PT PLN (Persero) menghadapi tantangan efisiensi persediaan dalam rantai pasok
Material Distribusi Utama (MDU). Pada tahun 2025, rasio persediaan terhadap
pendapatan mencapai 6,17%, lebih tinggi dibandingkan target berbasis benchmark
sekitar 4,0%, yang menunjukkan masih besarnya modal kerja tertahan dalam
persediaan. Penelitian ini mengidentifikasi penyebab utama inefisiensi MDU,
memilih pendekatan persediaan yang paling sesuai, dan merumuskan pendekatan
implementasi dengan tetap menjaga ketersediaan material.
Penelitian menggunakan desain mixed-method dengan menggabungkan data
transaksi dan bukti dari praktisi. Analisis kuantitatif menggunakan data Goods
Issue, Purchase Order, persediaan, lead time, dan logistik, didukung oleh
forecasting, inventory turnover, days of inventory, analisis PO-GI, dan sensitivity
analysis. Pendalaman empiris dilakukan pada UID Jawa Barat dengan pemodelan
pilot di UP3 Cikarang. Value-Focused Thinking dan Analytic Hierarchy Process
(AHP) digunakan untuk mengevaluasi Existing Replenishment, Dynamic Reorder
Point/Reorder Quantity (ROP/ROQ), dan Vendor Managed Inventory.
Hasil analisis menunjukkan dua penyebab mendasar, yaitu perencanaan material
yang belum cukup responsif terhadap konsumsi aktual dan koordinasi persediaan
logistik antarunit yang masih terbatas. Kondisi ini menyebabkan ketidaksinkronan
pengadaan dan konsumsi, pemanfaatan persediaan yang tidak merata, serta
penggunaan modal kerja yang tidak efisien. Dynamic ROP/ROQ dipilih sebagai
strategi utama dengan bobot AHP 50,01%, diikuti Vendor Managed Inventory
33,27% dan Existing Replenishment 16,73%. Pemodelan pilot menunjukkan
potensi pelepasan modal kerja sekitar Rp2,39 miliar pada material terpilih.
Penelitian merekomendasikan rolling forecast, recalibrasi safety stock dan
parameter pemesanan secara periodik, peningkatan visibilitas antarunit, serta
implementasi bertahap dengan penyesuaian parameter sesuai kondisi local.
Perpustakaan Digital ITB