Perancangan perkotaan cenderung berfokus pada aspek fisik dan dominasi indra visual, sementara pengalaman ruang multisensori yang melibatkan keseluruhan pancaindra lainnya belum banyak diperhatikan. Pengalaman ruang multisensori ini merupakan bagian penting dalam membantu pengembangan kawasan yang responsif terhadap pengalaman ruang pengguna. Jika tidak diperhatikan dengan baik, pengalaman ruang dalam kawasan dapat menuju placelessness yang timbul akibat homogenisasi, impersonalitas, dan hilangnya makna pada lingkungan perkotaan modern. Penelitian ini dilakukan dengan bertujuan merumuskan prinsip dan kriteria perancangan berbasis pengalaman ruang multisensori di Kawasan Kota Lama Surabaya. Metode yang digunakan adalah eksplorasi melalui sensory walking yang melibatkan 29 peserta pada tujuh koridor di tiga distrik Kawasan Kota Lama Surabaya: Ampel, Eropa, dan Pecinan. Data pengalaman ruang multisensori dikumpulkan melalui pencatatan stimuli pancaindra dan respons emosional, menghasilkan 2.961 input data yang dianalisis menggunakan diagram sankey dan spider web diagram. Penelitian ini mengidentifikasi 35 stimuli multisensori yang terkategorikan ke dalam lima kelompok, yaitu aktivitas pendukung, lingkungan binaan, infrastruktur, atmosfer, dan elemen alami/hidup. Temuan menunjukkan bahwa kualitas pengalaman ruang tidak ditentukan oleh dominasi elemen visual semata, melainkan oleh kekayaan dan keseimbangan stimuli multisensori secara terpadu. Selain itu, kawasan yang berorientasi pejalan kaki, humanis, serta memiliki aktivitas ruang yang hidup secara konsisten menghasilkan pengalaman yang positif. Proses perumusan prinsip dan kriteria perancangan dilakukan berlandaskan pada temuan-temuan empiris pengalaman ruang multisensori sensory walking. Hasil rumusan tersebut adalah SPHERAL, tujuh prinsip perancangan berbasis pengalaman ruang multisensori yang meliputi Safe & Secure, Pleasant, Human-Oriented, Engaging, Rich, Attractive, dan Legible. Masing-masing prinsip dalam SPHERAL kemudian diturunkan menjadi kriteria terukur untuk diadaptasi pada praktik perancangan ruang perkotaan yang lebih responsif terhadap pengalaman ruang pengguna untuk ruang kota yang lebih kaya dan bermakna.
Perpustakaan Digital ITB