digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Keberadaan kampung di kawasan kota tidak hanya mencerminkan fenomena urbanisasi khas di Indonesia, tetapi juga menunjukkan bagaimana identitas tempat yang masih dipertahankan dalam proses perubahan kota. Dalam perkembangannya, hampir di setiap kota besar di Indonesia berlomba-lomba untuk memberikan nama baru kepada kampung seperti kampung unggulan, kampung tematik, dan kampung wisata. Antusiasme Pemerintah Kota ini menunjukkan model pendekatan top-down dan dilaporkan berbagai pihak merupakan sebuah program yang berisiko mengalami kegagalan dan bersifat sementara atau tidak berkelanjutan. Sebuah studi kasus Kampung Lawas Maspati Surabaya menunjukkan fenomena yang berbeda. Masyarakat kampung tersebut merancang desain dan peristiwa wisata secara swadaya di mulai dari bawah (bottom-up). Objek kajian dari penelitian ini adalah Desain dan Peristiwa Wisata yang dirancang oleh masyarakat setempat dalam sebuah rangkaian perjalanan wisata Kampung Lawas Maspati. Penelitian ini menggunakan metode analisis etnosemiotika untuk menganalisis desain dan peristiwa wisata Kampung Lawas Maspati. Terpilih sebanyak 16 unit desain dan peristiwa wisata yang dianalisis. Pertama, Desain Wisata Kampung Lawas Maspati akan dianalisis menggunakan rujukan gagasan, cara pandang, nilainilai, dan perilaku sehari-hari masyarakat setempat. Analisis ini dilakukan untuk menemukan pola-pola desain wisata Kampung Lawas Maspati. Kedua, Desain akan ditempatkan dalam sebuah peristiwa wisata yang tersusun oleh ruang, waktu, dan interaksi antar aktor. Pada tahap analisis ini peneliti mengikuti beberapa kali paket perjalanan wisata bersama rombongan wisatawan agar dapat menginterogasi kembali adegan atau peristiwa wisata yang dapat dirasakan, dialami, dan terutama ditafsirkan. Terakhir, Desain dan Peristiwa wisata yang telah dianalisis tahap sebelumnya akan di relasi kan dengan proses produksi dan negosiasi identitas Kampung dan budaya kota. Penelitian ini menemukan bahwa desain wisata bottom-up di Kampung Lawas Maspati bersumber pada gagasan, pandangan, nilai, dan praktik kehidupan sehari hari masyarakat setempat yang diwujudkan melalui praktik budaya yang disebut Laku Tata, yaitu sikap, kesadaran, dan praktik menata kehidupan sebagai dasar proses desain. Penelitian juga menunjukkan bahwa makna dalam desain wisata tidak melekat pada objek, tetapi diproduksi melalui pengalaman yang terbentuk dari hubungan antara ruang, waktu, dan interaksi sosial dalam peristiwa wisata. Selanjutnya, identitas kampung dipahami sebagai proses yang terus direproduksi melalui praktik penataan kehidupan, sehingga membentuk hubungan yang bersifat sirkular antara identitas, Laku Tata, desain wisata, peristiwa wisata, pengalaman, dan pembentukan makna. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini mengajukan Teori Laku Tata sebagai teori reproduksi identitas melalui desain wisata bottomup, yang menjelaskan bahwa identitas masyarakat menjadi sumber lahirnya praktik penataan, praktik penataan menghasilkan desain dan pengalaman wisata, sementara pengalaman tersebut mereproduksi identitas yang kemudian kembali menjadi dasar bagi praktik desain berikutnya.