digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Adopsi kendaraan listrik di Indonesia meningkatkan pentingnya infrastruktur pengisian daya publik. PT PLN (Persero) telah memperluas jaringan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di DKI Jakarta, namun perluasannya belum menghasilkan pertumbuhan pendapatan yang proporsional. Pendapatan mencapai sekitar Rp14,59 miliar pada Januari hingga November 2025 sementara pertumbuhannya melambat dari 375% pada 2024 menjadi 16%, dengan kinerja tidak merata antarlokasi dan antarjenis charger. Penelitian ini menggunakan desain metode campuran konvergen, dengan menganalisis data operasional PLN 2021 hingga November 2025, survei 399 pengguna kendaraan listrik, serta wawancara dengan dua perwakilan PLN, satu mitra SPKLU, dan lima pengguna. Data diuji dengan tabulasi silang, uji chi-square, dan regresi linear berganda, lalu ditelaah dengan VRIO, PESTEL, Porter's Five Forces, SWOT, TOWS, dan Business Model Canvas. Ketersediaan pengisian daya di rumah berhubungan kuat dengan frekuensi pengisian publik; kota administratif tidak. Regresi lima konstruk menjelaskan 62,5% variasi niat penggunaan, dengan fasilitas pendukung dan kenyamanan sebagai koefisien terbesar. Temuan kualitatif menegaskan bahwa ketersediaan charger saja tidak menghasilkan transaksi: pendapatan bergantung pada permintaan, fungsi lokasi, durasi parkir, dan jenis charger. Penelitian ini mengusulkan portofolio SPKLU terstandar berbasis permintaan dengan dua konfigurasi. Medium Charging Hub menempatkan Standard dan Medium Charger di lokasi dengan durasi parkir lebih panjang, dan Mega Charging Hub menempatkan Fast dan Ultra-Fast Charger di lokasi berlalu lintas tinggi yang beroperasi 24 jam. Strategi ini memprioritaskan realokasi peralatan dari lokasi berproduktivitas rendah sebelum membeli unit baru, standardisasi infrastruktur menurut segmen dan fungsi lokasi, serta pemantauan utilisasi per charger.