Adopsi kendaraan listrik di Indonesia meningkatkan pentingnya infrastruktur
pengisian daya publik. PT PLN (Persero) telah memperluas jaringan Stasiun
Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di DKI Jakarta, namun perluasannya
belum menghasilkan pertumbuhan pendapatan yang proporsional. Pendapatan
mencapai sekitar Rp14,59 miliar pada Januari hingga November 2025 sementara
pertumbuhannya melambat dari 375% pada 2024 menjadi 16%, dengan kinerja
tidak merata antarlokasi dan antarjenis charger.
Penelitian ini menggunakan desain metode campuran konvergen, dengan
menganalisis data operasional PLN 2021 hingga November 2025, survei 399
pengguna kendaraan listrik, serta wawancara dengan dua perwakilan PLN, satu
mitra SPKLU, dan lima pengguna. Data diuji dengan tabulasi silang, uji chi-square,
dan regresi linear berganda, lalu ditelaah dengan VRIO, PESTEL, Porter's Five
Forces, SWOT, TOWS, dan Business Model Canvas.
Ketersediaan pengisian daya di rumah berhubungan kuat dengan frekuensi
pengisian publik; kota administratif tidak. Regresi lima konstruk menjelaskan
62,5% variasi niat penggunaan, dengan fasilitas pendukung dan kenyamanan
sebagai koefisien terbesar. Temuan kualitatif menegaskan bahwa ketersediaan
charger saja tidak menghasilkan transaksi: pendapatan bergantung pada
permintaan, fungsi lokasi, durasi parkir, dan jenis charger.
Penelitian ini mengusulkan portofolio SPKLU terstandar berbasis permintaan
dengan dua konfigurasi. Medium Charging Hub menempatkan Standard dan
Medium Charger di lokasi dengan durasi parkir lebih panjang, dan Mega Charging
Hub menempatkan Fast dan Ultra-Fast Charger di lokasi berlalu lintas tinggi yang
beroperasi 24 jam. Strategi ini memprioritaskan realokasi peralatan dari lokasi
berproduktivitas rendah sebelum membeli unit baru, standardisasi infrastruktur
menurut segmen dan fungsi lokasi, serta pemantauan utilisasi per charger.
Perpustakaan Digital ITB