bangunan dari Bhumi ATR/BPN, dokumen tata ruang, dokumen cagar budaya, dokumentasi visual, dan hasil wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa transformasi Jalan L.L.R.E. Martadinata berlangsung melalui fase hunian kolonial, perubahan menuju fungsi jasa dan pemerintahan, penguatan factory outlet dan wisata belanja, diversifikasi hotel dan kuliner, serta komersialisasi kontemporer berbasis kafe, retail, dan ruang konsumsi gaya hidup. Pada periode 2014–2019, rumah tinggal menurun dari 45 menjadi 42 bangunan, sedangkan kafe meningkat dari 19 menjadi 31 bangunan. Pada periode 2020–2026, rumah tinggal menurun dari 40 menjadi 30 bangunan, sementara kafe meningkat dari 35 menjadi 58 bangunan. Temuan ini menunjukkan bahwa fungsi hunian semakin melemah dan fungsi konsumsi semakin dominan. Gejala gentrifikasi komersial pada koridor ini tidak hanya berlangsung melalui jual-beli lahan, tetapi juga melalui sewa, kerja sama pemanfaatan, dan perubahan pengguna bangunan. Dengan demikian, transformasi Jalan L.L.R.E. Martadinata merupakan proses perubahan kawasan yang melibatkan sejarah kawasan, kebijakan tata ruang, nilai ekonomi lahan, perubahan fungsi bangunan, dan tekanan komersialisasi terhadap karakter kawasan lama.