Anggrek Dendrobium spectabile (Blume) Miq. merupakan spesies asli Indonesia
yang memiliki peluang ekonomi tinggi karena bentuk bunganya yang unik. Namun
spesies anggrek ini masuk dalam CITES (Convention on International Trade in
Endangered Species of Wild Fauna and Flora) Appendix II. Salah satu upaya yang
dapat dilakukan untuk mengatasi terancam punahnya suatu spesies dapat dilakukan
melalui konservasi ex situ, diantaranya melalui perbanyakan secara in vitro. Selain
itu, untuk meningkatkan keragaman genetik tanaman anggrek D. spectabile yang
bernilai ekonomi, dapat dilakukan pula berbagai upaya perbaikan karakter, salah
satu diantaranya adalah dengan melakukan poliploidisasi menggunakan mutagen
kimia kolkisin yang telah terbukti berhasil menyebabkan poliploidisasi pada
beberapa spesies anggrek. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini dilakukan
dengan tujuan untuk menentukan jenis eksplan dan media terbaik untuk proliferasi
taruk dan pembentukan Protocorm Like Bodies (PLB), menentukan konsentrasi
serta lama perendaman dalam kolkisin terbaik untuk menginduksi poliploidi, serta
membandingkan keberhasilan induksi poliploidi pada eksplan taruk dan PLB
Dendrobium spectabile (Blume) Miq. Eksplan taruk (pucuk) anggrek dengan
jumlah daun yang berbeda yaitu 4, 5, 6 atau 7 daun ditanam pada dua jenis media
Murashige and Skoog yaitu M1 (MS + NAA 0,5 ppm + kinetin 0,5 ppm) dan M2
(3/4 MS + NAA 0,5 ppm + BAP 2,0 ppm) selama 12 minggu. Pada akhir
pengamatan, PLB yang terinduksi pada eksplan berdaun empat di media M1
kemudian diperbanyak dalam media Vacin and Went yaitu VGA (VW tanpa
penambahan zat pengatur tumbuh) dan VGB (VW + NAA 1,0 ppm + BAP 3,0
ppm). Induksi poliploidi dilakukan dengan menggunakan eksplan taruk berdaun
tiga dan PLB dengan taraf konsentrasi kolkisin yang diuji 0,1%, 0,2% dan 0,4%
dengan lama perendaman 1 menit (taruk) atau 1 menit, 6, 12, 24, 48 jam (PLB).
Setelah perlakuan kolkisin, eksplan taruk kemudian ditumbuhkan pada media M1
dan M2, sedangkan eksplan PLB ditumbuhkan pada media M2. Analisis
keberhasilan induksi poliploidi diamati dengan menggunakan parameter morfologi
(rata-rata jumlah taruk, PLB, akar, daun, planlet dan pseudobulb), anatomi
(kerapatan stomata, panjang stomata, jumlah kloroplas di sel penjaga, ketebalan
daun, luas daun, ketebalan epidermis abaksial dan adaksial serta diameter batang),
sitologi (jumlah kromosom akar), dan analisis ploidi menggunakan Flow
Cytometry. Hasil proliferasi taruk setelah 12 minggu menunjukkan bahwa eksplan
berdaun tujuh yang ditanam pada media M1 menghasilkan rata-rata jumlah akar
iii
dan planlet tertinggi (12,45 ± 3,08 akar per rumpun dan 3,10 ± 1,37 planlet per
rumpun). Rata-rata jumlah daun tertinggi diperoleh pada eksplan berdaun tujuh
yang ditanam dalam media M2 (14,40 ± 2,20 daun per rumpun). Rata-rata jumlah
taruk terbanyak diperoleh dari eksplan berdaun empat yang ditanam pada media
M1 (20,00 ± 4,14 taruk per rumpun). Proliferasi PLB tertinggi setelah 12 minggu
kultur diperoleh pada media VGA (65,62 ± 4,15 PLB per rumpun). Hasil induksi
poliploidisasi menunjukan bahwa perlakuan kolkisin 0,4% pada eksplan yang
kemudian ditumbuhkan pada media M1 menghasilkan rata-rata jumlah akar,
planlet, pseudobulb terbanyak serta rata-rata ketebalan daun dan diameter batang
tertinggi (10,26 ± 2,70 akar per rumpun, 3,30 ± 0,60 planlet per rumpun, 3,10 ±
0,80 pseudobulb per rumpun, 1.133,98 ± 10,11 ?m dan 4.137,20 ± 251,21 ?m).
Namun perlakuan kolkisin 0,4% yang ditumbuhkan pada media M1 menghasilkan
rata-rata panjang stomata dan jumlah kloroplas terendah (34,40 ± 2,18 ?m dan
17,00 ± 1,19 kloroplas per sel penjaga). Perlakuan kolkisin 0,2% yang ditumbuhkan
pada media M1 menghasilkan rata-rata kerapatan stomata, ketebalan epidermis
abaksial dan adaksial terendah (43,19 ± 3,73 stomata/mm2, 18,99 ± 1,76 ?m, dan
28,57 ± 2,93 ?m). Induksi poliploidi pada eksplan PLB belum menghasilkan akar,
planlet dan pseudobulb pada semua kombinasi perlakuan kolkisin serta kontrol.
Perlakuan kolkisin 0,1% lama perendaman 1 menit menghasilkan rata-rata jumlah
taruk dan daun tertinggi (34,73 ± 5,20 taruk per rumpun dan 14,26 ± 1,70 daun per
rumpun) sedangkan perlakuan 0,4% dengan lama perendaman 48 jam
menghasilkan rata-rata jumlah taruk terendah (2,70 ± 1,54 taruk per rumpun) dan
belum terbentuk daun. Hasil Flow Cytometry menunjukkan bahwa induksi
poliploidi tertinggi diperoleh pada eksplan taruk miksoploid dengan persentase
nuclei tetraploid tertinggi 61,20% setelah perlakuan kolkisin 0,2% yang
ditumbuhkan pada media M1 dan eksplan PLB miksolpoid dengan persentase
nuclei tetraploid tertinggi 65,44% setelah perlakuan kolkisin 0,4% dengan lama
perendaman 48 jam serta tetraploid 100% setelah perlakuan kolkisin 0,1% dengan
lama perendaman 1 menit, 6, 12, 24, dan 48 jam, perlakuan kolkisin 0,2% dengan
lama perendaman 6 jam, serta perlakuan kolkisin 0,4% dengan lama perendaman 1
menit dan 12 jam. Berdasarkan hasil penelitian ini, maka dapat disimpulkan bahwa
eksplan taruk berdaun empat yang ditanam pada media M1 merupakan kombinasi
eksplan-media terbaik untuk proliferasi taruk, sedangkan media VGA merupakan
media terbaik untuk proliferasi PLB. Induksi poliploidi berhasil dilakukan dengan
diperoleh planlet miksoploid tertinggi pada eksplan taruk setelah perlakuan kolkisin
0,2% selama 1 menit yang ditanam pada media M1 serta taruk miksoploid dan
tetraploid tertinggi pada eksplan PLB setelah perlakuan kolkisin 0,4% selama 48
jam (miksoploid) dan perlakuan kolkisin 0,1% selama 1 menit, 6, 12, 24, 48 jam,
kolkisin 0,2% selama 6 jam, dan kolkisin 0,4% selama 1 menit dan 12 jam
(tetraploid) yang ditanam pada media M2.
Perpustakaan Digital ITB