Kegiatan penambangan batu bara terbuka menyebabkan perubahan
topografi dan daerah tangkapan air yang memengaruhi besarnya inflow
serta kebutuhan sistem dewatering. Perkembangan pit juga
meningkatkan kebutuhan head pemompaan sehingga pengoperasian
pompa perlu disesuaikan dengan perubahan kondisi hidrologi,
hidrogeologi, dan kapasitas tampungan. Penelitian ini bertujuan
menganalisis karakteristik inflow air permukaan dan air tanah,
mengevaluasi kemampuan sump dan sediment pond, serta menentukan
strategi operasional pompa yang optimal pada setiap tahap
perkembangan tambang. Surface inflow dianalisis menggunakan
metode NRECA, sedangkan groundwater inflow diperoleh melalui
pemodelan numerik MODFLOW 6 dalam kondisi transient.
Sedimentasi dianalisis menggunakan metode USLE dan diperhitungkan
sebagai dead storage. Optimalisasi operasi pompa dilakukan
menggunakan Nonlinear Programming berdasarkan storage ratio,
kebutuhan energi, sisa volume, dan switching. Hasil analisis
menunjukkan bahwa total volume inflow selama FP2032 hingga
3
FP2037–2038 berkisar antara 8.95–15.05 juta m³/tahun dan semakin
didominasi oleh air permukaan. Konfigurasi terpilih menggunakan
pompa XH200-PR berkapasitas 828 m³/jam dan head 208 m, dengan
enam line paralel dan dua pompa seri pada setiap line. Maksimum
storage ratio pada seluruh tahap berada pada kisaran 0.66–0.79. Pada
FP2032, optimalisasi menurunkan kebutuhan energi dari 40.03 menjadi
13.33 GWh/tahun dan total biaya tahunan dari Rp41.61 miliar menjadi
Rp14.91 miliar, atau berkurang sekitar 64.2%. Kondisi paling kritis
terjadi pada FP2037–2038 dengan TDH sebesar 398.81 m. Kapasitas
sediment pond sebesar 1,158,066 m³ masih mencukupi, meskipun
pengendapan partikel 5 ?m menjadi kondisi yang paling kritis. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa pengendalian pompa berbasis storage
ratio dapat meningkatkan pemanfaatan kapasitas sump serta
menurunkan kebutuhan energi dan biaya tanpa melampaui batas aman
tampungan.
Perpustakaan Digital ITB