ABSTRAK Tamara Shafira Sumirat
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 1 Tamara Shafira Sumirat
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 2 Tamara Shafira Sumirat
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 3 Tamara Shafira Sumirat
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 4 Tamara Shafira Sumirat
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 5 Tamara Shafira Sumirat
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 6 Tamara Shafira Sumirat
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
PUSTAKA Tamara Shafira Sumirat
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
LAMPIRAN Tamara Shafira Sumirat
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Pertumbuhan penduduk di kawasan perkotaan yang dipicu oleh urbanisasi
meningkatkan kebutuhan terhadap lahan hunian dan penyediaan infrastruktur
dasar. Kondisi tersebut mendorong muncul serta berkembangnya permukiman
informal yang tidak sepenuhnya terlayani oleh sistem perencanaan formal. Salah
satu pelayanan dasar yang penting bagi peningkatan kualitas hidup masyarakat
adalah pendidikan, karena pendidikan berperan dalam membuka peluang
mobilitas sosial, memperkuat kapasitas sumber daya manusia, dan mengurangi
kerentanan kelompok berpenghasilan rendah. Dalam konteks pembangunan
berkelanjutan, akses pendidikan berkaitan dengan Sustainable Development
Goals (SDGs), terutama Tujuan 4 tentang pendidikan berkualitas dan Tujuan 11
tentang kota dan permukiman yang inklusif, aman, tangguh, dan berkelanjutan.
Pada tingkat nasional, penyediaan sarana pendidikan berkaitan dengan standar
pelayanan dan kelayakan sarana prasarana, melalui SNI 03-1733-2004 tentang
tata cara perencanaan lingkungan perumahan di perkotaan serta
Permendikbudristek Nomor 22 Tahun 2023 tentang standar sarana dan prasarana
pendidikan, namun pemenuhan akses pendidikan pada permukiman informal
masih menghadapi berbagai kendala yang berhubungan dengan keberadaan
fasilitas, jarak, kualitas jalur, keamanan perjalanan, dukungan sosial, dan
kemampuan ekonomi keluarga. Kampung Pelangi 200 di Kelurahan Dago,
Kecamatan Coblong, Kota Bandung merupakan salah satu permukiman informal
perkotaan yang berada pada kawasan berkontur, padat, dan memiliki
keterbatasan sarana pendidikan formal di dalam kawasan. Berdasarkan kondisi
tersebut, penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi hubungan antara
ketersediaan, distribusi, dan kualitas sarana pendidikan terhadap akses
pelayanan dasar masyarakat Kampung Pelangi 200. Penelitian ini menggunakan
pendekatan mixed methods dengan menggabungkan metode kuantitatif dan
kualitatif. Data dikumpulkan melalui observasi lapangan, penyebaran kuesioner
kepada 108 responden, wawancara dengan pengurus wilayah, komunitas, karang
taruna, dan pengajar pengajian, serta pengumpulan data sekunder berupa data
kependudukan, data sarana pendidikan, data spasial, dan DEMNAS. Selanjutnya,
data dianalisis menggunakan analisis deskriptif kuantitatif dan kualitatif, analisis
buffer untuk melihat jangkauan pelayanan sarana pendidikan, analisis topografi
iilahan berdasarkan klasifikasi lereng Van Zuidam, serta analisis tipologi untuk
menilai kualitas sarana dan tingkat akses fisik, akses sosial, dan akses ekonomi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sarana pendidikan formal yang digunakan
pelajar Kampung Pelangi 200 berada di luar kawasan, namun secara radius
pelayanan masih dapat menjangkau wilayah kampung. Meskipun demikian,
keterjangkauan berdasarkan radius belum sepenuhnya mencerminkan kemudahan
akses aktual karena jalur menuju sarana pendidikan masih dipengaruhi oleh gang
sempit, tangga, tanjakan, kontur terjal, dan kondisi jalan yang licin saat hujan.
Sarana pendidikan nonformal tersedia melalui aktivitas komunitas, namun
pelaksanaannya belum rutin dan partisipasi pelajar belum merata. Sementara itu,
sarana pendidikan informal seperti masjid dan pengajian memiliki
keterjangkauan paling baik karena berada di dalam atau dekat kawasan, berbiaya
rendah, dan terhubung dengan kehidupan masyarakat. Hambatan terbesar dalam
akses pendidikan adalah hambatan fisik, diikuti hambatan ekonomi, serta
hambatan kombinasi fisik dan ekonomi. Temuan ini menunjukkan bahwa
ketersediaan sarana pendidikan saja belum cukup untuk menjamin akses yang
setara apabila tidak didukung oleh jalur yang aman, dukungan sosial yang kuat,
dan keterjangkauan biaya bagi keluarga rentan. Penelitian ini memberikan
kontribusi terhadap ilmu perencanaan wilayah dan kota melalui pendekatan
evaluatif yang menggabungkan dimensi spasial, sosial, dan ekonomi dalam
membaca akses pendidikan pada permukiman informal.
Perpustakaan Digital ITB