digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Anggrek Dendrobium spectabile (Blume) Miq. merupakan spesies asli Indonesia yang memiliki peluang ekonomi tinggi karena bentuk bunganya yang unik. Namun spesies anggrek ini masuk dalam CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) Appendix II. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi terancam punahnya suatu spesies dapat dilakukan melalui konservasi ex situ, diantaranya melalui perbanyakan secara in vitro. Selain itu, untuk meningkatkan keragaman genetik tanaman anggrek D. spectabile yang bernilai ekonomi, dapat dilakukan pula berbagai upaya perbaikan karakter, salah satu diantaranya adalah dengan melakukan poliploidisasi menggunakan mutagen kimia kolkisin yang telah terbukti berhasil menyebabkan poliploidisasi pada beberapa spesies anggrek. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menentukan jenis eksplan dan media terbaik untuk proliferasi taruk dan pembentukan Protocorm Like Bodies (PLB), menentukan konsentrasi serta lama perendaman dalam kolkisin terbaik untuk menginduksi poliploidi, serta membandingkan keberhasilan induksi poliploidi pada eksplan taruk dan PLB Dendrobium spectabile (Blume) Miq. Eksplan taruk (pucuk) anggrek dengan jumlah daun yang berbeda yaitu 4, 5, 6 atau 7 daun ditanam pada dua jenis media Murashige and Skoog yaitu M1 (MS + NAA 0,5 ppm + kinetin 0,5 ppm) dan M2 (3/4 MS + NAA 0,5 ppm + BAP 2,0 ppm) selama 12 minggu. Pada akhir pengamatan, PLB yang terinduksi pada eksplan berdaun empat di media M1 kemudian diperbanyak dalam media Vacin and Went yaitu VGA (VW tanpa penambahan zat pengatur tumbuh) dan VGB (VW + NAA 1,0 ppm + BAP 3,0 ppm). Induksi poliploidi dilakukan dengan menggunakan eksplan taruk berdaun tiga dan PLB dengan taraf konsentrasi kolkisin yang diuji 0,1%, 0,2% dan 0,4% dengan lama perendaman 1 menit (taruk) atau 1 menit, 6, 12, 24, 48 jam (PLB). Setelah perlakuan kolkisin, eksplan taruk kemudian ditumbuhkan pada media M1 dan M2, sedangkan eksplan PLB ditumbuhkan pada media M2. Analisis keberhasilan induksi poliploidi diamati dengan menggunakan parameter morfologi (rata-rata jumlah taruk, PLB, akar, daun, planlet dan pseudobulb), anatomi (kerapatan stomata, panjang stomata, jumlah kloroplas di sel penjaga, ketebalan daun, luas daun, ketebalan epidermis abaksial dan adaksial serta diameter batang), sitologi (jumlah kromosom akar), dan analisis ploidi menggunakan Flow Cytometry. Hasil proliferasi taruk setelah 12 minggu menunjukkan bahwa eksplan berdaun tujuh yang ditanam pada media M1 menghasilkan rata-rata jumlah akar iii dan planlet tertinggi (12,45 ± 3,08 akar per rumpun dan 3,10 ± 1,37 planlet per rumpun). Rata-rata jumlah daun tertinggi diperoleh pada eksplan berdaun tujuh yang ditanam dalam media M2 (14,40 ± 2,20 daun per rumpun). Rata-rata jumlah taruk terbanyak diperoleh dari eksplan berdaun empat yang ditanam pada media M1 (20,00 ± 4,14 taruk per rumpun). Proliferasi PLB tertinggi setelah 12 minggu kultur diperoleh pada media VGA (65,62 ± 4,15 PLB per rumpun). Hasil induksi poliploidisasi menunjukan bahwa perlakuan kolkisin 0,4% pada eksplan yang kemudian ditumbuhkan pada media M1 menghasilkan rata-rata jumlah akar, planlet, pseudobulb terbanyak serta rata-rata ketebalan daun dan diameter batang tertinggi (10,26 ± 2,70 akar per rumpun, 3,30 ± 0,60 planlet per rumpun, 3,10 ± 0,80 pseudobulb per rumpun, 1.133,98 ± 10,11 ?m dan 4.137,20 ± 251,21 ?m). Namun perlakuan kolkisin 0,4% yang ditumbuhkan pada media M1 menghasilkan rata-rata panjang stomata dan jumlah kloroplas terendah (34,40 ± 2,18 ?m dan 17,00 ± 1,19 kloroplas per sel penjaga). Perlakuan kolkisin 0,2% yang ditumbuhkan pada media M1 menghasilkan rata-rata kerapatan stomata, ketebalan epidermis abaksial dan adaksial terendah (43,19 ± 3,73 stomata/mm2, 18,99 ± 1,76 ?m, dan 28,57 ± 2,93 ?m). Induksi poliploidi pada eksplan PLB belum menghasilkan akar, planlet dan pseudobulb pada semua kombinasi perlakuan kolkisin serta kontrol. Perlakuan kolkisin 0,1% lama perendaman 1 menit menghasilkan rata-rata jumlah taruk dan daun tertinggi (34,73 ± 5,20 taruk per rumpun dan 14,26 ± 1,70 daun per rumpun) sedangkan perlakuan 0,4% dengan lama perendaman 48 jam menghasilkan rata-rata jumlah taruk terendah (2,70 ± 1,54 taruk per rumpun) dan belum terbentuk daun. Hasil Flow Cytometry menunjukkan bahwa induksi poliploidi tertinggi diperoleh pada eksplan taruk miksoploid dengan persentase nuclei tetraploid tertinggi 61,20% setelah perlakuan kolkisin 0,2% yang ditumbuhkan pada media M1 dan eksplan PLB miksolpoid dengan persentase nuclei tetraploid tertinggi 65,44% setelah perlakuan kolkisin 0,4% dengan lama perendaman 48 jam serta tetraploid 100% setelah perlakuan kolkisin 0,1% dengan lama perendaman 1 menit, 6, 12, 24, dan 48 jam, perlakuan kolkisin 0,2% dengan lama perendaman 6 jam, serta perlakuan kolkisin 0,4% dengan lama perendaman 1 menit dan 12 jam. Berdasarkan hasil penelitian ini, maka dapat disimpulkan bahwa eksplan taruk berdaun empat yang ditanam pada media M1 merupakan kombinasi eksplan-media terbaik untuk proliferasi taruk, sedangkan media VGA merupakan media terbaik untuk proliferasi PLB. Induksi poliploidi berhasil dilakukan dengan diperoleh planlet miksoploid tertinggi pada eksplan taruk setelah perlakuan kolkisin 0,2% selama 1 menit yang ditanam pada media M1 serta taruk miksoploid dan tetraploid tertinggi pada eksplan PLB setelah perlakuan kolkisin 0,4% selama 48 jam (miksoploid) dan perlakuan kolkisin 0,1% selama 1 menit, 6, 12, 24, 48 jam, kolkisin 0,2% selama 6 jam, dan kolkisin 0,4% selama 1 menit dan 12 jam (tetraploid) yang ditanam pada media M2.