digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

PT PLN (Persero) menghadapi tantangan efisiensi persediaan dalam rantai pasok Material Distribusi Utama (MDU). Pada tahun 2025, rasio persediaan terhadap pendapatan mencapai 6,17%, lebih tinggi dibandingkan target berbasis benchmark sekitar 4,0%, yang menunjukkan masih besarnya modal kerja tertahan dalam persediaan. Penelitian ini mengidentifikasi penyebab utama inefisiensi MDU, memilih pendekatan persediaan yang paling sesuai, dan merumuskan pendekatan implementasi dengan tetap menjaga ketersediaan material. Penelitian menggunakan desain mixed-method dengan menggabungkan data transaksi dan bukti dari praktisi. Analisis kuantitatif menggunakan data Goods Issue, Purchase Order, persediaan, lead time, dan logistik, didukung oleh forecasting, inventory turnover, days of inventory, analisis PO-GI, dan sensitivity analysis. Pendalaman empiris dilakukan pada UID Jawa Barat dengan pemodelan pilot di UP3 Cikarang. Value-Focused Thinking dan Analytic Hierarchy Process (AHP) digunakan untuk mengevaluasi Existing Replenishment, Dynamic Reorder Point/Reorder Quantity (ROP/ROQ), dan Vendor Managed Inventory. Hasil analisis menunjukkan dua penyebab mendasar, yaitu perencanaan material yang belum cukup responsif terhadap konsumsi aktual dan koordinasi persediaan logistik antarunit yang masih terbatas. Kondisi ini menyebabkan ketidaksinkronan pengadaan dan konsumsi, pemanfaatan persediaan yang tidak merata, serta penggunaan modal kerja yang tidak efisien. Dynamic ROP/ROQ dipilih sebagai strategi utama dengan bobot AHP 50,01%, diikuti Vendor Managed Inventory 33,27% dan Existing Replenishment 16,73%. Pemodelan pilot menunjukkan potensi pelepasan modal kerja sekitar Rp2,39 miliar pada material terpilih. Penelitian merekomendasikan rolling forecast, recalibrasi safety stock dan parameter pemesanan secara periodik, peningkatan visibilitas antarunit, serta implementasi bertahap dengan penyesuaian parameter sesuai kondisi local.