Keberadaan kampung di kawasan kota tidak hanya mencerminkan fenomena
urbanisasi khas di Indonesia, tetapi juga menunjukkan bagaimana identitas tempat
yang masih dipertahankan dalam proses perubahan kota. Dalam perkembangannya,
hampir di setiap kota besar di Indonesia berlomba-lomba untuk memberikan nama
baru kepada kampung seperti kampung unggulan, kampung tematik, dan kampung
wisata. Antusiasme Pemerintah Kota ini menunjukkan model pendekatan top-down
dan dilaporkan berbagai pihak merupakan sebuah program yang berisiko
mengalami kegagalan dan bersifat sementara atau tidak berkelanjutan. Sebuah studi
kasus Kampung Lawas Maspati Surabaya menunjukkan fenomena yang berbeda.
Masyarakat kampung tersebut merancang desain dan peristiwa wisata secara
swadaya di mulai dari bawah (bottom-up). Objek kajian dari penelitian ini adalah
Desain dan Peristiwa Wisata yang dirancang oleh masyarakat setempat dalam
sebuah rangkaian perjalanan wisata Kampung Lawas Maspati.
Penelitian ini menggunakan metode analisis etnosemiotika untuk menganalisis
desain dan peristiwa wisata Kampung Lawas Maspati. Terpilih sebanyak 16 unit
desain dan peristiwa wisata yang dianalisis. Pertama, Desain Wisata Kampung
Lawas Maspati akan dianalisis menggunakan rujukan gagasan, cara pandang, nilainilai, dan perilaku sehari-hari masyarakat setempat. Analisis ini dilakukan untuk
menemukan pola-pola desain wisata Kampung Lawas Maspati. Kedua, Desain akan
ditempatkan dalam sebuah peristiwa wisata yang tersusun oleh ruang, waktu, dan
interaksi antar aktor. Pada tahap analisis ini peneliti mengikuti beberapa kali paket
perjalanan wisata bersama rombongan wisatawan agar dapat menginterogasi
kembali adegan atau peristiwa wisata yang dapat dirasakan, dialami, dan terutama
ditafsirkan. Terakhir, Desain dan Peristiwa wisata yang telah dianalisis tahap
sebelumnya akan di relasi kan dengan proses produksi dan negosiasi identitas
Kampung dan budaya kota.
Penelitian ini menemukan bahwa desain wisata bottom-up di Kampung Lawas
Maspati bersumber pada gagasan, pandangan, nilai, dan praktik kehidupan sehari
hari masyarakat setempat yang diwujudkan melalui praktik budaya yang disebut
Laku Tata, yaitu sikap, kesadaran, dan praktik menata kehidupan sebagai dasar
proses desain. Penelitian juga menunjukkan bahwa makna dalam desain wisata
tidak melekat pada objek, tetapi diproduksi melalui pengalaman yang terbentuk dari
hubungan antara ruang, waktu, dan interaksi sosial dalam peristiwa wisata.
Selanjutnya, identitas kampung dipahami sebagai proses yang terus direproduksi
melalui praktik penataan kehidupan, sehingga membentuk hubungan yang bersifat
sirkular antara identitas, Laku Tata, desain wisata, peristiwa wisata, pengalaman,
dan pembentukan makna. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini mengajukan
Teori Laku Tata sebagai teori reproduksi identitas melalui desain wisata bottomup, yang
menjelaskan bahwa identitas masyarakat menjadi sumber lahirnya praktik
penataan, praktik penataan menghasilkan desain dan pengalaman wisata, sementara
pengalaman tersebut mereproduksi identitas yang kemudian kembali menjadi dasar
bagi praktik desain berikutnya.
Perpustakaan Digital ITB