Eksplorasi hidrokarbon di Cekungan Banyumas menghadapi tantangan utama berupa
keberadaan endapan vulkanik tebal di permukaan yang menghambat metode seismik
dalam pencitraan fitur geologi bawah permukaan. Penelitian ini bertujuan untuk
menganalisis dan mengevaluasi metode filter regional-residual serta filter edge detection
terpilih yang diterapkan pada data gravitasi (1.287 titik) dan magnetik (303 titik) yang
diintergrasikan melalui pemodelan (forward modeling) 2.5D untuk mendapatkan . Pada
penelitian ini sebelum diterapkan pada data lapangan, metode edge detection filter
dianalisis terlebih dahulu menggunakan model sintetik graben dan half-graben dengan
antiklin pada variasi kedalaman 0 dan 2 km. Hasil perhitungan filter regional-residual
menunjukan metode moving average dipilih sebagai filter yang digunakan dalam
pemisahan anomali karena dapat mencitrakan fitur geologi target dengan baik. Hasil uji
sintetik menunjukkan bahwa filter Softsign Function (SF) dan Fast Sigmoid Edge
Detection (FSED) memberikan respons dengan resolusi yang lebih tinggi dibandingkan
Horizontal Gradient (HG), meskipun teridentifikasi adanya pergeseran lateral respon
filter sejauh 1 km ke arah puncak anomali seiring perubahan kedalaman sumber. Pada
aplikasi data lapangan, filter SF dan FSED pada data gravitasi berhasil mendelineasi
kelurusan berarah Barat Laut-Tenggara (NW-SE), yang mengonfirmasi keberadaan
Antiklin Cipari sebagai pemisah antara Sub-cekungan Citanduy dan Majenang.
Pemodelan 2.5D yang dikalibrasi dengan data sumur Jati-1 memvalidasi geometri halfgraben serta antiklin cipari dengan kedalaman basement yang bervariasi dari 7 km dan
mengidentifikasi lapisan Eosen Deposit sebagai batuan induk potensial. Penetlitian ini
menyimpulkan bahwa integrasi data gravitasi dan magnetik dengan filter edge detection
terpilih dapat mendelineasi keberadaan struktur geologi penting dengan baik di daerah
Cekungan Banyumas.
Perpustakaan Digital ITB